BAGIAN
KETIGA
“ Ya, kapan terakhir kali jalur kereta ini digunakan? ”
Tanya Nam Joon.
“ Apa ada orang lain yang sering mengunjungi tempat ini? ”
Tanya Taehyung juga, sambil berjalan di atas salah satu jalur besi rel kereta
tersebut, dan Jungkook menahannya agar tidak jatuh. “ Banyak sekali kontainer
yang berderet di sepanjang kedua jalur ini. ”
“ Apa kalian pernah naik ke atas salah satu kontainernya? ”
Jimin ikut-ikut bertanya.
“ Apa ada tangga untuk ke atas? Aku memikirkan bagaimana
caraku turun nanti. ” Ujar Hoseok sambil tertawa pelan.
“ Kenapa kalian berbicara seperti seorang anak kecil? ” Tanya
Seok Jin, ikut-ikutan tertawa. “ Bagaimana kalau kita berlomba lari sampai ke kontainer
biru yang berada di ujung sana itu?? ”
“ Terlalu kekanakan, Hyung. ” Gumam Yoon Gi, tapi kemudian
dia jadi orang pertama yang berlari lebih dulu.
Nam Joon segera meneriakinya, lalu menyusul
berlari bersama Hoseok dan Seok Jin.
“ Kalau aku yang berlari, kalian pasti kalah, Hyung! ”
Teriak Jungkook.
“ Bagaimana kalau kita menyusul mereka lewat atas kontainer?
”
“ Kajja! ” Teriak Jimin, lalu berlari lebih dulu.
Ia naik ke kontainer pertama yang pintunya
terbuka, lalu mengulurkan tangan untuk menarik Taehyung dan Jungkook naik.
Benar-benar seperti anak kecil, mereka bertiga memainkan adegan detektif yang
sedang menyusup lewat balkon gedung tinggi yang sempit, lalu melompat ke tangga
menuju atas kontainer tersebut sambil tertawa lebar. Mereka berlari di
sepanjang atap kontainer, melebarkan kedua lengan untuk bisa merasakan sapuan
angin, menyusul para Hyung yang sudah duduk menunggu mereka sambil berbicara
tentang hal-hal sederhana.
Jimin ingat dalam kenangan masa kecilnya,
ia pernah berlari sekencang itu dan berkhayal bahwa ia punya sepasang sayap
yang lebar dan kuat.
“ Aku bisa melihat rumahku! ” Seru Jungkook, sambil menunjuk
pada salah satu gedung perumahan tua beberapa mil dari tempat mereka, lalu
berpindah jauh ke arah kanan. “ Yang disana itu, sekolahku… ” Jungkook
mengalihkan telunjuknya lagi. “ Itu, kafe yang sering aku kunjungi. Dekat rumah
Taehyung Hyung. ”
“ Whoa… Jungkookie, apa kau bertemu seseorang disana? ”
Tanya Nam Joon, sambil memijit tengkuk Jungkook.
“ Apa ada seseorang yang kau sukai disana? ”
“ Apa kau sedang berkencan? ”
“ Apa dia satu sekolah denganmu?? Gadis yang kau kencani
itu… ”
“ T-tidak. Bukan seperti itu, Hyung… ” Jawab Jungkook
tergagap, lalu tertawa karena sedikit panik. “ Aku hanya berjalan-jalan ke kafe
itu saja. Kau tahu, seperti waktu luang untuk seorang pria. ”
“ Jangan berbicara seperti kau ini sudah berusia dua puluh
tahun atau semacamnya. ”
“ Jungkook sedang berbohong sekarang. ”
“ Lihatlah, telinganya memerah. ”
“ Tidak, Hyung… ” Bela Jungkook. “ Aku tidak sedang
berkencan dengan siapapun. ”
“ Kalau begitu, berarti ada seseorang yang kau sukai. ”
“ Kau tidak punya uang untuk membeli segelas kopi, apalagi
yang kau lakukan? Apa kau sedang hobi memandangi bokong para Noona yang bekerja
di tempat itu? ”
“ Ya, Kim Nam Joon. Jaga perkataanmu. ” Tegur Seok Jin.
“ Mianhe, Hyung. ”
“ Memangnya… Apa para pria suka memandangi bokong wanita
yang lebih tua?? ”
“ Jeon Jungkook! ” Tegur Seok Jin lagi.
***
“ Ayo! Cepat! Cepat! ” Jimin berhenti lalu menoleh, dengan
tidak sabar memanggil-manggil yang lain, yang masih tertinggal beberapa meter
di belakangnya.
Kadang-kadang, Jimin adalah pelari yang
tercepat di antara mereka bertujuh. Mungkin, karena Jimin juga selalu lebih
bersemangat dibandingkan dengan yang lain.
Yoon Gi dan Hoseok, lalu yang lainnya
satu-persatu mulai menyusul, dan Jimin kembali berlari diantara suara tawa yang
bergaung di dalam lorong tua yang menuju ke bekas tempat parkir bawah tanah
itu. Jungkook iseng melompat ke punggung Seok Jin, dan Taehyung tertawa sambil
mendorong bocah itu. Melihat Seok Jin yang hampir jatuh dengan Jungkook di
punggungnya, suara tawa yang terdengar hanya menjadi makin nyaring dan makin
bergaung saja.
Di tengah-tengah bekas area parkir yang
dituju, terdapat beberapa tumpukan barang rongsok yang sengaja dicampakkan
kesitu, termasuk beberapa sofa dan matras yang sudah berlubang-lubang di
beberapa bagiannya. Ketujuh orang yang berisik itu, segera berebut tempat duduk
di tiga sofa yang diletakkan membentuk huruf U tersebut, lalu kembali tertawa
sambil perlahan-lahan mulai menormalkan ritme napas mereka yang memburu.
“ Kau benar-benar payah, Park Jimin! ” Ejek Nam Joon.
“ Ada apa denganku?? ”
“ Kau tidak bisa melompati dinding kawat penghalang
terowongan tadi. ”
“ Itu karena dindingnya terlalu tinggi, jadi aku tidak bisa
melompatinya! ” Bela Jimin gemas.
“ Tapi, aku bisa melakukannya. ” Ujar Yoon Gi.
“ Lihatlah… Park Jimin mencari-cari alasan lagi. ”
“ Berarti kaki Jimin Hyung yang terlalu pendek. ” Sahut
Jungkook tiba-tiba dengan wajah polosnya, dan membuat tawa para Hyungnya,
kecuali Jimin, kembali pecah.
“ Tapi bukannya kaki Yoon Gi Hyung juga pendek?? ” Omel
Jimin. “ Kenapa kalian tidak mengganggunya juga?? ”
Tidak ada lagi yang mendengarkan, karena
mereka sudah sengaja mengalihkan topik pembicaraan pada hal yang lain, untuk
membuat Jimin makin merasa kesal.
“ Kau baik-baik saja? ” Tanya Yoon Gi pada Hoseok tiba-tiba.
“ Kau sudah tidak perlu menemui dokter lagi, kan? ”
“ Uh. Mm. ” Gumam Hoseok enggan. “ Bagaimana denganmu, Hyung?
”
Yoon Gi mengangkat bahu. “ Kau bisa lihat sendiri. ”
“ Apa mereka akan datang lagi? ”
“ Kalau mereka datang lagi, kita pastikan akan melawan
mereka dua kali lipat lebih buruk. ” Nam Joon merogoh-rogoh ke dalam saku-saku
celananya, lalu mendengus kecewa. “ Ah… Sialan. ”
“ Wae??? ” Tanya Seok Jin kesal. “ Kau tidak membawa
rokokmu?? Sekarang kau berniat merokok di depan Jungkook?? Kau belum berhenti
juga, ya??? ”
“ Memangnya kenapa?? Jungkook juga akan melakukannya saat
menginjak usia dua puluh, karena dia tidak punya uang, dan tidak akan mempunyai
apa-apa untuk dikerjakan. ”
Jungkook segera menggeleng dengan kedua mata yang melebar. “
Aku tidak akan melakukannya… Sungguh. ”
“ Perhatikan bicaramu, Kim Nam Joon. ” Tegur Seok Jin. “ Kau
tidak pernah bersyukur dengan pekerjaanmu, menghambur-hamburkan uang untuk
sebatang tembakau, dan kau pikir Jungkook juga akan bertingkah seperti itu. Entah
paru-paru atau otakmu yang bermasalah. ”
“ Hanya sebatang saja, dan Hyung jadi membicarakan semua
hal. Aku selalu menabung separuh dari gajiku untuk biaya Jungkook masuk ke
Universitas nanti. Apa itu tidak cukup?? ”
“ Nam Joon Hyung menabung untukku?? ” Tanya Jungkook, tapi
tidak ada yang menjawabnya.
“ Ya! Sekarang kau menghitung-hitung semua yang kau
lakukan?? ”
“ Kalian berdua, hentikanlah… ” Sela Hoseok pelan. “ Berisik
sekali. ”
“ Sekarang, kalian berdua malah bicara banyak di depan
Jungkook… ” Timpal Taehyung sambil tertawa masam, yang sedari tadi terus diam
dan hanya memperhatikan saja.
“ Akhir-akhir ini, banyak sekali yang Hyung-Hyung pikirkan.
” Gumam Jungkook, dengan raut wajah sedih. “ Sampai tidak ada lagi waktu untuk
tersenyum. ”
Yoon Gi segera merangkul bocah itu sambil
tersenyum lebar, sementara Hoseok mengusap-usap kepala Jungkook dengan lembut.
Adik kecil mereka, yang sudah mulai mengerti apa yang sedang terjadi dan
dirasakan oleh mereka. Jungkook seharusnya mengalami masa perkembangan usia
yang manis dan menyenangkan. Jatuh cinta pada seseorang saja tidak cukup, kalau
ada enam orang lain yang selalu menyeretnya ke dalam masalah dan kesedihan.
“ Aku minta maaf, Jungkookie… ” Gumam Nam Joon datar—seolah-olah
tidak ada yang terjadi, tapi mereka semua tahu bahwa begitulah cara Nam Joon
mengungkapkan perasaannya.
Jungkook dan yang lainnya tersenyum, dan
setelah Seok Jin juga ikut meminta maaf, topik pembicaraan yang berikutnya menjadi
tidak seberat seperti beberapa menit yang lalu. Kebanyakan membahas tentang
sekolah Jungkook, guru dan tugas-tugas rumahnya yang menggunung, atasan Nam
Joon yang galak, perawat cantik di rumah sakit tempat Hoseok beberapa kali
datang berkonsultasi, hingga rencana makan malam besar di rumah Seok Jin dalam
beberapa waktu ke depan.
Waktu seperti meluncur di atas papan ski,
karena rasanya mereka baru saja duduk disana saat matahari perlahan tenggelam
menyisakan bias jingga kemerahan. Sudah waktunya pulang. Seok Jin yang kebanyakan
hanya diam saja dan mendengarkan di sapanjang pembicaraan konyol mereka,
memandangi adik-adiknya itu satu persatu lalu tersenyum tipis.
“ Hyung, ada satu hal yang aku inginkan saat ini… ” Gumam
Jungkook, saat mereka bertujuh berjalan keluar meninggalkan lorong tersebut.
Suara kekanakkannya yang manja, terdengar
bergaung hingga jauh ke depan.
“ Apa itu? ” Tanya Taehyung penasaran, sementara yang
lainnya menunggu jawaban Jungkook.
“ Apa Hyung ingat lautan cahaya Yoon Gi Hyung yang pernah
kita lakukan? ”
“ Suar dan kembang api? ” Tanya Hoseok pelan, dan dibalas
dengan anggukan Jungkook.
Lautan cahaya Min Yoon Gi.
Tentu saja. Mereka bertujuh tidak ada yang
akan pernah lupa cahaya dan percikan aneka warna yang mereka lepaskan ke
langit-langit area parkir bawah tanah yang luas itu, karena mereka tidak bisa
mendapatkan langit yang cerah pada perayaan tahun baru. Malam itu, hujan memang
mengguyur dengan anggun, seolah-olah mematikan api-api perayaan bahkan sebelum semua
itu dibakar.
Yoon Gi sudah membeli dua kotak besar suar
dan kembang api secara illegal, dan akan merasa sangat kecewa kalau dua kotak
itu hanya akan diam di sudut loteng rumahnya. Jadi, dia memanfaatkan keahlian Jungkook
dalam merayu Seok Jin, agar mereka semua bisa berkumpul dan mendapatkan pesta
tahun baru mereka sendiri.
“ Pada saat berikut kita kembali kesini, aku ingin kita
melakukannya lagi, Hyung. ”
“ Kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu? ” Tanya Seok Jin.
“ Itu… ” Gumam Jungkook, menunduk sebentar untuk
mengusap-usap matanya yang berkaca-kaca. Nam Joon segera mengusap-usap kepala
Jungkook dari belakang dengan lembut. “ Saat kita melakukannya, perayaan tahun
baru dengan lautan cahaya itu, kita semua tertawa lepas sekali, seperti kita
tidak punya lubang dalam hati yang membuat perasaan kita menjadi buruk. Hanya
itu satu-satunya cara yang aku ingat bisa kita lakukan, karena aku ingin kita
merasakannya lagi. Apa Hyung semua tidak ada yang merindukan saat itu? ”
Mereka semua ingat, bagaimana mereka
berlari melewati lorong yang gelap dan dingin dengan antusias seperti seorang
anak kecil. Terkagum-kagum saat melihat cahaya suar yang merah menyala dan
menyelubungi mereka seperti kabut, tertawa terbahak dan melompat-lompat saat
melihat letusan-letusan kembang api yang saling susul-menyusul, saling
merangkul dan mengucapkan permohonan tahun baru lalu kembali tertawa. Mereka
percaya apa yang akan datang adalah hal yang baik.
Dan, bagian itu membuat mereka semua saling
menatap satu sama lain, dengan tatapan berkaca-kaca. Benar, mereka sedang ingin
tertawa lagi. Karena mereka tidak punya mesin waktu untuk mengulang saatnya,
setidaknya mereka tetap bersama saat mengulangi adegannya.
“ Arasseo, Jeon Jungkookie… ” Yoon Gi merangkul Jungkook
erat, sambil tersenyum lebar. Suaranya bergetar. “ Hyung lagi yang akan membeli
kembang api dan suarnya. ”
***