Rabu, 02 Desember 2015

FANFICTION/BANGTAN/I Need U - If I Had Time Machine, I Will Bring You All Back//Part Three


BAGIAN KETIGA
“ Ya, kapan terakhir kali jalur kereta ini digunakan? ” Tanya Nam Joon.
“ Apa ada orang lain yang sering mengunjungi tempat ini? ” Tanya Taehyung juga, sambil berjalan di atas salah satu jalur besi rel kereta tersebut, dan Jungkook menahannya agar tidak jatuh. “ Banyak sekali kontainer yang berderet di sepanjang kedua jalur ini. ”
“ Apa kalian pernah naik ke atas salah satu kontainernya? ” Jimin ikut-ikut bertanya.
“ Apa ada tangga untuk ke atas? Aku memikirkan bagaimana caraku turun nanti. ” Ujar Hoseok sambil tertawa pelan.
“ Kenapa kalian berbicara seperti seorang anak kecil? ” Tanya Seok Jin, ikut-ikutan tertawa. “ Bagaimana kalau kita berlomba lari sampai ke kontainer biru yang berada di ujung sana itu?? ”
“ Terlalu kekanakan, Hyung. ” Gumam Yoon Gi, tapi kemudian dia jadi orang pertama yang berlari lebih dulu.
Nam Joon segera meneriakinya, lalu menyusul berlari bersama Hoseok dan Seok Jin.
“ Kalau aku yang berlari, kalian pasti kalah, Hyung! ” Teriak Jungkook.
“ Bagaimana kalau kita menyusul mereka lewat atas kontainer? ”
“ Kajja! ” Teriak Jimin, lalu berlari lebih dulu.
Ia naik ke kontainer pertama yang pintunya terbuka, lalu mengulurkan tangan untuk menarik Taehyung dan Jungkook naik. Benar-benar seperti anak kecil, mereka bertiga memainkan adegan detektif yang sedang menyusup lewat balkon gedung tinggi yang sempit, lalu melompat ke tangga menuju atas kontainer tersebut sambil tertawa lebar. Mereka berlari di sepanjang atap kontainer, melebarkan kedua lengan untuk bisa merasakan sapuan angin, menyusul para Hyung yang sudah duduk menunggu mereka sambil berbicara tentang hal-hal sederhana.
Jimin ingat dalam kenangan masa kecilnya, ia pernah berlari sekencang itu dan berkhayal bahwa ia punya sepasang sayap yang lebar dan kuat.
“ Aku bisa melihat rumahku! ” Seru Jungkook, sambil menunjuk pada salah satu gedung perumahan tua beberapa mil dari tempat mereka, lalu berpindah jauh ke arah kanan. “ Yang disana itu, sekolahku… ” Jungkook mengalihkan telunjuknya lagi. “ Itu, kafe yang sering aku kunjungi. Dekat rumah Taehyung Hyung. ”
“ Whoa… Jungkookie, apa kau bertemu seseorang disana? ” Tanya Nam Joon, sambil memijit tengkuk Jungkook.
“ Apa ada seseorang yang kau sukai disana? ”
“ Apa kau sedang berkencan? ”
“ Apa dia satu sekolah denganmu?? Gadis yang kau kencani itu… ”
“ T-tidak. Bukan seperti itu, Hyung… ” Jawab Jungkook tergagap, lalu tertawa karena sedikit panik. “ Aku hanya berjalan-jalan ke kafe itu saja. Kau tahu, seperti waktu luang untuk seorang pria. ”
“ Jangan berbicara seperti kau ini sudah berusia dua puluh tahun atau semacamnya. ”
“ Jungkook sedang berbohong sekarang. ”
“ Lihatlah, telinganya memerah. ”
“ Tidak, Hyung… ” Bela Jungkook. “ Aku tidak sedang berkencan dengan siapapun. ”
“ Kalau begitu, berarti ada seseorang yang kau sukai. ”
“ Kau tidak punya uang untuk membeli segelas kopi, apalagi yang kau lakukan? Apa kau sedang hobi memandangi bokong para Noona yang bekerja di tempat itu? ”
“ Ya, Kim Nam Joon. Jaga perkataanmu. ” Tegur Seok Jin.
“ Mianhe, Hyung. ”
“ Memangnya… Apa para pria suka memandangi bokong wanita yang lebih tua?? ”
“ Jeon Jungkook! ” Tegur Seok Jin lagi.
***
“ Ayo! Cepat! Cepat! ” Jimin berhenti lalu menoleh, dengan tidak sabar memanggil-manggil yang lain, yang masih tertinggal beberapa meter di belakangnya.
Kadang-kadang, Jimin adalah pelari yang tercepat di antara mereka bertujuh. Mungkin, karena Jimin juga selalu lebih bersemangat dibandingkan dengan yang lain.
Yoon Gi dan Hoseok, lalu yang lainnya satu-persatu mulai menyusul, dan Jimin kembali berlari diantara suara tawa yang bergaung di dalam lorong tua yang menuju ke bekas tempat parkir bawah tanah itu. Jungkook iseng melompat ke punggung Seok Jin, dan Taehyung tertawa sambil mendorong bocah itu. Melihat Seok Jin yang hampir jatuh dengan Jungkook di punggungnya, suara tawa yang terdengar hanya menjadi makin nyaring dan makin bergaung saja.
Di tengah-tengah bekas area parkir yang dituju, terdapat beberapa tumpukan barang rongsok yang sengaja dicampakkan kesitu, termasuk beberapa sofa dan matras yang sudah berlubang-lubang di beberapa bagiannya. Ketujuh orang yang berisik itu, segera berebut tempat duduk di tiga sofa yang diletakkan membentuk huruf U tersebut, lalu kembali tertawa sambil perlahan-lahan mulai menormalkan ritme napas mereka yang memburu.
“ Kau benar-benar payah, Park Jimin! ” Ejek Nam Joon.
“ Ada apa denganku?? ”
“ Kau tidak bisa melompati dinding kawat penghalang terowongan tadi. ”
“ Itu karena dindingnya terlalu tinggi, jadi aku tidak bisa melompatinya! ” Bela Jimin gemas.
“ Tapi, aku bisa melakukannya. ” Ujar Yoon Gi.
“ Lihatlah… Park Jimin mencari-cari alasan lagi. ”
“ Berarti kaki Jimin Hyung yang terlalu pendek. ” Sahut Jungkook tiba-tiba dengan wajah polosnya, dan membuat tawa para Hyungnya, kecuali Jimin, kembali pecah.
“ Tapi bukannya kaki Yoon Gi Hyung juga pendek?? ” Omel Jimin. “ Kenapa kalian tidak mengganggunya juga?? ”
Tidak ada lagi yang mendengarkan, karena mereka sudah sengaja mengalihkan topik pembicaraan pada hal yang lain, untuk membuat Jimin makin merasa kesal.
“ Kau baik-baik saja? ” Tanya Yoon Gi pada Hoseok tiba-tiba. “ Kau sudah tidak perlu menemui dokter lagi, kan? ”
“ Uh. Mm. ” Gumam Hoseok enggan. “ Bagaimana denganmu, Hyung? ”
Yoon Gi mengangkat bahu. “ Kau bisa lihat sendiri. ”
“ Apa mereka akan datang lagi? ”
“ Kalau mereka datang lagi, kita pastikan akan melawan mereka dua kali lipat lebih buruk. ” Nam Joon merogoh-rogoh ke dalam saku-saku celananya, lalu mendengus kecewa. “ Ah… Sialan. ”
“ Wae??? ” Tanya Seok Jin kesal. “ Kau tidak membawa rokokmu?? Sekarang kau berniat merokok di depan Jungkook?? Kau belum berhenti juga, ya??? ”
“ Memangnya kenapa?? Jungkook juga akan melakukannya saat menginjak usia dua puluh, karena dia tidak punya uang, dan tidak akan mempunyai apa-apa untuk dikerjakan. ”
Jungkook segera menggeleng dengan kedua mata yang melebar. “ Aku tidak akan melakukannya… Sungguh. ”
“ Perhatikan bicaramu, Kim Nam Joon. ” Tegur Seok Jin. “ Kau tidak pernah bersyukur dengan pekerjaanmu, menghambur-hamburkan uang untuk sebatang tembakau, dan kau pikir Jungkook juga akan bertingkah seperti itu. Entah paru-paru atau otakmu yang bermasalah. ”
“ Hanya sebatang saja, dan Hyung jadi membicarakan semua hal. Aku selalu menabung separuh dari gajiku untuk biaya Jungkook masuk ke Universitas nanti. Apa itu tidak cukup?? ”
“ Nam Joon Hyung menabung untukku?? ” Tanya Jungkook, tapi tidak ada yang menjawabnya.
“ Ya! Sekarang kau menghitung-hitung semua yang kau lakukan?? ”
“ Kalian berdua, hentikanlah… ” Sela Hoseok pelan. “ Berisik sekali. ”
“ Sekarang, kalian berdua malah bicara banyak di depan Jungkook… ” Timpal Taehyung sambil tertawa masam, yang sedari tadi terus diam dan hanya memperhatikan saja.
“ Akhir-akhir ini, banyak sekali yang Hyung-Hyung pikirkan. ” Gumam Jungkook, dengan raut wajah sedih. “ Sampai tidak ada lagi waktu untuk tersenyum. ”
Yoon Gi segera merangkul bocah itu sambil tersenyum lebar, sementara Hoseok mengusap-usap kepala Jungkook dengan lembut. Adik kecil mereka, yang sudah mulai mengerti apa yang sedang terjadi dan dirasakan oleh mereka. Jungkook seharusnya mengalami masa perkembangan usia yang manis dan menyenangkan. Jatuh cinta pada seseorang saja tidak cukup, kalau ada enam orang lain yang selalu menyeretnya ke dalam masalah dan kesedihan.
“ Aku minta maaf, Jungkookie… ” Gumam Nam Joon datar—seolah-olah tidak ada yang terjadi, tapi mereka semua tahu bahwa begitulah cara Nam Joon mengungkapkan perasaannya.
Jungkook dan yang lainnya tersenyum, dan setelah Seok Jin juga ikut meminta maaf, topik pembicaraan yang berikutnya menjadi tidak seberat seperti beberapa menit yang lalu. Kebanyakan membahas tentang sekolah Jungkook, guru dan tugas-tugas rumahnya yang menggunung, atasan Nam Joon yang galak, perawat cantik di rumah sakit tempat Hoseok beberapa kali datang berkonsultasi, hingga rencana makan malam besar di rumah Seok Jin dalam beberapa waktu ke depan.
Waktu seperti meluncur di atas papan ski, karena rasanya mereka baru saja duduk disana saat matahari perlahan tenggelam menyisakan bias jingga kemerahan. Sudah waktunya pulang. Seok Jin yang kebanyakan hanya diam saja dan mendengarkan di sapanjang pembicaraan konyol mereka, memandangi adik-adiknya itu satu persatu lalu tersenyum tipis.
“ Hyung, ada satu hal yang aku inginkan saat ini… ” Gumam Jungkook, saat mereka bertujuh berjalan keluar meninggalkan lorong tersebut.
Suara kekanakkannya yang manja, terdengar bergaung hingga jauh ke depan.
“ Apa itu? ” Tanya Taehyung penasaran, sementara yang lainnya menunggu jawaban Jungkook.
“ Apa Hyung ingat lautan cahaya Yoon Gi Hyung yang pernah kita lakukan? ”
“ Suar dan kembang api? ” Tanya Hoseok pelan, dan dibalas dengan anggukan Jungkook.
Lautan cahaya Min Yoon Gi.
Tentu saja. Mereka bertujuh tidak ada yang akan pernah lupa cahaya dan percikan aneka warna yang mereka lepaskan ke langit-langit area parkir bawah tanah yang luas itu, karena mereka tidak bisa mendapatkan langit yang cerah pada perayaan tahun baru. Malam itu, hujan memang mengguyur dengan anggun, seolah-olah mematikan api-api perayaan bahkan sebelum semua itu dibakar.
Yoon Gi sudah membeli dua kotak besar suar dan kembang api secara illegal, dan akan merasa sangat kecewa kalau dua kotak itu hanya akan diam di sudut loteng rumahnya. Jadi, dia memanfaatkan keahlian Jungkook dalam merayu Seok Jin, agar mereka semua bisa berkumpul dan mendapatkan pesta tahun baru mereka sendiri.
“ Pada saat berikut kita kembali kesini, aku ingin kita melakukannya lagi, Hyung. ”
“ Kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu? ” Tanya Seok Jin.
“ Itu… ” Gumam Jungkook, menunduk sebentar untuk mengusap-usap matanya yang berkaca-kaca. Nam Joon segera mengusap-usap kepala Jungkook dari belakang dengan lembut. “ Saat kita melakukannya, perayaan tahun baru dengan lautan cahaya itu, kita semua tertawa lepas sekali, seperti kita tidak punya lubang dalam hati yang membuat perasaan kita menjadi buruk. Hanya itu satu-satunya cara yang aku ingat bisa kita lakukan, karena aku ingin kita merasakannya lagi. Apa Hyung semua tidak ada yang merindukan saat itu? ”
Mereka semua ingat, bagaimana mereka berlari melewati lorong yang gelap dan dingin dengan antusias seperti seorang anak kecil. Terkagum-kagum saat melihat cahaya suar yang merah menyala dan menyelubungi mereka seperti kabut, tertawa terbahak dan melompat-lompat saat melihat letusan-letusan kembang api yang saling susul-menyusul, saling merangkul dan mengucapkan permohonan tahun baru lalu kembali tertawa. Mereka percaya apa yang akan datang adalah hal yang baik.
Dan, bagian itu membuat mereka semua saling menatap satu sama lain, dengan tatapan berkaca-kaca. Benar, mereka sedang ingin tertawa lagi. Karena mereka tidak punya mesin waktu untuk mengulang saatnya, setidaknya mereka tetap bersama saat mengulangi adegannya.
“ Arasseo, Jeon Jungkookie… ” Yoon Gi merangkul Jungkook erat, sambil tersenyum lebar. Suaranya bergetar. “ Hyung lagi yang akan membeli kembang api dan suarnya. ” 
***