Sabtu, 23 Mei 2015

FANFICTION/BANGTAN/I Need U - If I Had Time Machine, I Will Bring You All Back//Part Two



BAGIAN KEDUA
“ Hyung!! ” Jeon Jungkook langsung melompat ke sisi Yoon Gi di sofa begitu ia tiba, dan bergelayut manja dengan mata yang berbinar-binar. Seperti seekor anak anjing yang bertemu dengan majikannya.
Tingkah Jungkook itu menimbulkan keributan bagi kelima Hyungnya yang lain, sementara Yoon Gi hanya tersenyum lebar dan balas merangkul pundak bocah itu dengan erat.
“ Hyung, apa kau baik-baik saja? Setelah Hyung pindah, Seok Jin Hyung bilang kita tidak boleh menemui Hyung dulu… Apa terjadi sesuatu? ”
“ Nde. Aku hanya sedikit sakit, dan Seok Jin Hyung khawatir aku mungkin bisa menularkannya padamu. Sekarang aku sudah merasa sehat kembali, Jungkook-ah… ” Ujar Yoon Gi berbohong.
Jimin yang duduk di lantai dekat sofa menendang-nendang betis Jungkook, dan memasang wajah imut dengan pipi besar dan mata sipitnya itu. Jungkook sudah tertawa lebih dulu, bahkan sebelum Jimin mengatakan apa-apa. Nam Joon hanya menggeleng-geleng, tidak akan pernah terbiasa dengan seseorang yang selalu bertingkah imut seperti Jimin. Tampak menggelikan dan memalukan.
“ Jungkookie, apa kau hanya mengkhawatirkan Yoon Gi Hyung saja? ”
“ Mwoya, Hyung?? Kau menemuiku di sekolah kemarin, kan?? Hyung bertingkah, seolah-olah kita sudah lama tidak bertemu… ”
Jimin mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, bertingkah seperti hendak memukul Jungkook yang menyebabkan tawa Hoseok, Nam Joon, Jungkook dan Yoon Gi pecah. Jimin memang selalu menjadi sasaran empuk candaan konyol Hyung dan Dongsaengnya saat mereka berkumpul. Jimin selalu berkata ia tampan dan memiliki tubuh yang bagus, tapi masalah tinggi badan seperti memberikan nilai minus pada semua kelebihan yang ia miliki.
“ Bocah tengik ini… ”
“ Ya, Park Jimin! ” Teriak Seok Jin dari dapur apartemen, sambil sibuk menyiapkan bumbu untuk supnya. “ Jangan menggunakan kata itu di depan Jungkook. Lebih baik sekarang kau kemari dan bantu aku mencuci sayur-sayuran ini! ”
“ Aku lagi?? ” Keluh Jimin. Tapi pada akhirnya, dia berdiri juga dan pergi ke dapur dengan terpaksa. “ Apa aku satu-satunya di ruangan ini yang bisa mencuci sayur?? ”
“ Ngomong-ngomong, ada apa dengan Taehyung Hyung? Dia tidak mengatakan apa-apa sejak tadi, dan hanya tertawa saja… ” Ujar Jungkook sambil melepaskan rangkulannya dari lengan Yoon Gi, lalu membuka jas sekolah dan kaos kaki merahnya. Melemparkannya bersama dengan tas sekolahnya, ke kasur tidak jauh di belakang mereka.
Taehyung yang duduk di kursi seberang sofa hanya tersenyum, sambil mengusap-usap pipi kirinya pelan.
“ Dia mendapat sebuah pukulan lagi. ” Ujar Nam Joon, terdengar sedikit bersemangat seperti sedang menceritakan adegan sebuah film favorit yang ia tonton. “ Aku sudah pernah memberitahunya, Taehyung-ah, mungkin kau bisa mengikuti kelas tinju atau taekwondo selama enam bulan, lalu kembali dengan memberi sebuah pukulan di perut untuk Hyung brengsek itu sebagai hadiah. ”
“ Kim Nam Joon! Jaga kata-katamu di depan Jungkook! ” Teriak Seok Jin dari arah dapur, yang disambung dengan suara tertawa Jimin yang khas. “ Kemari dan bawa panci ini ke ruang tengah! ”
“ Ugh. ” Nam Joon bangkit dengan kesal, dan segera menuju ke dapur.
“ Whoa… Jadi, apa Taehyung Hyung akan melakukannya seperti perkataan Nam Joon Hyung? ”
Hoseok menggeleng. “ Aniya. Dia tidak mau. Padahal, aku kenal seseorang yang membuka kelas untuk latihan singkat seperti itu. ”
“ Lengannya kurus dan kecil. ” Timpal Yoon Gi. “ Atau, Jungkook-ah, kau yang mau melakukannya untuk Taehyung? Berlatih tinju, dan menghajar pacar Noonanya… ”
“ Benarkah?? Benar?? Apa aku boleh melakukannya?? ”
Jungkook memperhatikan ketiga Hyungnya bergantian, mencaritahu apa mereka serius atau tidak. Bukan karena ia ingin menghajar orang, tapi bisa berlatih tinju terdengar keren. Dia akan jadi punya sesuatu, untuk dibanggakan di depan Ji Ah. Senyum Jungkook bahkan sudah melebar, hanya dengan membayangkannya saja.
“ Mwoyaaa… ” Omel Taehyung. “ Kau tidak boleh memukul pacar Noonaku. Badannya besar, dan dia bisa memukulmu balik dengan cepat… ”
Jungkook segera memamerkan salah satu lengannya, dan mengomel tentang ia bisa melatih lengannya menjadi lebih besar jika benar-benar mengikuti kelas tinju kilat itu, saat Seok Jin keluar membawa alat-alat makan dan menjitak kepala Jungkook dengan senang hati.
“ Ya! Apa kalian masih membicarakan tentang kekerasan di depan Jungkook?? ”
“ Harum sekali! ” Yoon Gi segera berdiri, dan menghampiri Jimin yang keluar membawa panci besar yang berisi sup kepiting itu.
Yang lain segera ikut menghampiri Jimin, untuk menghindari omelan Seok Jin.
“ Ya! Dengarkan saat aku sedang bicara… ” Keluh Seok Jin.
Kerumunan yang mengelilingi Jimin segera bubar dan dengan cepat duduk membentuk lingkaran yang teratur, saat Nam Joon datang dengan wadah penanak nasinya. Seok Jin mengalah, dan segera ikut duduk sambil berdecak heran. Tanpa menunggu diberi aba-aba, ketujuh namja itu segera mengambil bagian mereka dan makan dengan lahap. Kadang-kadang Seok Jin memasak sesuatu yang terasa aneh, yang hanya bisa dikonsumsi oleh Jimin, Taehyung, dan Jungkook. Mungkin karena Seok Jin baru kali ini lagi memasak untuk mereka yang selalu makan dengan tidak teratur, atau mungkin sup kepiting itu memang benar-benar enak.
“ Whoa! Masakan Seok Jin Hyung memang yang terlezat di dunia… ” Ujar Jungkook dengan senyum lebar dan mata berbinarnya, sambil kembali menyendokkan nasi ke dalam mangkuknya yang sudah kosong. “ Di rumah, aku bahkan tidak punya piring, karena sudah dipecahkan oleh Eomma. ”
Hoseok tersenyum mendengarnya, dan menaruh sepotong kecil tahu ke atas gunung nasi Jungkook. Diantara mereka bertujuh, nafsu makan Jungkook memang yang paling besar.
“ Makanlah yang banyak, Uri Jungkookie… ”
“ Bersyukurlah kita punya Seok Jin Hyung. ” Gumam Nam Joon. “ Kalau tidak, kita sudah lama mati karena kelaparan di luar sana. ”
“ Bagaimana kalau waktu itu, kita tidak bertemu dengan Seok Jin Hyung?? Kira-kira bagaimana hidup kita sekarang?? ” Tanya Hoseok dengan serius, membuat yang lainnya terdiam dan memikirkan pertanyaan namja itu.
Benar juga. Mereka punya cerita masing-masing hingga bisa bertemu dengan Seok Jin, tapi punya alasan yang sama kenapa hubungan persahabatan mereka begitu kuat melebihi ikatan antara seorang kakak dan adik. Seok Jin bahkan lebih baik, daripada sosok ibu yang tidak pernah mereka rasakan secara nyata sejak kecil. Seok Jin membuka mata mereka, membuat mereka sadar kalau mereka punya alasan untuk hidup dan tersenyum seperti orang lainnya. Pada akhirnya, mereka menjadi merasa saling memiliki dan menguatkan satu sama lain.
“ Apa yang kalian bicarakan? ” Tanya Seok Jin, memecah keheningan yang tidak ia sukai itu. “ Itu adalah takdir. Kita tidak akan pernah bisa menebak alasannya dengan tepat, karena takdir sudah dibuat bahkan sebelum kita lahir. Jangan membicarakannya lagi, dan lanjutkan saja makan kalian. ”
Keenam namja itu mengiyakan perkataan Seok Jin, dan melanjutkan makan sambil menceritakan hal-hal yang sepele saja sambil sesekali tertawa. Seok Jin memandangi mereka satu-persatu, dan berpikir bahwa sebelum kedua orang tuanya meninggal, Tuhan sudah membuatkannya lagi satu keluarga baru dan Seok Jin akan menjaga mereka bahkan jika itu harus dengan menukar hidupnya.
“ Min Yoon Gi!! Buka Pintunya!! Min Yoon Gi!!!! ”
Suara teriakan yang disusul gedoran pintu yang tergesa-gesa itu, mengejutkan semua yang berada di dalam apartemen. Tapi, kemudian Yoon Gi sadar, siapa yang sudah datang dan mengacaukan suasana malam ini. Apa orang-orang di luar itu tidak bisa pergi saja ke penjara dan menghajar ayahnya?? Kenapa harus Yoon Gi yang mereka incar?
“ Jangan dibuka, Hyung… ” Desis Jungkook takut, saat Nam Joon berdiri untuk berjalan ke arah pintu.
“ Ne, jangan dibuka. ” Timpal Jimin. Ikut merasa khawatir.
Yoon Gi yang gantian berdiri, dan berjalan melewati yang lain sambil menguatkan dirinya sendiri. Apa gunanya merasa takut pada saat seperti ini? Tapi, Yoon Gi kelewat sibuk berpikir untuk tidak bertindak seperti seorang pengecut, sehingga lengah dan sebuah pukulan yang mendarat di ulu hatinya saat ia membuka pintu membuatnya tersungkur dengan mudahnya. Taehyung segera menarik Jungkook masuk ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi, sementara yang lainnya menghadang tiga orang preman bertubuh besar yang menerobos masuk itu, tapi mereka kalah dalam hal tenaga.
Suara pecahan dan benda dari kayu yang menghantam lantai, segera terdengar saling susul-menyusul—para preman itu segera mengacak-acak seisi apartemen Yoon Gi. Jimin bahkan terluka karena terkena serpihan patahan kayu dari meja yang dipukulkan ke dinding, saat masih mencoba sekali lagi untuk menahan amukan mereka.
Preman pertama yang memukul Yoon Gi tadi, kali ini menendang perut namja yang masih tergeletak itu sekali lagi, sebelum mereka semua berhenti mengamuk dan berjalan ke ambang pintu.
“ Jika kau tidak segera mengembalikan uang yang sudah dipinjam oleh ayahmu, kami akan membuatnya berkali-kali lipat lebih buruk daripada ini. Kau mengerti???? ”
Suara pintu yang dibanting menutup dengan kasar, seolah-olah mengakhiri serangan mendadak yang brutal itu. Seperti sudah menahan napas untuk waktu yang lama, ketegangan itu perlahan-lahan mengendur. Tapi, kelegaan yang terasa segera berganti dengan kesadaran bahwa ada yang terluka. Nam Joon dan Seok Jin segera menghampiri Yoon Gi dan membantunya berdiri, sedangkah Jimin segera menghampiri Hoseok yang duduk meringkuk di balik sofa sedari tadi dengan raut wajah pucat dan dibanjiri keringat dingin itu. Taehyung dan Jungkook segera keluar, dan panik melihat keadaan di depan mata mereka itu.
“ Taehyung-ah, cepat kau antar pulang Jungkook sekarang, ne… ” Perintah Seok Jin sebelum kedua bocah itu sempat bertanya, dan segera diiyakan oleh Taehyung.
“ Aku akan mengantar pulang Hoseok Hyung. ” Gumam Jimin, sambil membantu Hoseok berdiri.
Seok Jin merogoh ke dalam saku celananya, menyerahkan kunci mobil kepada Nam Joon, lalu gantian memapah Yoon Gi.
“ Antar Hoseok dan Jimin pulang. Pastikan Jimin mengobati lukanya, lalu segera kembali kesini. ”
“ Nde, Hyung. ”
Seok Jin membantu Yoon Gi berjalan masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan namja itu dengan hati-hati, sementara Yoon Gi sendiri meringis kesakitan sambil meremas perutnya. Yoon Gi pernah menjalani operasi setahun yang lalu, dan Seok Jin khawatir jika pukulan dan tendangan yang diterima Yoon Gi tadi mengenai bekas operasinya. Mau tidak mau, Seok Jin kembali membayangkan adegan tadi itu, dengan perasaan sedih dan bersalah yang makin memenuhi pikirannya. Ia terlalu lemah untuk melawan dan membela Yoon Gi.
Tapi Seok Jin tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menghela napas panjang saja. Seok Jin tidak tahu, apakah saat ini Yoon Gi akan merasa lebih baik kalau Seok Jin mengkhawatirkan tentang bekas operasi itu atau tidak. Sejak awal Yoon Gi memang tidak mau ada yang membahas tentang bekas operasi itu, tempat dimana ayahnya membuat tanda yang tidak akan pernah Yoon Gi lupakan pada bagian terakhir ingatan tentang masa bahagia dalam hidup keluarganya.
“ Sejak kapan mereka mengejarmu? ”
“ Hyung tidak perlu tahu. ”
Seok Jin tidak mau mengalah. “ Berapa banyak yang ayahmu pinjam? ”
Yoon Gi memaksakan bangkit untuk duduk, lalu tersenyum sinis. Mengabaikan denyut sakit pada ulu hatinya, yang sekarang membuatnya merasa mual. Sakitnya terasa dua kali lipat lebih buruk sekarang, bahkan pada saat tendangan itu hanya beberapa senti di atas bekas lukanya itu.
“ Kalau aku sudah memberitahu Hyung berapa jumlahnya, lalu apa? ”
“ Yoon Gi-ya… ”
Yoon Gi menggeleng. “ Tidak. Aku tidak akan menyeret siapapun kedalam masalah ini, apalagi jika nanti sampai ada yang terluka. Aku ingin menjadi Yoon Gi yang keren, yang tidak membahayakan keluarga yang berada di dekatnya. ”
“ Kau berpikir terlalu berat. Kalau kami bisa membantumu, kenapa tidak? ”
“ Tolong jangan mendebatku. ”
Seok Jin menghela napas kalah, dan segera berdiri. “ Baiklah. Bagaimanapun, kau tidak mau kami melakukan sesuatu untukmu. ”
“ Mianhe, Hyung. ”
“ Aku akan membuatkanmu segelas teh. Tunggu saja dengan tenang, dan jangan pikirkan apa-apa tentang apartemenmu, ne? Aku yang akan membereskannya. ”
“ Hyung… ” Panggil Yoon Gi pelan, saat Seok Jin berbalik hendak meninggalkan kamar. “ Apa mereka… Orang-orang sialan tadi, mau memastikan akan membunuhku lain kali? ”
***
“ Taehyung-Ssi… ”
Suara panggilan itu, mengalihkan perhatian Taehyung yang sedang mencari-cari anak kunci di bawah deretan papan rak pot teras depan flat tempat tinggalnya. Bukan pot-pot yang ditanami bunga yang cantik, dengan kelopak berwarna putih ataupun merah jambu. Bagi Taehyung, itu hanyalah akar dan batang kering yang mati karena berani tumbuh dan menancap di dalam wadah bertanah minus kandungan air itu.
Tidak pernah ada yang sempat untuk menyirami, atau memberinya pupuk saat sore hari tiba. Kakaknya terlalu sibuk merokok di dalam studio musik pengap milik pacar temperamentalnya sejak pagi hingga sore, dan menangis karena dipukuli saat mereka berada di dalam flat ini untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak penting atau bahkan saat kakaknya hanya sendirian saja.
Pemikiran Taehyung kembali lagi pada saat sekarang, karena yeoja asing di hadapannya itu baru saja memanggil namanya sekali lagi.
“ Oh… Bagaimana kau tahu namaku? ”
“ Apa…Taehyung-Ssi lupa padaku? ”
Lupa? Memangnya Taehyung mengenalnya sebelum ini? Taehyung sedang tidak ingin berpikir keras, jadi ia hanya berpikir untuk mendapatkan jawaban cepatnya dengan menggeleng pelan. Yeoja asing itu tampak tersenyum tipis, dengan raut wajah yang menyiratkan kekecewaan. Tadi, ia sempat berharap Taehyung akan langsung tersenyum lebar, karena mengenalinya.
“ Apa Taehyung-Ssi benar-benar tidak ingat? Aku yang mengompres memar Taehyung-Ssi kemarin malam… Han Ji Ah. Si tetangga baru. ”
Oh. Taehyung jadi ingat sekarang.
“ Ah, si tetangga baru?? Mian. Aku sedang kelelahan, jadi tidak ingat hal yang lain. ”
Han Ji Ah tampak tersenyum tipis sekali lagi, tapi kali ini karena merasa lucu dengan jawaban Taehyung.
“ Nde. Tidak apa-apa. ”
“ Ada apa memanggilku? ” Tanya Taehyung, mengingatkan kembali alasan kenapa Ji Ah mau menunggunya selama dua jam di depan pintu flat pada malam yang dingin.
“ Ah. Itu… Kakak Taehyung-Ssi, Tae Hee Eonni, dia berada di flatku. Dia pulang dalam keadaan mabuk berat dan tidak bisa menemukan kunci flat kalian, jadi aku memutuskan untuk membawanya masuk ke tempatku dulu sampai Taehyung-Ssi pulang. Dia bilang, kuncinya dibawa oleh Taehyung-Ssi. ”
Taehyung menghela napas berat. Seperti masalah hari ini belum cukup juga untuknya. Ia segera menundukkan kepala sebentar untuk meminta maaf, pada yeoja mungil tetangga barunya itu.
“ Gomawo, Ji Ah-ya. Aku akan membawa Noonaku kembali sekarang. ”
“ Itu, ” Gumam Ji Ah lagi, menahan langkah maju Taehyung. Ia tidak bisa berkonsentrasi, saat Taehyung memanggil namanya seolah-olah mereka sudah menjadi teman dekat. “ Tae Hee Eonni tampak kelelahan. Karena ia sudah tertidur pulas, dan bisa saja terbangun tengah malam nanti karena lapar, mungkin, Taehyung-Ssi bisa membiarkan Tae Hee Eonni menginap saja dulu di tempatku untuk malam ini. ”
Lagi-lagi, dia merepotkan orang asing.
Taehyung menundukkan kepala sekali lagi untuk meminta maaf, tapi hal itu malah membuat Ji Ah jadi merasa sedikit tidak enak hati.
“ Maaf merepotkan, dan terima kasih. ”
“ Ah, ini bukan apa-apa. Aku hanya melakukan sebuah hal kecil, untuk membantu tetanggaku saja. ”
Taehyung tersenyum tipis.
“ Baiklah kalau begitu. Annyeong… ”
“ Taehyung-Ssi! ” Tahan Ji Ah panik, saat Taehyung baru saja berbalik membelakanginya.
“ Ada apa? ”
“ Memar Taehyung-Ssi… Apa sudah hilang? ”
Taehyung meraba bawah mata kirinya, yang sedikit tersembunyi di balik tudung jaket abu-abunya itu. Rasanya masih sedikit sakit, dan Taehyung merasa sedikit canggung karena ada orang asing yang mengetahui keadaannya lalu kemudian mengkhawatirkannya. Rasanya, memalukan.
“ Aku baik-baik saja. Selamat malam. ” Taehyung segera berbalik dan masuk ke dalam flatnya, meningggalkan Ji Ah yang kecewa karena tidak sempat mengatakan apa-apa lagi.
***
Park Jimin mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai dengan raut wajah gelisah, sementara ia memperhatikan beberapa keping uang koin di telapak tangannya, dengan satu tangan yang lain memegang gagang telepon umum di telinganya.
“ Seul-ah… Maaf, aku meneleponmu seperti ini, di waktu yang agak larut. Apa kau mengkhawatirkanku? Keadaannya memang sedang agak buruk disini, tapi aku baik-baik saja. Apa yang sedang kau lakukan? Surat-suratmu belum ada yang sampai, Seul-ah. Tapi, tidak apa-apa. Mungkin ada masalah dengan pengirimannya. Jangan khawatir, aku akan tetap membacanya nanti, sebanyak apapun itu. Ahaha… Ah, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. ”
Jimin segera meletakkan gagang telepon pada tempatnya, lalu kembali memperhatikan keping-keping uang koin di telapak tangannya dengan mata yang memerah. Tidak. Ia tidak akan pernah punya keberanian, untuk menelepon Yoon Seul dengan penuh percaya diri seperti tadi. Yoon Seul tidak akan menyukainya.
Jimin menghela napas, memasukkan koin-koin itu ke dalam kantong celananya, dan keluar meninggalkan bilik telepon umum yang dikelilingi kabut itu. Ia hanya sendirian, dalam jalannya menuju ke rumah.
***
Hoseok tersentak bangun, karena napasnya mendadak menjadi sesak. Dengan putus asa, ia menarik laci meja kayu yang berada di samping tempat tidurnya, tapi tidak menemukan botol kecil yang ia cari. Sambil mencengkeram dadanya yang terasa menyempit, Hoseok menggunakan seluruh tenaganya yang tersisa untuk berdiri dan bergegas pergi ke kamar mandi, dimana Hoseok menyimpan beberapa botol obat-obatan yang lain di dalam lemari wastafelnya. Keringat dingin membanjiri kening namja itu.
Menjatuhkan beberapa botol ke dalam wastafel karena tangannya yang gemetaran, Hoseok segera memaksakan diri untuk menelan sebutir pil besar yang ia cari, dan berusaha bernapas dengan pelan dan teratur. Tapi, lehernya seperti tercekik, jadi Hoseok segera memuntahkan kembali pil itu dan terbatuk-batuk.
Hoseok mencengkeram ujung wastafel dengan kuat, karena khawatir bisa terjatuh begitu saja ke lantai yang dingin. Ia muak dengan keadaannya yang seperti ini, dan bicara dengan psikiater tidak akan membuat hal-hal berubah menjadi lebih baik. Ia sudah lama tahu, bahwa suatu saat nanti tubuhnya tidak akan bisa mentoleransi jumlah obat yang ia konsumsi, sehingga tidak akan ada lagi apapun yang dapat menyelamatkannya. Sampai saat itu tiba, Hoseok hanya harus bisa bertahan sendirian menghadapi serangan rasa sakit itu, malam demi malam. Ia punya pilihan untuk menerima bantuan dari Jimin ataupun yang lain, tapi ia tidak pernah menganggapnya sebagai hal yang harus dipertimbangkan. Mereka sudah punya banyak masalah, dan Hoseok tidak ingin berubah menjadi masalah mereka yang berikutnya.

Telepon Hoseok berdering, tapi Hoseok tidak berniat mengangkatnya. Itu pasti Jimin, dan kalau Hoseok menjawab telepon bocah itu, Jimin pasti akan langsung berkesimpulan bahwa Hoseok terbangun lagi bahkan kalau Hoseok berbohong.

OWN QUOTES//Inspired By I Need U - Original Version


The most beautiful moment in life.


 
Dalam hidup kita, pasti ada satu saat dimana kita merasa paling bahagia, aman, dan bebas. Kita bisa berlari menyusuri tepi sebuah dermaga pada hari yang mendung, melawan arah hembusan angin, tanpa takut jatuh. Kita bebas untuk mengakhayalkan bahwa kita punya sayap, atau saat bahagia itu tidak akan pernah jadi kenangan.

Biarlah waktu yang membekukannya dalam kepala kita, agar saat kita menoleh ke belakang nanti, tampak sosok masa muda kita masih berlari sambil tertawa lepas dalam kenangan. Kita tidak akan pernah menua dalam tawa, apalagi kalau kita selalu bersama...

Jumat, 22 Mei 2015

FANFICTION/BANGTAN/I Need U - If I Had Time Machine, I Will Bring You All Back//Part One




“ Jangan pikirkan apapun, dan makanlah dengan lahap. ”
“ Iya, Hyung. Gomawo… ”
Kim Taehyung menurunkan tudung jaket abu-abunya, meraih sendok yang berada di atas meja, lalu mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan patuh seperti seorang anak kecil. Makin lama, sikap tubuhnya makin santai dan Taehyung pun makan dengan sangat lahap hingga membuat Seok Jin tersenyum senang.
Perasaan Seok Jin berubah lagi menjadi kurang enak, saat ia melihat bekas lebam keunguan di bawah mata kiri Taehyung.
“ Apa kau dipukul lagi? ”
“ Aku tidak akan pernah mengerti, kenapa Noonaku mau berpacaran dengan orang seperti dia. ” Taehyung meletakkan sendoknya, dan menatap Seok Jin dengan serius. “ Cinta seperti apa yang selalu aku lihat itu? Benar-benar mengerikan. ”
Seok Jin tersenyum, untuk menenangkan Taehyung. “ Noonamu pasti punya alasan yang kuat, bahkan kalau ia tetap bertahan di sisi pacarnya itu bukan karena cinta. ”
Taehyung menunduk, untuk menyembunyikan raut wajah sedihnya.
“ Semalam, ia memukul Noona lagi. Ia kehabisan uang, untuk membeli Soju dan rokok. Aku tidak bisa melindunginya, seperti yang mendiang kedua orang tuaku inginkan, Hyung. Aku tidak berguna. ”
“ Taehyung-ah… Kau harus tetap kuat untuk Noonamu, kau mengerti?? Kau bisa melakukannya. Melindungi Noonamu sampai akhir. Kalau aku saja percaya padamu, berarti kau juga harus percaya pada dirimu sendiri. ”
Taehyung mendongak, menatap Seok Jin dengan sedikit harapan di matanya bahwa pada akhirnya nanti semuanya memang akan baik-baik saja. Seok Jin tersenyum lebar, dan mengangguk, seperti bisa membaca pikiran bocah dua puluh tahun itu dengan tepat. Taehyung balas tersenyum tipis, lalu kembali melanjutkan makan siangnya dengan lahap seperti biasa saat ia memakan masakan Seok Jin. Taehyung merasa sedikit lebih baik.
***
“ Dia belum menelepon? ”
Park Jimin mendongak dengan enggan, mengalihkan perhatiannya dari ujung sepatunya kepada Jung Hoseok, dan menggeleng pelan dengan senyum dan sorot mata yang sedih. Hoseok menatapnya tidak mengerti.
“ Apa terjadi sesuatu? Kenapa kau tidak mengiriminya surat saja?? ”
Jimin melirik sekilas seorang wanita paruh baya yang sedang berbicara, di dalam bilik telepon umum di samping tempat ia dan Hoseok berdiri sekarang. Perasaannya bahkan menjadi jauh lebih sedih lagi.
“ Dua minggu sekali, pada hari senin, pukul lima sore, di nomor telepon umum yang aku gunakan untuk menghubunginya. Setelah teleponnya yang pertama, aku tidak pernah mendapatkan kabar apapun, dan kemarin semua surat yang aku kirim dikembalikan karena alamat penerima sudah diganti. ”
Hoseok tampak terkejut. “ Apa dia pindah?? Setidaknya, seharusnya ia mengirimimu alamat barunya atau sekedar nomor telepon yang bisa dihubungi. ”
Jimin mengangkat bahu. Fakta bahwa ia tidak tahu apa-apa, membuatnya merasa sedikit marah. “ Begitu kata petugas posnya. Jadi, yang bisa aku lakukan hanya berdiri di tempat ini setiap dua minggu sekali, menunggu sambil berharap telepon itu akan berdering sendiri nantinya. Entah kapan. ”
“ Kau pasti sangat mengkhawatirkan Yoon Seul. ”
“ Aku tidak bisa berhenti memikirkan dia, Hyung. Aku merindukan Yoon Seul. ”
Hoseok hendak mengatakan sesuatu, saat segerombolan remaja SMA lewat di depan mereka sambil tertawa dan saling dorong. Hoseok seperti tercekat, dan ritme detakan jantungnya segera berubah menjadi sangat cepat. Napasnya berat dan memburu dengan raut wajah yang memucat, dan keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Jimin yang menyadari hal itu, segera memegang pundak Hoseok, dan mendudukkan namja itu ke bangku besi panjang yang tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri. Jimin segera merogoh-rogoh ke dalam saku-saku mantel Hoseok, tapi tidak menemukan satupun benda yang kira-kira adalah obat namja itu. Hoseok mencengkeram dadanya, dan berusaha bernapas dengan lambat dan teratur hingga jantungnya tidak berdebar-debar dengan kencang lagi.
“ Hyung, apa kau sudah merasa lebih baik?? ”
Hoseok menghela napas panjang, dan bersandar lemas pada punggung bangku.
“ Kau mendapat serangan panikmu lagi?? ”
“ Tidak akan berhasil, Jimin-ah… ”
“ Apa, Hyung?? ”
“ Terapi, dan pil-pil itu. Tidak ada pengobatan apapun lagi, yang akan berhasil padaku. ”
“ Hyung, kau pasti bisa sembuh dan hidup normal lagi. Ayo, kita pergi menemui doktermu sekarang. ” Jimin berdiri menarik tangan Hoseok, tapi namja itu balik menahannya.
Jimin duduk kembali, menatap Hoseok dengan khawatir. Diantara semua keenam sahabat dan Hyungnya, ia paling dekat dengan Jung Hoseok.
“ Tolong berjanji padaku, kau tidak akan memberitahukan tentang hal ini kepada Seok Jin Hyung dan yang lainnya, Ne? ”
“ Hyung… ”
“ Aku tidak pernah memintamu melakukan sesuatu untukku, kan?? Tolong, jangan biarkan orang-orang yang kita sayangi itu mengkhawatirkanku. ”
Jimin terdiam, bergulat dengan pemikirannya untuk berpura-pura berjanji atau benar-benar melakukannya untuk Hoseok. Lalu, bagaimana Hoseok akan bertahan untuk menyelamatkan diri? Atau, apa mungkin kali ini Hoseok hanya akan berdiam diri dan membiarkan dirinya tenggelam sendirian?
Ah, kenapa dia jadi memikirkan hal buruk yang tidak akan mungkin terjadi itu? Bersikap sentimental, seperti bukan dirinya saja. Park Jimin bodoh.
***
Kim Nam Joon segera berlari menghampiri gagang telepon, yang di letakkan terbalik agar sambungannya tidak terputus di atas meja itu.
“ Mwoya? ”
“ Ya… Aku lebih tua darimu, bersikap sopanlah sedikit. ” Omel Seok Jin di ujung telepon.
“ Aku sudah bilang, jangan menghubungiku di nomor telepon kantor, Hyung. ”
“ Aku juga sudah bilang, belilah ponsel dengan gajimu. Apa kau hanya akan mengisi paru-parumu dengan asap?? ”
“ Aku tidak merokok, Hyung. Setidaknya, tidak untuk hari ini. ” Bantah Nam Joon kesal. “ Apa lagi yang bisa aku lakukan dengan hidup yang membosankan ini?? Lagipula, bukankah gajiku selalu digunakan untuk membelikan buku dan makanan untuk tiga anak kecil sialan itu?? Ponsel apa… ”
“ Ya, Kim Nam Joon! Mereka adalah dongsaeng kita, tahu. Jagalah ucapanmu. ” Seok Jin menggeleng heran, sambil memijit keningnya. Apa Nam Joon akan selalu berbicara seperti itu? Dia tidak akan pernah mendapatkan gadis yang mau menyukainya. “ Jam berapa pekerjaanmu berakhir hari ini?? Apa kau akan mengambil shift malam?? ”
“ Entahlah. ”
“ Pulanglah lebih awal. Malam ini kita akan makan di apartemen Yoon Gi. Sudah seminggu ini kita bertujuh tidak berkumpul bersama lagi, kan? Aku sudah melihat-lihat resep, dan sup kepiting sepertinya lezat, atau mungkin ada yang ingin kalian makan… ”
Nam Joon terdiam sebentar, saat mendengarkan nama Yoon Gi disebut. Hyungnya itu, apa dia baik-baik saja sekarang? Mereka memang sudah seminggu ini tidak bertemu, jadi Nam Joon akhirnya penasaran bagaimana keadaan Yoon Gi setelah pindah ke apartemen kecil dan kumuh itu.  Bulan ini tidak berjalan baik untuk Yoon Gi. Setelah aset-aset keluarganya disita pihak kejaksaan karena ayahnya terlibat skandal korupsi dan penyuapan di departemen keuangan, ibu Yoon Gi meninggal, dan Yoon Gi memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen dengan uang tabungannya yang tersisa dibandingkan tinggal dengan bibinya yang mata duitan di Daegu.
Minggu lalu setelah pindah, Yoon Gi seperti mengurung diri untuk memutus kontak dengan dunia luar, jadi mereka berenam sengaja untuk memberikan Yoon Gi ruang dan waktu untuk bernapas dan menyusun kembali perasaannnya yang berantakan. Kalau Seok Jin sudah mengatur rencana makan malam, berarti keadaan sudah menjadi baik kembali. Bagaimanapun, ketika Nam Joon merasa lelah, hanya enam orang berisik itu saja yang selalu menjadi tempatnya untuk pulang. Mendapatkan semangat dan senyuman kembali, setelah melihat candaan dan perdebatan mereka yang konyol.
Jika ada yang terluka, maka yang lainnya juga pasti akan terluka dan merasakan sakit. Nam Joon tidak suka saat itu terjadi, karena akhirnya sepanjang hari untuk jangka waktu yang entah akan berakhir cepat atau menjadi lama, semuanya hanya akan tentang mendung dan kesedihan.
Senyum tipis Nam Joon tersungging.
“ Ani, Hyung. Sup kepiting sudah terdengar cukup. Kau tahu, kan? Kita tidak pernah pilih-pilih dalam hal makanan… ”
“ Baiklah. Ngomong-ngomong, aku akan mampir ke tempat kerjamu dalam perjalanan ke pasar, untuk membawakan makan siang, oke? ”
Nam Joon tidak menjawab, dan hanya menutup telepon. Ia menghela napas lega, masih dengan senyum tipisnya. Setelah memandangi gagang telepon selama beberapa detik, Nam Joon keluar meninggalkan ruangan kantor pengisian bahan bakar itu, dan kembali bekerja. Mungkin untuk hari ini, ia tidak jadi mati karena kebosanan bahkan kalau atasannya memarahinya lagi karena keluhan para pelanggan yang terlalu manja itu.
***
PRAANGGG!!
“ SUDAH AKU BILANG AKU TIDAK PUNYA UANG!! ”
“ APA KAU PIKIR BISA MEMBODOHIKU?? ”
Langkah Jeon Jungkook terhenti di depan pintu rumahnya, saat ia sadar lagi-lagi ia kembali menghadapi suara yang sama. Apa adegan itu tidak akan berganti? Pertengkaran ayah tiri dan ibunya… Kapan Jungkook akan disambut seperti anak normal lainnya saat mereka pulang dari sekolah? Jungkook sudah tiba pada saat dimana ia tidak merasa terkejut dan panik lagi, dan suara-suara teriakan itu hanya seperti sebuah lagu dalam pemutar musik yang tidak pernah ia miliki. Jungkook memilih berbalik pergi, meninggalkan tempat itu diam-diam, karena toh orang tuanya tidak akan sadar ia belum berada di rumah kecuali mereka berniat meminta Jungkook untuk pergi membeli bir, yang entah kapan saat mereka punya cukup uang untuk itu.
Dan, kemudian disinilah Jungkook berakhir.
Di salah satu bangku panjang tepat di seberang sebuah kafe kecil, duduk dan mencoret-coret buku sketsanya dengan pensil. Hanya goresan ekspresi yang sama, tapi setidaknya hal itu bisa memberikan Jungkook sedikit bagian dari dunia yang ia inginkan. Dimana semuanya tampak menyenangkan, dan ia punya alasan untuk merasa bersyukur karena sudah jatuh cinta.
Jungkook memberikan polesan-polesan tipis pada sorot mata gambarnya dengan luwes, lalu berhenti untuk membandingkannya dengan model sketsanya yang asli. Dengan beberapa menit pengamatan, Jungkook berpikir kalau gambar yang ia buat tidak akan pernah sebagus aslinya. Terlalu banyak perbedaan, untuk digambarkan hanya dengan sebatang pensil.
Jungkook mengamati model sketsanya sekali lagi, lalu tersenyum manis.
Berdiri di balik konter dalam kafe kecil seberang jalan itu, tampak sosok Han Ji Ah yang sedang melayani dengan ramah para pelanggan yang datang dan mengantri. Jungkook baru beberapa hari ini menyukai Noona, yang tampak manis dan imut dengan kuncir ekor kuda tipisnya itu. Tidak ada satupun Hyungnya yang tahu, karena Jungkook takut diejek. Ji Ah sendiri memang baru beberapa hari bekerja di kafe itu, dan Jungkook bertemu dengan Ji Ah saat ia membeli segelas Macchiato dengan uang sakunya yang tersisa, pada hari pertama yeoja itu bekerja. Jungkook melihat Ji Ah yang tersenyum padanya, dan sesederhana itu ia sudah jatuh cinta.
“ Kau mau beli apa, Namhaksaeng?? ”
Jungkook menunduk memperhatikan buku sketsanya yang ternyata sudah penuh, lalu kembali memperhatikan sosok Han Ji Ah, dan memutuskan untuk masuk ke dalam kafe itu. Sambil berdiri di antara deretan antrian yang mulai habis, mata Jungkook tidak pernah lepas memperhatikan Ji Ah, dan senyum namja itu tersungging dengan sendirinya.
“ Kau mau pesan apa, Namhaksaeng?? ” Tanya Ji Ah, saat tiba giliran bagi Jungkook dan bocah itu tidak juga mengatakan apa-apa.
“ Ani, Noona. Aku tidak akan memesan apa-apa, karena aku tidak punya uang sekarang. ” Jawab Jungkook dengan santai. “ Tapi, ini… ” Jungkook menyodorkan buku sketsanya, dan meletakkan benda itu di atas konter kayu yang dicat cokelat mengkilap itu. “ Sudah penuh,  jadi Noona ambillah. Aku akan membeli satu lagi yang baru, lalu kembali mulai mengisinya. ”
Sebelum Han Ji Ah sempat mengatakan apa-apa, Jungkook sudah lebih dulu membungkukkan badan sesaat dan berbalik pergi. Ji Ah hanya bisa memperhatikan kepergian bocah itu dengan tatapan heran, sebelum kembali fokus pada antrian terakhir pelanggannya yang memesan kopi. Setelah pergantian shift, Ji Ah pergi ruang ganti pegawai, duduk untuk membuka buku yang tadi Jungkook berikan padanya, dan mendapati dirinya tersentak karena lembar-lembar buku itu dipenuhi oleh sketsa dirinya yang berdiri di balik konter kafe dengan gaya dan raut wajah yang berbeda-beda. Ji Ah melihat coretan kecil dengan pensil, pada sudut bawah lembar sketsa yang terakhir.
Jeon Jungkook.
Apa bocah ingusan dengan dua gigi kelincinya yang besar tadi itu, duduk di seberang jalan setiap hari untuk melakukan ini? Melukisnya… Apa bocah itu membolos sekolah?? Apa-apaan ini? Apa Jeon Jungkook menyukainya? Ji Ah tersenyum masam, dan berdiri untuk menyimpan buku itu di dalam lokernya. Tampaknya sejak Ji Ah pindah ke lingkungan sekitar sini, ia mengalami hal-hal yang cukup mengejutkan.
Tapi, ada satu yang Ji Ah ingat, dan sepertinya menarik perhatiannya. Tetangganya yang dipukuli semalam, yang Ji Ah kompres bawah mata kirinya dengan kantung es, yang tidak mengatakan apapun selain terima kasih dan pergi dengan misterius. Namja itu bahkan tidak tampak kesakitan atau meringis, tapi sorot matanya penuh dengan luka dan membuat Ji Ah tahu kalau namja itu hanya sedang berpura-pura tegar saja.
Ngomong-ngomong, siapa namanya? Apa lebam di bawah matanya itu masih terasa sakit?
***