Rabu, 02 Desember 2015

FANFICTION/BANGTAN/I Need U - If I Had Time Machine, I Will Bring You All Back//Part Three


BAGIAN KETIGA
“ Ya, kapan terakhir kali jalur kereta ini digunakan? ” Tanya Nam Joon.
“ Apa ada orang lain yang sering mengunjungi tempat ini? ” Tanya Taehyung juga, sambil berjalan di atas salah satu jalur besi rel kereta tersebut, dan Jungkook menahannya agar tidak jatuh. “ Banyak sekali kontainer yang berderet di sepanjang kedua jalur ini. ”
“ Apa kalian pernah naik ke atas salah satu kontainernya? ” Jimin ikut-ikut bertanya.
“ Apa ada tangga untuk ke atas? Aku memikirkan bagaimana caraku turun nanti. ” Ujar Hoseok sambil tertawa pelan.
“ Kenapa kalian berbicara seperti seorang anak kecil? ” Tanya Seok Jin, ikut-ikutan tertawa. “ Bagaimana kalau kita berlomba lari sampai ke kontainer biru yang berada di ujung sana itu?? ”
“ Terlalu kekanakan, Hyung. ” Gumam Yoon Gi, tapi kemudian dia jadi orang pertama yang berlari lebih dulu.
Nam Joon segera meneriakinya, lalu menyusul berlari bersama Hoseok dan Seok Jin.
“ Kalau aku yang berlari, kalian pasti kalah, Hyung! ” Teriak Jungkook.
“ Bagaimana kalau kita menyusul mereka lewat atas kontainer? ”
“ Kajja! ” Teriak Jimin, lalu berlari lebih dulu.
Ia naik ke kontainer pertama yang pintunya terbuka, lalu mengulurkan tangan untuk menarik Taehyung dan Jungkook naik. Benar-benar seperti anak kecil, mereka bertiga memainkan adegan detektif yang sedang menyusup lewat balkon gedung tinggi yang sempit, lalu melompat ke tangga menuju atas kontainer tersebut sambil tertawa lebar. Mereka berlari di sepanjang atap kontainer, melebarkan kedua lengan untuk bisa merasakan sapuan angin, menyusul para Hyung yang sudah duduk menunggu mereka sambil berbicara tentang hal-hal sederhana.
Jimin ingat dalam kenangan masa kecilnya, ia pernah berlari sekencang itu dan berkhayal bahwa ia punya sepasang sayap yang lebar dan kuat.
“ Aku bisa melihat rumahku! ” Seru Jungkook, sambil menunjuk pada salah satu gedung perumahan tua beberapa mil dari tempat mereka, lalu berpindah jauh ke arah kanan. “ Yang disana itu, sekolahku… ” Jungkook mengalihkan telunjuknya lagi. “ Itu, kafe yang sering aku kunjungi. Dekat rumah Taehyung Hyung. ”
“ Whoa… Jungkookie, apa kau bertemu seseorang disana? ” Tanya Nam Joon, sambil memijit tengkuk Jungkook.
“ Apa ada seseorang yang kau sukai disana? ”
“ Apa kau sedang berkencan? ”
“ Apa dia satu sekolah denganmu?? Gadis yang kau kencani itu… ”
“ T-tidak. Bukan seperti itu, Hyung… ” Jawab Jungkook tergagap, lalu tertawa karena sedikit panik. “ Aku hanya berjalan-jalan ke kafe itu saja. Kau tahu, seperti waktu luang untuk seorang pria. ”
“ Jangan berbicara seperti kau ini sudah berusia dua puluh tahun atau semacamnya. ”
“ Jungkook sedang berbohong sekarang. ”
“ Lihatlah, telinganya memerah. ”
“ Tidak, Hyung… ” Bela Jungkook. “ Aku tidak sedang berkencan dengan siapapun. ”
“ Kalau begitu, berarti ada seseorang yang kau sukai. ”
“ Kau tidak punya uang untuk membeli segelas kopi, apalagi yang kau lakukan? Apa kau sedang hobi memandangi bokong para Noona yang bekerja di tempat itu? ”
“ Ya, Kim Nam Joon. Jaga perkataanmu. ” Tegur Seok Jin.
“ Mianhe, Hyung. ”
“ Memangnya… Apa para pria suka memandangi bokong wanita yang lebih tua?? ”
“ Jeon Jungkook! ” Tegur Seok Jin lagi.
***
“ Ayo! Cepat! Cepat! ” Jimin berhenti lalu menoleh, dengan tidak sabar memanggil-manggil yang lain, yang masih tertinggal beberapa meter di belakangnya.
Kadang-kadang, Jimin adalah pelari yang tercepat di antara mereka bertujuh. Mungkin, karena Jimin juga selalu lebih bersemangat dibandingkan dengan yang lain.
Yoon Gi dan Hoseok, lalu yang lainnya satu-persatu mulai menyusul, dan Jimin kembali berlari diantara suara tawa yang bergaung di dalam lorong tua yang menuju ke bekas tempat parkir bawah tanah itu. Jungkook iseng melompat ke punggung Seok Jin, dan Taehyung tertawa sambil mendorong bocah itu. Melihat Seok Jin yang hampir jatuh dengan Jungkook di punggungnya, suara tawa yang terdengar hanya menjadi makin nyaring dan makin bergaung saja.
Di tengah-tengah bekas area parkir yang dituju, terdapat beberapa tumpukan barang rongsok yang sengaja dicampakkan kesitu, termasuk beberapa sofa dan matras yang sudah berlubang-lubang di beberapa bagiannya. Ketujuh orang yang berisik itu, segera berebut tempat duduk di tiga sofa yang diletakkan membentuk huruf U tersebut, lalu kembali tertawa sambil perlahan-lahan mulai menormalkan ritme napas mereka yang memburu.
“ Kau benar-benar payah, Park Jimin! ” Ejek Nam Joon.
“ Ada apa denganku?? ”
“ Kau tidak bisa melompati dinding kawat penghalang terowongan tadi. ”
“ Itu karena dindingnya terlalu tinggi, jadi aku tidak bisa melompatinya! ” Bela Jimin gemas.
“ Tapi, aku bisa melakukannya. ” Ujar Yoon Gi.
“ Lihatlah… Park Jimin mencari-cari alasan lagi. ”
“ Berarti kaki Jimin Hyung yang terlalu pendek. ” Sahut Jungkook tiba-tiba dengan wajah polosnya, dan membuat tawa para Hyungnya, kecuali Jimin, kembali pecah.
“ Tapi bukannya kaki Yoon Gi Hyung juga pendek?? ” Omel Jimin. “ Kenapa kalian tidak mengganggunya juga?? ”
Tidak ada lagi yang mendengarkan, karena mereka sudah sengaja mengalihkan topik pembicaraan pada hal yang lain, untuk membuat Jimin makin merasa kesal.
“ Kau baik-baik saja? ” Tanya Yoon Gi pada Hoseok tiba-tiba. “ Kau sudah tidak perlu menemui dokter lagi, kan? ”
“ Uh. Mm. ” Gumam Hoseok enggan. “ Bagaimana denganmu, Hyung? ”
Yoon Gi mengangkat bahu. “ Kau bisa lihat sendiri. ”
“ Apa mereka akan datang lagi? ”
“ Kalau mereka datang lagi, kita pastikan akan melawan mereka dua kali lipat lebih buruk. ” Nam Joon merogoh-rogoh ke dalam saku-saku celananya, lalu mendengus kecewa. “ Ah… Sialan. ”
“ Wae??? ” Tanya Seok Jin kesal. “ Kau tidak membawa rokokmu?? Sekarang kau berniat merokok di depan Jungkook?? Kau belum berhenti juga, ya??? ”
“ Memangnya kenapa?? Jungkook juga akan melakukannya saat menginjak usia dua puluh, karena dia tidak punya uang, dan tidak akan mempunyai apa-apa untuk dikerjakan. ”
Jungkook segera menggeleng dengan kedua mata yang melebar. “ Aku tidak akan melakukannya… Sungguh. ”
“ Perhatikan bicaramu, Kim Nam Joon. ” Tegur Seok Jin. “ Kau tidak pernah bersyukur dengan pekerjaanmu, menghambur-hamburkan uang untuk sebatang tembakau, dan kau pikir Jungkook juga akan bertingkah seperti itu. Entah paru-paru atau otakmu yang bermasalah. ”
“ Hanya sebatang saja, dan Hyung jadi membicarakan semua hal. Aku selalu menabung separuh dari gajiku untuk biaya Jungkook masuk ke Universitas nanti. Apa itu tidak cukup?? ”
“ Nam Joon Hyung menabung untukku?? ” Tanya Jungkook, tapi tidak ada yang menjawabnya.
“ Ya! Sekarang kau menghitung-hitung semua yang kau lakukan?? ”
“ Kalian berdua, hentikanlah… ” Sela Hoseok pelan. “ Berisik sekali. ”
“ Sekarang, kalian berdua malah bicara banyak di depan Jungkook… ” Timpal Taehyung sambil tertawa masam, yang sedari tadi terus diam dan hanya memperhatikan saja.
“ Akhir-akhir ini, banyak sekali yang Hyung-Hyung pikirkan. ” Gumam Jungkook, dengan raut wajah sedih. “ Sampai tidak ada lagi waktu untuk tersenyum. ”
Yoon Gi segera merangkul bocah itu sambil tersenyum lebar, sementara Hoseok mengusap-usap kepala Jungkook dengan lembut. Adik kecil mereka, yang sudah mulai mengerti apa yang sedang terjadi dan dirasakan oleh mereka. Jungkook seharusnya mengalami masa perkembangan usia yang manis dan menyenangkan. Jatuh cinta pada seseorang saja tidak cukup, kalau ada enam orang lain yang selalu menyeretnya ke dalam masalah dan kesedihan.
“ Aku minta maaf, Jungkookie… ” Gumam Nam Joon datar—seolah-olah tidak ada yang terjadi, tapi mereka semua tahu bahwa begitulah cara Nam Joon mengungkapkan perasaannya.
Jungkook dan yang lainnya tersenyum, dan setelah Seok Jin juga ikut meminta maaf, topik pembicaraan yang berikutnya menjadi tidak seberat seperti beberapa menit yang lalu. Kebanyakan membahas tentang sekolah Jungkook, guru dan tugas-tugas rumahnya yang menggunung, atasan Nam Joon yang galak, perawat cantik di rumah sakit tempat Hoseok beberapa kali datang berkonsultasi, hingga rencana makan malam besar di rumah Seok Jin dalam beberapa waktu ke depan.
Waktu seperti meluncur di atas papan ski, karena rasanya mereka baru saja duduk disana saat matahari perlahan tenggelam menyisakan bias jingga kemerahan. Sudah waktunya pulang. Seok Jin yang kebanyakan hanya diam saja dan mendengarkan di sapanjang pembicaraan konyol mereka, memandangi adik-adiknya itu satu persatu lalu tersenyum tipis.
“ Hyung, ada satu hal yang aku inginkan saat ini… ” Gumam Jungkook, saat mereka bertujuh berjalan keluar meninggalkan lorong tersebut.
Suara kekanakkannya yang manja, terdengar bergaung hingga jauh ke depan.
“ Apa itu? ” Tanya Taehyung penasaran, sementara yang lainnya menunggu jawaban Jungkook.
“ Apa Hyung ingat lautan cahaya Yoon Gi Hyung yang pernah kita lakukan? ”
“ Suar dan kembang api? ” Tanya Hoseok pelan, dan dibalas dengan anggukan Jungkook.
Lautan cahaya Min Yoon Gi.
Tentu saja. Mereka bertujuh tidak ada yang akan pernah lupa cahaya dan percikan aneka warna yang mereka lepaskan ke langit-langit area parkir bawah tanah yang luas itu, karena mereka tidak bisa mendapatkan langit yang cerah pada perayaan tahun baru. Malam itu, hujan memang mengguyur dengan anggun, seolah-olah mematikan api-api perayaan bahkan sebelum semua itu dibakar.
Yoon Gi sudah membeli dua kotak besar suar dan kembang api secara illegal, dan akan merasa sangat kecewa kalau dua kotak itu hanya akan diam di sudut loteng rumahnya. Jadi, dia memanfaatkan keahlian Jungkook dalam merayu Seok Jin, agar mereka semua bisa berkumpul dan mendapatkan pesta tahun baru mereka sendiri.
“ Pada saat berikut kita kembali kesini, aku ingin kita melakukannya lagi, Hyung. ”
“ Kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu? ” Tanya Seok Jin.
“ Itu… ” Gumam Jungkook, menunduk sebentar untuk mengusap-usap matanya yang berkaca-kaca. Nam Joon segera mengusap-usap kepala Jungkook dari belakang dengan lembut. “ Saat kita melakukannya, perayaan tahun baru dengan lautan cahaya itu, kita semua tertawa lepas sekali, seperti kita tidak punya lubang dalam hati yang membuat perasaan kita menjadi buruk. Hanya itu satu-satunya cara yang aku ingat bisa kita lakukan, karena aku ingin kita merasakannya lagi. Apa Hyung semua tidak ada yang merindukan saat itu? ”
Mereka semua ingat, bagaimana mereka berlari melewati lorong yang gelap dan dingin dengan antusias seperti seorang anak kecil. Terkagum-kagum saat melihat cahaya suar yang merah menyala dan menyelubungi mereka seperti kabut, tertawa terbahak dan melompat-lompat saat melihat letusan-letusan kembang api yang saling susul-menyusul, saling merangkul dan mengucapkan permohonan tahun baru lalu kembali tertawa. Mereka percaya apa yang akan datang adalah hal yang baik.
Dan, bagian itu membuat mereka semua saling menatap satu sama lain, dengan tatapan berkaca-kaca. Benar, mereka sedang ingin tertawa lagi. Karena mereka tidak punya mesin waktu untuk mengulang saatnya, setidaknya mereka tetap bersama saat mengulangi adegannya.
“ Arasseo, Jeon Jungkookie… ” Yoon Gi merangkul Jungkook erat, sambil tersenyum lebar. Suaranya bergetar. “ Hyung lagi yang akan membeli kembang api dan suarnya. ” 
***

Senin, 29 Juni 2015

Hari Ini // Aku Marah Pada Cinta

2016, Februari Kosong Sepuluh.

Ini adalah surat pertama yang aku tuliskan, dibawah tekanan rasa rindu yang kau sumbat seperti tutup keran air.

Aku membencimu sampai ke tulang-tulangku.

Apa kabar?
Berapa jam perjalanan yang kau habiskan kemarin, untuk menghitung berapa kilometer perjuangan memisahkanmu dari hiruk pikuk kota yang runtuh itu?
Aku melihat mendung saat merasakan penyesalan itu menabrakku, tapi sudah cukup aku menjelaskan diriku sendiri sampai mulutku berbusa.
Tidak akan pernah ada pengertian itu, bahkan sekalipun kamu memaksakannya.

Aku mengutukmu sampai ke sel-sel tubuhku.

Rindu ini adalah nanah dari luka, saat aku menikam kita dengan emosi kekanakan yang meraja. Kenapa tidak memilih orang lain untuk kau buat jatuh cinta? Sebelum kau hempas dengan pilihan lain yang lebih indah.

Aku, ah, aku ingin sekali memakimu diantara kekhawatiranku yang selalu menggunung.

Aku ingin mencekikmu, agar kamu kehabisan napas, sama sepertiku setiap malam.

Tapi, kalau aku semakin membencimu, aku akan semakin mencintaimu. Lebih baik membiarkan luka ini terparut habis sendiri, sampai aku tidak merasa penasaran lagi.

Jarak kilometer yang belasan itu bukan urusanku. Kau kembali bulan depan juga bukan, karena bisnis perasaanku sudah selesai sembari aku menghapus setiap spasi percakapan itu hingga lenyap.

Kita bukan apa-apa.

Rabu, 10 Juni 2015

Letter From 2015, June 5th - Coincidence and Its Story

Ada orang yang suka sama kebetulan, dan ada juga yang nggak. Buat cewek yang suka nonton drama korea, mereka pasti mengharapkan ada kebetulan dimana pada saat itu kebetulannya akan berujung takdir menjadi ketemu dengan Mr. Right mereka. Keluar dari swalayan pada hari berhujan, lalu ada cowok yang menawarkan payung sambil tersenyum manis dengan poni yang terbang tertiup angin. Siapa yang nggak mau?

Oh, ada kok. Cewek yang suka nonton drama, tapi tahu kalau mereka nggak akan pernah beruntung jadi nggak pernah mengharapkan hal yang aneh-aneh.

Gua tumbuh menjadi pecinta drama-drama lebay itu, dan berdiri diantara suka sama adanya kebetulan dan sekaligus benci hal itu. Gue nggak pernah beruntung dengan kebetulan, karena gue jelek dan nggak bakal lolos casting untuk adegan romantis, tapi gue suka karena gue itu cewek normal yang nggak mungkin menolak cowok tampan dengan kibasan poninya (LOL) apalagi kalau dia mirip atau sekalian benar-benar Cha Taehyun. Dan, tanpa sadar gue selalu berharap ada salah satu dari kebetulan-kebetulan romantis itu yang datang ke gue.

Dan, disinilah gue malam ini. Terjebak dengan sisa-sisa kebetulan tadi sore yang mungkin bakal terbawa sampai ke mimpi gue bermalam-malam selanjutnya.

Hari ini gue kalang kabut ketika ponsel bongkar pasang 5320 gue berdering, dan itu adalah telepon dari dosen merangkap sepupu gue yang butuh jasa gratis buat jagain anaknya. Kebetulan juga gue mau ke kampus buat mengurus SK ujian, jadi sekalian aja gue iyain. Well, today was really a something. Apalagi, ketika gue berhasil menidurkan baby itu dalam gendongan, dan dosen-dosen lain nyeletuk bahwa gue udah BISA. Whatever. Gue tetap masih harus nyari calon bapaknya, karena nggak mungkin gue mau ijab Kabul buat diri gue sendiri nanti.
Setelah selesai dengan misi baby sitter itu entah untuk berapa jam, gue segera cabut ambil sepatu dan bersiap-siap menebeng ke tempat kerja sama senior gue. Dan, ternyata, dari sudut kota yang lain, ‘kebetulan’ gue sedang bergerak mendekati koordinat.

Gue udah lama tahu dia udah punya pacar lagi, jauh lebih cantik dan feminim. Kata para teman-temannya, junior gue tapi mereka sendiri juga nggak yakin. Gue lebih-lebih nggak yakin lagi, apa harus percaya pada sugesti kalau cewek itu cuma pelampiasan ketidaktulusannya dia—let’s assume that he didn’t choose me because he knew that I was serious with my feeling and he was a sh*t that played with it, atau percaya pada fakta bahwa kita memang nggak bisa mendapat happy ending seperti dalam drama. Seiring berjalannya waktu, gue akhirnya memang memutuskan untuk let go of everything. Kalaupun gue masih punya perasaan cinta jauh di dalam lubuk hati gue, cukup segitu aja. Karena cinta pertama harus diingat karena itu indah dan membahagiakan, dan gue nggak mau merusak visi itu dengan menyakiti perasaan gue sendiri.

Gue naik ke motor senior dengan penuh percaya diri, karena slot jackpot udah bukan tentang gue lagi, jadi berapa persen kemungkinannya kita bisa ketemu? Oh, gue salah. Gue melihat ke depan, dan gue lihat helm hitam itu. And, damn. I recognized him even before I looked at those eyes, and yeah, I heard that my heart fell with noisy sound that it was broken into pieces again.

Bagian terbaiknya adalah, dia nggak sendirian. Dia bareng pacarnya, dan gue lihat kok dua tangan kurus itu melingkar di pinggangnya. Hal yang nggak pernah gue lakukan saat kita jalan bareng dulu.

Gue kaget, dan gue khawatir kalau hari gue nggak akan berjalan dengan baik lagi. Tapi, setelah menghabiskan semenit untuk meraba-raba, ah, nggak kok. Pikir gue sambil tersenyum lega. Gue sekarang percaya kalau waktu memang bisa menyembuhkan luka, bahkan kalaupun lukanya nggak benar-benar sembuh dan berbekas. Gue benar tentang memutuskan untuk let go sambil menjalani terapi waktu, karena faktanya dia memang sudah berubah sebagai kenangan dan kebetulan. Terapi waktu juga mengajarkan gue untuk terbiasa dengan rasa sakit, jadi gue kehilangan perasaan berdebar-debar yang konyol itu. Gue nggak terluka, dan gue bisa tersenyum.

Kekagetan gue menguap sebagai kekagetan aja, nggak ada perasaan kosong lagi disana. Dan, gue jadi penasaran kemana kebetulan gue yang selanjutnya lagi datang?

Selasa, 09 Juni 2015

Letter From 2015, May 10th

Malam ini gue melewati fase dimana orang menyebutnya teringat pada sang mantan. Gue tiba-tiba kepikiran dia, dan setelah itu gue kirimin dia sms. Ternyata, kita berantem lagi, seperti masa lalu. Lalu, gue tiba di satu fase lagi, dimana orang menyebutnya menyesali masa lalu. Gue teringat kenapa kita berantem, alasan-alasan kenapa gue mutusin dia, kenapa gue bilang nggak bakal bisa balikan lagi sama dia. Dan, kesimpulannya adalah gue sangat brengsek pada masa itu, karena ternyata kemudian gue tiba ke fase lainnya yang dibilang orang adalah menyesali kesalahan.
Apa gue bisa minta pengampunan dari mantan gue itu?
Ada satu saat dimana Gue ngebayangin dia bakal minta balikan, dan gue dengan menahan otak gue untuk mengirimkan kata iya ke lidah gue, menghela napas dengan berat hati dan berkata : I don’t think that we can make it, because I am really messed up and you deserve better.
Tapi, lucu juga kan kalau seseorang dengan sengaja minta rasa sakit yang pernah dia alami itu untuk siap-siap datang sekali lagi? Gue bukan mantan ataupun pacar yang baik, dan dia udah pasti nggak terkesan sama sekali dengan apa yang udah kita lewati.
Gue yang kekanakan, nggak punya pendirian yang tetap. Gue nggak bisa tegas terhadap keadaan gue, apalagi dengan berpikir jernih. Tadinya gue punya banyak hal buat ditulis, sekarang gue kehilangan kata-kata.
Gue akan tiba di fase yang mana lagi? 
Oh, iya. Fase dimana gue berharap gue bisa mengulang waktu dan jadi pacar yang baik buat dia, atau, setidaknya kita bisa beneran balikan.

Sabtu, 23 Mei 2015

FANFICTION/BANGTAN/I Need U - If I Had Time Machine, I Will Bring You All Back//Part Two



BAGIAN KEDUA
“ Hyung!! ” Jeon Jungkook langsung melompat ke sisi Yoon Gi di sofa begitu ia tiba, dan bergelayut manja dengan mata yang berbinar-binar. Seperti seekor anak anjing yang bertemu dengan majikannya.
Tingkah Jungkook itu menimbulkan keributan bagi kelima Hyungnya yang lain, sementara Yoon Gi hanya tersenyum lebar dan balas merangkul pundak bocah itu dengan erat.
“ Hyung, apa kau baik-baik saja? Setelah Hyung pindah, Seok Jin Hyung bilang kita tidak boleh menemui Hyung dulu… Apa terjadi sesuatu? ”
“ Nde. Aku hanya sedikit sakit, dan Seok Jin Hyung khawatir aku mungkin bisa menularkannya padamu. Sekarang aku sudah merasa sehat kembali, Jungkook-ah… ” Ujar Yoon Gi berbohong.
Jimin yang duduk di lantai dekat sofa menendang-nendang betis Jungkook, dan memasang wajah imut dengan pipi besar dan mata sipitnya itu. Jungkook sudah tertawa lebih dulu, bahkan sebelum Jimin mengatakan apa-apa. Nam Joon hanya menggeleng-geleng, tidak akan pernah terbiasa dengan seseorang yang selalu bertingkah imut seperti Jimin. Tampak menggelikan dan memalukan.
“ Jungkookie, apa kau hanya mengkhawatirkan Yoon Gi Hyung saja? ”
“ Mwoya, Hyung?? Kau menemuiku di sekolah kemarin, kan?? Hyung bertingkah, seolah-olah kita sudah lama tidak bertemu… ”
Jimin mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, bertingkah seperti hendak memukul Jungkook yang menyebabkan tawa Hoseok, Nam Joon, Jungkook dan Yoon Gi pecah. Jimin memang selalu menjadi sasaran empuk candaan konyol Hyung dan Dongsaengnya saat mereka berkumpul. Jimin selalu berkata ia tampan dan memiliki tubuh yang bagus, tapi masalah tinggi badan seperti memberikan nilai minus pada semua kelebihan yang ia miliki.
“ Bocah tengik ini… ”
“ Ya, Park Jimin! ” Teriak Seok Jin dari dapur apartemen, sambil sibuk menyiapkan bumbu untuk supnya. “ Jangan menggunakan kata itu di depan Jungkook. Lebih baik sekarang kau kemari dan bantu aku mencuci sayur-sayuran ini! ”
“ Aku lagi?? ” Keluh Jimin. Tapi pada akhirnya, dia berdiri juga dan pergi ke dapur dengan terpaksa. “ Apa aku satu-satunya di ruangan ini yang bisa mencuci sayur?? ”
“ Ngomong-ngomong, ada apa dengan Taehyung Hyung? Dia tidak mengatakan apa-apa sejak tadi, dan hanya tertawa saja… ” Ujar Jungkook sambil melepaskan rangkulannya dari lengan Yoon Gi, lalu membuka jas sekolah dan kaos kaki merahnya. Melemparkannya bersama dengan tas sekolahnya, ke kasur tidak jauh di belakang mereka.
Taehyung yang duduk di kursi seberang sofa hanya tersenyum, sambil mengusap-usap pipi kirinya pelan.
“ Dia mendapat sebuah pukulan lagi. ” Ujar Nam Joon, terdengar sedikit bersemangat seperti sedang menceritakan adegan sebuah film favorit yang ia tonton. “ Aku sudah pernah memberitahunya, Taehyung-ah, mungkin kau bisa mengikuti kelas tinju atau taekwondo selama enam bulan, lalu kembali dengan memberi sebuah pukulan di perut untuk Hyung brengsek itu sebagai hadiah. ”
“ Kim Nam Joon! Jaga kata-katamu di depan Jungkook! ” Teriak Seok Jin dari arah dapur, yang disambung dengan suara tertawa Jimin yang khas. “ Kemari dan bawa panci ini ke ruang tengah! ”
“ Ugh. ” Nam Joon bangkit dengan kesal, dan segera menuju ke dapur.
“ Whoa… Jadi, apa Taehyung Hyung akan melakukannya seperti perkataan Nam Joon Hyung? ”
Hoseok menggeleng. “ Aniya. Dia tidak mau. Padahal, aku kenal seseorang yang membuka kelas untuk latihan singkat seperti itu. ”
“ Lengannya kurus dan kecil. ” Timpal Yoon Gi. “ Atau, Jungkook-ah, kau yang mau melakukannya untuk Taehyung? Berlatih tinju, dan menghajar pacar Noonanya… ”
“ Benarkah?? Benar?? Apa aku boleh melakukannya?? ”
Jungkook memperhatikan ketiga Hyungnya bergantian, mencaritahu apa mereka serius atau tidak. Bukan karena ia ingin menghajar orang, tapi bisa berlatih tinju terdengar keren. Dia akan jadi punya sesuatu, untuk dibanggakan di depan Ji Ah. Senyum Jungkook bahkan sudah melebar, hanya dengan membayangkannya saja.
“ Mwoyaaa… ” Omel Taehyung. “ Kau tidak boleh memukul pacar Noonaku. Badannya besar, dan dia bisa memukulmu balik dengan cepat… ”
Jungkook segera memamerkan salah satu lengannya, dan mengomel tentang ia bisa melatih lengannya menjadi lebih besar jika benar-benar mengikuti kelas tinju kilat itu, saat Seok Jin keluar membawa alat-alat makan dan menjitak kepala Jungkook dengan senang hati.
“ Ya! Apa kalian masih membicarakan tentang kekerasan di depan Jungkook?? ”
“ Harum sekali! ” Yoon Gi segera berdiri, dan menghampiri Jimin yang keluar membawa panci besar yang berisi sup kepiting itu.
Yang lain segera ikut menghampiri Jimin, untuk menghindari omelan Seok Jin.
“ Ya! Dengarkan saat aku sedang bicara… ” Keluh Seok Jin.
Kerumunan yang mengelilingi Jimin segera bubar dan dengan cepat duduk membentuk lingkaran yang teratur, saat Nam Joon datang dengan wadah penanak nasinya. Seok Jin mengalah, dan segera ikut duduk sambil berdecak heran. Tanpa menunggu diberi aba-aba, ketujuh namja itu segera mengambil bagian mereka dan makan dengan lahap. Kadang-kadang Seok Jin memasak sesuatu yang terasa aneh, yang hanya bisa dikonsumsi oleh Jimin, Taehyung, dan Jungkook. Mungkin karena Seok Jin baru kali ini lagi memasak untuk mereka yang selalu makan dengan tidak teratur, atau mungkin sup kepiting itu memang benar-benar enak.
“ Whoa! Masakan Seok Jin Hyung memang yang terlezat di dunia… ” Ujar Jungkook dengan senyum lebar dan mata berbinarnya, sambil kembali menyendokkan nasi ke dalam mangkuknya yang sudah kosong. “ Di rumah, aku bahkan tidak punya piring, karena sudah dipecahkan oleh Eomma. ”
Hoseok tersenyum mendengarnya, dan menaruh sepotong kecil tahu ke atas gunung nasi Jungkook. Diantara mereka bertujuh, nafsu makan Jungkook memang yang paling besar.
“ Makanlah yang banyak, Uri Jungkookie… ”
“ Bersyukurlah kita punya Seok Jin Hyung. ” Gumam Nam Joon. “ Kalau tidak, kita sudah lama mati karena kelaparan di luar sana. ”
“ Bagaimana kalau waktu itu, kita tidak bertemu dengan Seok Jin Hyung?? Kira-kira bagaimana hidup kita sekarang?? ” Tanya Hoseok dengan serius, membuat yang lainnya terdiam dan memikirkan pertanyaan namja itu.
Benar juga. Mereka punya cerita masing-masing hingga bisa bertemu dengan Seok Jin, tapi punya alasan yang sama kenapa hubungan persahabatan mereka begitu kuat melebihi ikatan antara seorang kakak dan adik. Seok Jin bahkan lebih baik, daripada sosok ibu yang tidak pernah mereka rasakan secara nyata sejak kecil. Seok Jin membuka mata mereka, membuat mereka sadar kalau mereka punya alasan untuk hidup dan tersenyum seperti orang lainnya. Pada akhirnya, mereka menjadi merasa saling memiliki dan menguatkan satu sama lain.
“ Apa yang kalian bicarakan? ” Tanya Seok Jin, memecah keheningan yang tidak ia sukai itu. “ Itu adalah takdir. Kita tidak akan pernah bisa menebak alasannya dengan tepat, karena takdir sudah dibuat bahkan sebelum kita lahir. Jangan membicarakannya lagi, dan lanjutkan saja makan kalian. ”
Keenam namja itu mengiyakan perkataan Seok Jin, dan melanjutkan makan sambil menceritakan hal-hal yang sepele saja sambil sesekali tertawa. Seok Jin memandangi mereka satu-persatu, dan berpikir bahwa sebelum kedua orang tuanya meninggal, Tuhan sudah membuatkannya lagi satu keluarga baru dan Seok Jin akan menjaga mereka bahkan jika itu harus dengan menukar hidupnya.
“ Min Yoon Gi!! Buka Pintunya!! Min Yoon Gi!!!! ”
Suara teriakan yang disusul gedoran pintu yang tergesa-gesa itu, mengejutkan semua yang berada di dalam apartemen. Tapi, kemudian Yoon Gi sadar, siapa yang sudah datang dan mengacaukan suasana malam ini. Apa orang-orang di luar itu tidak bisa pergi saja ke penjara dan menghajar ayahnya?? Kenapa harus Yoon Gi yang mereka incar?
“ Jangan dibuka, Hyung… ” Desis Jungkook takut, saat Nam Joon berdiri untuk berjalan ke arah pintu.
“ Ne, jangan dibuka. ” Timpal Jimin. Ikut merasa khawatir.
Yoon Gi yang gantian berdiri, dan berjalan melewati yang lain sambil menguatkan dirinya sendiri. Apa gunanya merasa takut pada saat seperti ini? Tapi, Yoon Gi kelewat sibuk berpikir untuk tidak bertindak seperti seorang pengecut, sehingga lengah dan sebuah pukulan yang mendarat di ulu hatinya saat ia membuka pintu membuatnya tersungkur dengan mudahnya. Taehyung segera menarik Jungkook masuk ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi, sementara yang lainnya menghadang tiga orang preman bertubuh besar yang menerobos masuk itu, tapi mereka kalah dalam hal tenaga.
Suara pecahan dan benda dari kayu yang menghantam lantai, segera terdengar saling susul-menyusul—para preman itu segera mengacak-acak seisi apartemen Yoon Gi. Jimin bahkan terluka karena terkena serpihan patahan kayu dari meja yang dipukulkan ke dinding, saat masih mencoba sekali lagi untuk menahan amukan mereka.
Preman pertama yang memukul Yoon Gi tadi, kali ini menendang perut namja yang masih tergeletak itu sekali lagi, sebelum mereka semua berhenti mengamuk dan berjalan ke ambang pintu.
“ Jika kau tidak segera mengembalikan uang yang sudah dipinjam oleh ayahmu, kami akan membuatnya berkali-kali lipat lebih buruk daripada ini. Kau mengerti???? ”
Suara pintu yang dibanting menutup dengan kasar, seolah-olah mengakhiri serangan mendadak yang brutal itu. Seperti sudah menahan napas untuk waktu yang lama, ketegangan itu perlahan-lahan mengendur. Tapi, kelegaan yang terasa segera berganti dengan kesadaran bahwa ada yang terluka. Nam Joon dan Seok Jin segera menghampiri Yoon Gi dan membantunya berdiri, sedangkah Jimin segera menghampiri Hoseok yang duduk meringkuk di balik sofa sedari tadi dengan raut wajah pucat dan dibanjiri keringat dingin itu. Taehyung dan Jungkook segera keluar, dan panik melihat keadaan di depan mata mereka itu.
“ Taehyung-ah, cepat kau antar pulang Jungkook sekarang, ne… ” Perintah Seok Jin sebelum kedua bocah itu sempat bertanya, dan segera diiyakan oleh Taehyung.
“ Aku akan mengantar pulang Hoseok Hyung. ” Gumam Jimin, sambil membantu Hoseok berdiri.
Seok Jin merogoh ke dalam saku celananya, menyerahkan kunci mobil kepada Nam Joon, lalu gantian memapah Yoon Gi.
“ Antar Hoseok dan Jimin pulang. Pastikan Jimin mengobati lukanya, lalu segera kembali kesini. ”
“ Nde, Hyung. ”
Seok Jin membantu Yoon Gi berjalan masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan namja itu dengan hati-hati, sementara Yoon Gi sendiri meringis kesakitan sambil meremas perutnya. Yoon Gi pernah menjalani operasi setahun yang lalu, dan Seok Jin khawatir jika pukulan dan tendangan yang diterima Yoon Gi tadi mengenai bekas operasinya. Mau tidak mau, Seok Jin kembali membayangkan adegan tadi itu, dengan perasaan sedih dan bersalah yang makin memenuhi pikirannya. Ia terlalu lemah untuk melawan dan membela Yoon Gi.
Tapi Seok Jin tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menghela napas panjang saja. Seok Jin tidak tahu, apakah saat ini Yoon Gi akan merasa lebih baik kalau Seok Jin mengkhawatirkan tentang bekas operasi itu atau tidak. Sejak awal Yoon Gi memang tidak mau ada yang membahas tentang bekas operasi itu, tempat dimana ayahnya membuat tanda yang tidak akan pernah Yoon Gi lupakan pada bagian terakhir ingatan tentang masa bahagia dalam hidup keluarganya.
“ Sejak kapan mereka mengejarmu? ”
“ Hyung tidak perlu tahu. ”
Seok Jin tidak mau mengalah. “ Berapa banyak yang ayahmu pinjam? ”
Yoon Gi memaksakan bangkit untuk duduk, lalu tersenyum sinis. Mengabaikan denyut sakit pada ulu hatinya, yang sekarang membuatnya merasa mual. Sakitnya terasa dua kali lipat lebih buruk sekarang, bahkan pada saat tendangan itu hanya beberapa senti di atas bekas lukanya itu.
“ Kalau aku sudah memberitahu Hyung berapa jumlahnya, lalu apa? ”
“ Yoon Gi-ya… ”
Yoon Gi menggeleng. “ Tidak. Aku tidak akan menyeret siapapun kedalam masalah ini, apalagi jika nanti sampai ada yang terluka. Aku ingin menjadi Yoon Gi yang keren, yang tidak membahayakan keluarga yang berada di dekatnya. ”
“ Kau berpikir terlalu berat. Kalau kami bisa membantumu, kenapa tidak? ”
“ Tolong jangan mendebatku. ”
Seok Jin menghela napas kalah, dan segera berdiri. “ Baiklah. Bagaimanapun, kau tidak mau kami melakukan sesuatu untukmu. ”
“ Mianhe, Hyung. ”
“ Aku akan membuatkanmu segelas teh. Tunggu saja dengan tenang, dan jangan pikirkan apa-apa tentang apartemenmu, ne? Aku yang akan membereskannya. ”
“ Hyung… ” Panggil Yoon Gi pelan, saat Seok Jin berbalik hendak meninggalkan kamar. “ Apa mereka… Orang-orang sialan tadi, mau memastikan akan membunuhku lain kali? ”
***
“ Taehyung-Ssi… ”
Suara panggilan itu, mengalihkan perhatian Taehyung yang sedang mencari-cari anak kunci di bawah deretan papan rak pot teras depan flat tempat tinggalnya. Bukan pot-pot yang ditanami bunga yang cantik, dengan kelopak berwarna putih ataupun merah jambu. Bagi Taehyung, itu hanyalah akar dan batang kering yang mati karena berani tumbuh dan menancap di dalam wadah bertanah minus kandungan air itu.
Tidak pernah ada yang sempat untuk menyirami, atau memberinya pupuk saat sore hari tiba. Kakaknya terlalu sibuk merokok di dalam studio musik pengap milik pacar temperamentalnya sejak pagi hingga sore, dan menangis karena dipukuli saat mereka berada di dalam flat ini untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak penting atau bahkan saat kakaknya hanya sendirian saja.
Pemikiran Taehyung kembali lagi pada saat sekarang, karena yeoja asing di hadapannya itu baru saja memanggil namanya sekali lagi.
“ Oh… Bagaimana kau tahu namaku? ”
“ Apa…Taehyung-Ssi lupa padaku? ”
Lupa? Memangnya Taehyung mengenalnya sebelum ini? Taehyung sedang tidak ingin berpikir keras, jadi ia hanya berpikir untuk mendapatkan jawaban cepatnya dengan menggeleng pelan. Yeoja asing itu tampak tersenyum tipis, dengan raut wajah yang menyiratkan kekecewaan. Tadi, ia sempat berharap Taehyung akan langsung tersenyum lebar, karena mengenalinya.
“ Apa Taehyung-Ssi benar-benar tidak ingat? Aku yang mengompres memar Taehyung-Ssi kemarin malam… Han Ji Ah. Si tetangga baru. ”
Oh. Taehyung jadi ingat sekarang.
“ Ah, si tetangga baru?? Mian. Aku sedang kelelahan, jadi tidak ingat hal yang lain. ”
Han Ji Ah tampak tersenyum tipis sekali lagi, tapi kali ini karena merasa lucu dengan jawaban Taehyung.
“ Nde. Tidak apa-apa. ”
“ Ada apa memanggilku? ” Tanya Taehyung, mengingatkan kembali alasan kenapa Ji Ah mau menunggunya selama dua jam di depan pintu flat pada malam yang dingin.
“ Ah. Itu… Kakak Taehyung-Ssi, Tae Hee Eonni, dia berada di flatku. Dia pulang dalam keadaan mabuk berat dan tidak bisa menemukan kunci flat kalian, jadi aku memutuskan untuk membawanya masuk ke tempatku dulu sampai Taehyung-Ssi pulang. Dia bilang, kuncinya dibawa oleh Taehyung-Ssi. ”
Taehyung menghela napas berat. Seperti masalah hari ini belum cukup juga untuknya. Ia segera menundukkan kepala sebentar untuk meminta maaf, pada yeoja mungil tetangga barunya itu.
“ Gomawo, Ji Ah-ya. Aku akan membawa Noonaku kembali sekarang. ”
“ Itu, ” Gumam Ji Ah lagi, menahan langkah maju Taehyung. Ia tidak bisa berkonsentrasi, saat Taehyung memanggil namanya seolah-olah mereka sudah menjadi teman dekat. “ Tae Hee Eonni tampak kelelahan. Karena ia sudah tertidur pulas, dan bisa saja terbangun tengah malam nanti karena lapar, mungkin, Taehyung-Ssi bisa membiarkan Tae Hee Eonni menginap saja dulu di tempatku untuk malam ini. ”
Lagi-lagi, dia merepotkan orang asing.
Taehyung menundukkan kepala sekali lagi untuk meminta maaf, tapi hal itu malah membuat Ji Ah jadi merasa sedikit tidak enak hati.
“ Maaf merepotkan, dan terima kasih. ”
“ Ah, ini bukan apa-apa. Aku hanya melakukan sebuah hal kecil, untuk membantu tetanggaku saja. ”
Taehyung tersenyum tipis.
“ Baiklah kalau begitu. Annyeong… ”
“ Taehyung-Ssi! ” Tahan Ji Ah panik, saat Taehyung baru saja berbalik membelakanginya.
“ Ada apa? ”
“ Memar Taehyung-Ssi… Apa sudah hilang? ”
Taehyung meraba bawah mata kirinya, yang sedikit tersembunyi di balik tudung jaket abu-abunya itu. Rasanya masih sedikit sakit, dan Taehyung merasa sedikit canggung karena ada orang asing yang mengetahui keadaannya lalu kemudian mengkhawatirkannya. Rasanya, memalukan.
“ Aku baik-baik saja. Selamat malam. ” Taehyung segera berbalik dan masuk ke dalam flatnya, meningggalkan Ji Ah yang kecewa karena tidak sempat mengatakan apa-apa lagi.
***
Park Jimin mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai dengan raut wajah gelisah, sementara ia memperhatikan beberapa keping uang koin di telapak tangannya, dengan satu tangan yang lain memegang gagang telepon umum di telinganya.
“ Seul-ah… Maaf, aku meneleponmu seperti ini, di waktu yang agak larut. Apa kau mengkhawatirkanku? Keadaannya memang sedang agak buruk disini, tapi aku baik-baik saja. Apa yang sedang kau lakukan? Surat-suratmu belum ada yang sampai, Seul-ah. Tapi, tidak apa-apa. Mungkin ada masalah dengan pengirimannya. Jangan khawatir, aku akan tetap membacanya nanti, sebanyak apapun itu. Ahaha… Ah, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. ”
Jimin segera meletakkan gagang telepon pada tempatnya, lalu kembali memperhatikan keping-keping uang koin di telapak tangannya dengan mata yang memerah. Tidak. Ia tidak akan pernah punya keberanian, untuk menelepon Yoon Seul dengan penuh percaya diri seperti tadi. Yoon Seul tidak akan menyukainya.
Jimin menghela napas, memasukkan koin-koin itu ke dalam kantong celananya, dan keluar meninggalkan bilik telepon umum yang dikelilingi kabut itu. Ia hanya sendirian, dalam jalannya menuju ke rumah.
***
Hoseok tersentak bangun, karena napasnya mendadak menjadi sesak. Dengan putus asa, ia menarik laci meja kayu yang berada di samping tempat tidurnya, tapi tidak menemukan botol kecil yang ia cari. Sambil mencengkeram dadanya yang terasa menyempit, Hoseok menggunakan seluruh tenaganya yang tersisa untuk berdiri dan bergegas pergi ke kamar mandi, dimana Hoseok menyimpan beberapa botol obat-obatan yang lain di dalam lemari wastafelnya. Keringat dingin membanjiri kening namja itu.
Menjatuhkan beberapa botol ke dalam wastafel karena tangannya yang gemetaran, Hoseok segera memaksakan diri untuk menelan sebutir pil besar yang ia cari, dan berusaha bernapas dengan pelan dan teratur. Tapi, lehernya seperti tercekik, jadi Hoseok segera memuntahkan kembali pil itu dan terbatuk-batuk.
Hoseok mencengkeram ujung wastafel dengan kuat, karena khawatir bisa terjatuh begitu saja ke lantai yang dingin. Ia muak dengan keadaannya yang seperti ini, dan bicara dengan psikiater tidak akan membuat hal-hal berubah menjadi lebih baik. Ia sudah lama tahu, bahwa suatu saat nanti tubuhnya tidak akan bisa mentoleransi jumlah obat yang ia konsumsi, sehingga tidak akan ada lagi apapun yang dapat menyelamatkannya. Sampai saat itu tiba, Hoseok hanya harus bisa bertahan sendirian menghadapi serangan rasa sakit itu, malam demi malam. Ia punya pilihan untuk menerima bantuan dari Jimin ataupun yang lain, tapi ia tidak pernah menganggapnya sebagai hal yang harus dipertimbangkan. Mereka sudah punya banyak masalah, dan Hoseok tidak ingin berubah menjadi masalah mereka yang berikutnya.

Telepon Hoseok berdering, tapi Hoseok tidak berniat mengangkatnya. Itu pasti Jimin, dan kalau Hoseok menjawab telepon bocah itu, Jimin pasti akan langsung berkesimpulan bahwa Hoseok terbangun lagi bahkan kalau Hoseok berbohong.