Mati.
Kata itu selalu berkonotasi
dengan kesedihan, kedukaan, dan air mata. Sering sekali, seseorang yang
ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, menjalani hidup hampa seperti mayat
hidup tanpa berpikir kalau ia sendiri punya kehidupan yang harus dilanjutkan. Lalu,
kemudian apa gunanya ia hidup? Hampir seratus persen manusia di muka bumi ini,
takut akan kematian itu sendiri. Bahkan ada diantara mereka, yang mengalami
gangguan tidur, hanya karena takut si malaikat maut akan muncul diam-diam di
depan jendela kamar mereka pada tengah malam yang berkabut dan dingin.
Bertudung hitam, bertombak, dan siap untuk menarik nyawa mereka pergi dengan
mudah atau diikuti dengan rasa sakit yang teramat sangat.
Tapi, bagaimana jika mati bisa
menjadi solusi bagi seseorang? Bagaimana jika kematian itu sendiri malah
membuat orang yang mengambil pilihan itu merasa bahagia?
Kim Seok Jin duduk terdiam
dengan tatapan lurus yang kosong dan tidak fokus, merenungkan kata itu di dalam
kepalanya secara berulang-ulang untuk menit-menit yang lama, berusaha
mencaritahu apakah ia harus menganggap kematian sebagai hal yang menyedihkan
atau solusi yang adil bagi setiap orang. Tapi, semakin lama Seok Jin
memikirkannya, ia seperti malah semakin kehilangan tenaga. Ada emosi yang
merayap naik dan siap meledak, tapi juga malah semakin melemahkan dirinya.
Lalu, bagaimana perenungannya ini seharusnya berujung??
Seok
Jin menghela napas panjang, merasa ruang kamar yang remang-remang dan dingin
ini membuat dadanya terasa makin terhimpit sesak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar