Selasa, 09 Juni 2015

Letter From 2015, May 10th

Malam ini gue melewati fase dimana orang menyebutnya teringat pada sang mantan. Gue tiba-tiba kepikiran dia, dan setelah itu gue kirimin dia sms. Ternyata, kita berantem lagi, seperti masa lalu. Lalu, gue tiba di satu fase lagi, dimana orang menyebutnya menyesali masa lalu. Gue teringat kenapa kita berantem, alasan-alasan kenapa gue mutusin dia, kenapa gue bilang nggak bakal bisa balikan lagi sama dia. Dan, kesimpulannya adalah gue sangat brengsek pada masa itu, karena ternyata kemudian gue tiba ke fase lainnya yang dibilang orang adalah menyesali kesalahan.
Apa gue bisa minta pengampunan dari mantan gue itu?
Ada satu saat dimana Gue ngebayangin dia bakal minta balikan, dan gue dengan menahan otak gue untuk mengirimkan kata iya ke lidah gue, menghela napas dengan berat hati dan berkata : I don’t think that we can make it, because I am really messed up and you deserve better.
Tapi, lucu juga kan kalau seseorang dengan sengaja minta rasa sakit yang pernah dia alami itu untuk siap-siap datang sekali lagi? Gue bukan mantan ataupun pacar yang baik, dan dia udah pasti nggak terkesan sama sekali dengan apa yang udah kita lewati.
Gue yang kekanakan, nggak punya pendirian yang tetap. Gue nggak bisa tegas terhadap keadaan gue, apalagi dengan berpikir jernih. Tadinya gue punya banyak hal buat ditulis, sekarang gue kehilangan kata-kata.
Gue akan tiba di fase yang mana lagi? 
Oh, iya. Fase dimana gue berharap gue bisa mengulang waktu dan jadi pacar yang baik buat dia, atau, setidaknya kita bisa beneran balikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar