Kim Jaejoong (JYJ)
Kim Yuna (OC)
Romance
T
Oneshoot
Disclaimer : Casts Milik Pemilik Masing-Masing, Ide Milik Saya.
.
.
.
.
Kim Yuna masuk kerja pukul delapan.
Seharusnya, dia sudah berdiri di balik
konter kasir tepat pukul delapan.
Tapi, ia baru tersentak bangun pukul
delapan lewat tiga puluh menit, dan terjatuh di depan pintu kamar karena
berlari sambil setengah melompat-lompat memaksakan celana denim biru usangnya
yang sudah kekecilan itu untuk lolos melewati kakinya.
Melakukan cuci muka dan sikat gigi kilat, Yuna
mengikat rambut ikal kusutnya sembarangan saja—lagi-lagi ia melewatkan sarapan
pagi—dan segera berlari meninggalkan kamar kontrakan kecilnya itu setelah
mengunci pintu.
“Ya!! Kim Yuna!! Kapan kau akan bayar sewa kamarmu???”
Lagi-lagi, Ahjussi pemilik bangunan empat
lantai kamar-kamar kontrakan kecil super murah itu meneriakinya. Tentu saja ia
akan meneriaki Yuna, kalau gadis itu belum membayar sewanya untuk tiga bulan
ini.
“Aku akan segera membayarnya!!!!”
Dan, lagi-lagi, Yuna hanya melewati si
pria paruh baya baik hati yang berdecak heran itu begitu saja.
Kalau ia kalah cepat daripada si pemilik
mini market tempat kerjanya yang datang melakukan inspeksi, dia akan
benar-benar dipecat kali ini. Seharusnya Yuna sudah dipecat sejak minggu lalu,
tapi si malaikat tampan Ji Chang Wook menyelamatkannya—membelanya dengan sangat
gagah berani.
Ah, si
pangeran keindahan. Yuna tersenyum malu sendiri saat mengingat
sosok berhidung mancung yang sudah lama bekerja dengannya di mini market itu. keberuntungan
itu bukan keahlian, karena kalau benar seperti itu, Yuna tidak akan pernah
mendapatkannya. Selain tekadnya yang kuat, dia memang tidak punya apa-apa lagi
untuk dibanggakan.
Jadi, karena keberuntungan adalah takdir,
makanya dia bisa bertemu dengan si pangeran keindahan bertubuh tinggi yang
benar-benar tipenya dari segala segi bernama Ji Chang Wook. Baik hati, tampan, alisnya
tebal, bibirnya tipis, terlihat keren saat ia hanya berdiri diam mencatat
daftar barang di pojokan toko. Ah… Pokoknya semuanya. Suara pria itu juga, Yuna
yakin dia akan mati karena diabetes di usia muda kalau Chang Wook bicara
padanya dengan nada ringan yang kelewat manis begitu setiap hari—sepaket dengan
senyumannya.
Ditambah dengan segala kesempurnaan yang
sudah disebutkan di atas, entah bagaimana Yuna akan mati. Yang jelas, ia
bahagia luar dalam.
Pikiran penuh euforia Kim Yuna buyar saat
bus yang ia tunggu tiba. Tanpa pikir panjang, ia segera naik dan menuju ke
bangku paling belakang. Sayangnya bus kembali berjalan terlalu cepat, dan Yuna
yang belum sempat duduk segera kehilangan keseimbangan ke depan.
“Hampir saja…”
Kim Yuna tersentak, saat merasakan ada
sepasang tangan yang memegang kedua bahunya. Ia segera menoleh lalu menegakkan
sikap tubuhnya, saling pandang dengan sorot gelap si pemilik tangan yang
menolongnya itu.
Rahangnya kaku dan tegas, beraut pucat, dan
memiliki potongan rambut hitam pendek yang berantakan. Sangat kontras dengan
wajahnya. Yuna bertanya-tanya, apakah pria ini sengaja membiarkan rambutnya
tampak tidak rapi seperti itu, atau, kemungkinan kecil, pria itu sama
terlambatnya dengan dirinya.
“Terima kasih…” Gumam Yuna, dan tangan yang merengkuh
bahunya segera terlepas.
Aneh
sekali.
Yuna berbalik, segera duduk di sudut
bangku paling belakang yang tadi ia tuju, memandang keluar bus dengan pikiran
yang melayang jauh.
***
Kim Yuna lupa, selain semua kesempurnaan
si pangeran keindahan yang bisa membuatnya tersenyum-senyum sendiri pagi tadi,
Chang Wook adalah seseorang yang tidak begitu suka banyak bicara—memulai
pembicaraan. Pasif. Mungkin karena dia sebenarnya adalah pemalu, mungkin karena
ia pikir banyak bicara itu buang-buang energi, atau mungkin juga karena
kemungkinan yang lainnya.
Yuna pernah memikirkan ini beberapa kali,
tapi kemudian memutuskan untuk tidak terlalu mempedulikannya. Terserah, selama
ia bisa terus bersama Chang Wook seperti ini.
“Kau baik-baik saja??”
“Oh??” Yuna mengerjap-ngerjap sebentar, menyadari ia lebih
banyak melamun hari ini. “Aku oke.”
Chang Wook tersenyum tipis, mengembalikan
beberapa kaleng susu yang tidak jadi dibeli ke raknya.
“Terima kasih, Chang Wook-Ssi…” Ujar Yuna sedikit nyaring,
agar cukup bisa didengar oleh Chang Wook. “Aku tidak jadi dipecat lagi hari
ini.”
Chang Wook melambai dari tempatnya. “Aku hanya coba
membantu. Cobalah untuk tidak terlambat lagi besok, oke??”
Yuna mengangguk samar. Tersenyum sambil
menopang tubuhnya di atas konter dengan kedua tangan, memperhatikan Chang Wook
merapikan beberapa kemasan keripik dan wafer yang bercampur. Selalu tampan dan
manis. Yuna pernah bertanya kenapa Chang Wook tidak ikut audisi untuk masuk
agensi artis saja, tapi pria bertubuh jangkung itu hanya tertawa lalu
menepuk-nepuk kepala Yuna dengan lembut.
Benar.
Kalau diingat-ingat lagi, wajah Yuna jadi
memerah sekarang.
Kontak
fisiknya yang pertama dengan Chang Wook.
Lamunan Yuna buyar lagi, saat pintu
terbuka dan seseorang masuk dnegan tergesa-gesa dalam keadaan setengah basah.
Deg.
Yuna tergagap dan segera melepaskan diri
dari sorot gelap yang masih segar dalam ingatannya itu, mengalihkan pandangan
keluar mini market—ternyata hujan sedang turun dengan deras siang ini.
Kenapa Yuna tidak menyadarinya?
“Ini…”
Yuna tersentak saat si pria dengan raut
wajah kaku itu sudah berdiri di depan meja kasirnya, menyodorkan dua kaleng
kopi hangat dengan senyum samarnya terukir di pahatan sempurna yang disebut
bibir itu. Rambutnya lembab, bahu mantelnya basah, dan setetes air lolos
menuruni sisi pelipisnya ke pipi. Apa dia memang sedang tersenyum, atau Yuna
hanya mengkhayalkannya saja? Dan, Yuna kembali merasakan perasaan aneh seperti
saat ia berada di bus tadi.
Saat cowok ini menolongnya—memegangnya.
Seperti… Yuna pernah bertemu pria ini
sebelumnya.
Yuna tergagap lagi, dan segera memasukkan
harga dua kaleng kopi itu dengan barcode
scanner, berusaha tampak sebiasa
mungkin.
“Ini…” Pria itu dengan luwes menyodorkan selembar uang lima
ribu Won, sebelum Yuna sempat menyebutkan total harga dua kaleng kopi itu. “Kau
selesai pukul tiga, kan??”
Chang Wook melirik ke arah kasir,
tertarik.
“A-Apa?” Yuna mengerjap-ngerjap, melirik jam dinding di
dalam mini market. Sejam lagi. Astaga,
kenapa dia peduli?? Yuna menggeleng. “Bagaimana kau—”
“Aku akan menunggumu, oke? Karena kau tidak bawa payung,
dan karena hujan hari ini baru akan berhenti lewat tengah malam nanti.”
Mulut Kim Yuna setengah terbuka.
Apa-apaan ini? Payung. Hujan. Apa pria di
hadapannya ini adalah peramal cuaca yang kebetulan peduli padanya? Gila.
Bagaimana kalau dia adalah penguntit?? Yuna segera menutup mulutnya dan
menggeleng lagi. Dia idiot, tapi dia masih bisa tahu bahwa tidak ada penguntit
yang mengaku akan menunggu sasarannya dengan nada ringan dan ramah
begitu—walaupun wajahnya tidak tampak ramah sama sekali. Yuna bukan seseorang
yang harus punya stalker.
Tapi, tetap saja Yuna merasa sedikit
ngeri.
“Ya, sudah.” Pria itu meletakkan salah satu kaleng kopi
dalam genggaman Yuna. “Sampai ketemu jam tiga.”
“A-Aku…”
Tapi, pria misterius itu sudah berbalik
lebih dulu dan keluar meninggalkan mini market. Melalui dinding kaca, Yuna bisa
melihatnya berlari menembus hujan ke seberang jalan.
Pria aneh.
Yuna menghela napas panjang, beralih
memandangi kaleng yang masih berada di dalam genggamannya itu.
.
.
.
Pria misterius itu benar-benar menunggunya.
Setidaknya, itu yang Yuna pikirkan saat
melihat sosok tinggi pucat itu kembali, melambai satu kali lalu berdiri membelakanginya
di dekat pintu masuk mini market tepat pukul tiga.
Dengan mantel yang masih sama basahnya,
rambut yang lembab, dan sebuah payung.
Kalau penampilannya—wajahnya—lebih
menyeramkan sedikit, mungkin Yuna akan berpikir kalau pria itu adalah makhluk
jahat entah apa namanya yang dikirim untuk menerornya.
“Mau kusuruh dia pergi?”
“T-Tidak usah.” Yuna membuka apron mini market yang
seharian ini ia kenakan dan menyodorkannya pda Chang Wook. “Sampai ketemu
besok.”
“Kau benar-benar akan pulang dengannya? Dia orang asing.”
Orang asing?
Yuna memperhatikan punggung pria di luar
itu sebentar, sebelum kembali beralih pada Chang Wook. Seandainya pangeran
keindahan di hadapannya ini yang menunggunya… Yuna segera menggeleng.
Benar-benar delusional.
“Tidak. Tentu saja aku tidak akan pulang dengannya. Kalau
dia sampai mengikutiku dan berbuat macam-macam, aku tinggal berlari sejauh dan
secepat mungkin, sambil menelepon polisi.”
Chang Wook menyunggingkan senyum. “Kau membuatnya
kedengaran mudah.”
“Karena aku adalah Kim Yuna.” Yuna balas tersenyum senang. “Baiklah,
sampai besok.” Yuna segera memakai tasnya dan berjalan meninggalkan mini
market.
Sosok pria yang sedari tadi bersandar di
dinding menunggu Yuna dengan sabar itu, segera menegakkan tubuhnya saat Yuna
membuka pintu dan keluar.
Yuna kembali mematung saat pandangan
mereka bertemu, dan jantungnya segera berdebar-debar aneh saat melihat kedua
sudut garis bibir yang sempurna itu tertarik membentuk sebuah senyum simetris tipis
yang jauh lebih kentara. Jadi, kali ini Yuna yakin dia tidak sedang
mengkhayalkannya saja.
“Hai.” Sapanya ramah.
Yuna masih tidak membuka mulut juga.
Pria itu segera menghampirinya. Dalam
jarak setengah meter, Yuna bisa melihat bibir yang sedikit memerah di atas
kulit wajahnya yang pucat. Bodoh. Apa yang ia perhatikan?? Yuna segera
menggeleng pelan, dan kali ini mengarahkan matanya ke tempat yang benar.
“K-Kenapa kau mengikutiku?”
Tanpa disangka-sangka, sorot mata yang
dalam itu bersinar jahil dan wajah Yuna segera memerah melihat pria bertubuh
tinggi di hadapannya ini sedang mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan tawa.
Cih, memangnya apa yang lucu dari pertanyaannya barusan?? Apa orang asing ini
pikir Yuna adalah leluconnya?
“Menarik sekali,” Pria itu bicara dengan nada rendah yang
hangat. “Mengingat nanti kau yang
akan terus mengikutiku.”
“Ap-a??”
“Lupakan. Aku kemari untuk menjengukmu lebih dulu, dan waktuku
hanya sedikit.”
.
.
.
Sudah nyaris pukul tiga dinihari, dan Kim
Yuna masih berguling-guling gelisah di atas tempat tidurnya. Berkali-kali ia
memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk bisa tertidur, tapi ujung-ujungnya ia
kembali terjaga dengan kepala yang rasanya mau meledak. Membuat gila saja.
Yuna kembali mendesah kesal dan berguling
ke arah lain, memperhatikan kaleng kopi yang belum ia buka sama sekali di atas
mejanya itu.
“Aku tertarik untuk
melihat bagaimana kau terlihat saat masih muda sekali, jadi aku datang. Dari
masa depan.”
Aargh…
Yuna kembali berguling ke arah sebaliknya,
menghadapi dinding kamarnya yang dingin.
Masa depan.
Hidup Kim Yuna sangat normal, dengan
fantasi makhluk horor dan pangeran keindahan yang tidak nyata sama sekali. Dia
tidak tahu kalau ada lelucon lain tentang mesin waktu, lubang hitam, hingga
berpindah ruang dengan kecepatan cahaya dalam satu kedipan mata yang
benar-benar ada. Maksud Yuna, dia gila atau bodoh karena tidak tahu tentang
kebenaran hal semacam itu??
Masa depan??
Yuna merasa mual, hanya dengan memikirkan
bahwa dia—nol koma sekian persen dari logikanya—mempercayai itu.
Yuna mengerang frustasi, bangkit untuk
duduk dan mengacak-acak rambutnya gemas.
“Aku adalah pacarmu.”
Mulut Yuna kembali membulat mengingat
kalimat yang diucapkan si pucat Kim Jaejoong padanya—astaga, Yuna bahkan tidak
bisa melupakan nama itu sekarang.
Pacar? Serius?
Yuna tidak mengharapkan sosok lebih
sempurna lain yang bisa jadi pacarnya selain Ji Chang Wook yang manis, tentu
saja. Kecuali ia mengalami kejut otak dalam kemungkinan satu banding sejuta di
hidupnya, membuat logikanya menjadi jungkir-balik dan tahu-tahu Chang Wook
sudah tidak setampan itu lagi.
Yuna mengerang lagi, sambil kembali
mengacak-acak rambutnya.
Seharusnya dia tidak membiarkan Kim Jaejoong
menemaninya pulang dan menceritakan semua omong kosong aneh itu.
Apa dia telepon kantor polisi saja? Membuat
laporan bahwa ada pasien khusus institusi perawatan mental yang berkeliaran,
terobsesi dengan mesin waktu dan mengaku-ngaku sebagai pacarnya di masa depan, entah
beberapa tahun kemudian.
Tapi, ada apa dengan perasaan aneh itu?
Yang melingkupinya saat mereka bertatapan.
Apa
itu?
Yuna merebahkan dirinya sambil menghela
napas pasrah, memandangi langit-langit kamarnya yang remang dengan penuh
pemahaman bahwa ia mungkin tidak akan bisa tertidur hingga pagi benar-benar
tiba nanti.
.
.
.
“Kau muncul lagi.” Gumam Yuna datar.
Kim Jaejoong tersenyum lebar, maju agar Yuna
bisa berdiri di bawah payung yang sama dengannya, dan mereka bertatapan
sebentar sebelum Yuna mengalihkan pandangannya lebih dulu.
“Kau tampak kelelahan. Apa semalam kau kurang tidur?”
Yuna kembali menatap Jaejoong, sengit.
Bagaimanapun, dia tidak tidur karena pria sialan itu dan perkataannya.
Tahu-tahu, Jaejoong terkekeh senang dan
itu membuat amarah Yuna jadi makin berkobar-kobar. Dua hal yang selalu Jaejoong
lakukan saat ia bertemu Yuna, bicara tidak masuk akal dan menertawainya.
“Jangan-jangan…” Jaejoong kembali tersenyum tipis. “Kau
menganggap serius semua perkataanku kemarin??”
Lihat??
Wajah Yuna benar-benar memerah sekarang
karena terbakar emosi.
Sialan. Dia benar-benar dikerjai orang
gila yang terobsesi dengan lelucon lubang hitam dan galaksi.
Yuna mengangkat kakinya untuk menginjak
Jaejoong dengan sepenuh hati, tapi sayangnya meleset karena pria itu sudah
menjauhkan salah satu kakinya lebih dulu. Yuna sedikit terkejut melihat gerak
refleks yang seolah-olah mengenalinya itu, tapi tidak membuat kemarahan Yuna
mereda. Darahnya malah makin mendidih.
“Mati saja!!” Yuna segera meninggalkan Jaejoong begitu
saja, tidak peduli kalau hujan membuatnya basah kuyup dengan cepat.
“Kim Yuna…” Kim Jaejoong segera menyusul dan menahan Yuna.
“Kau marah, ya?”
Heol… Bagaimana mungkin Yuna tidak marah???
Astaga. Dia benar-benar ingin jadi bom yang meledak dan menghancurkan Jaejoong
sekarang.
“Lepaskan aku! Kau ganggu orang lain saja!”
“Tidak mau…” Sorot mata Jaejoong berkilat-kilat jahil, dan Yuna
tersentak di tempatnya karena perasaan aneh itu muncul lagi. “Ayo, kita minum
kopi dulu baru kuantar kau pulang.”
Yuna tidak tahu kenapa dia menurut saja
saat Jaejoong menggandengnya pergi, sedangkan Jaejoong hanya bisa tersenyum
tipis karena bisa merasakan tatapan gadis itu yang memperhatikannya
lekat-lekat. Menggemaskan sekali.
“Kau sudah sadar??”
“H-uh??”
Jaejoong menoleh ke arah Yuna sebentar. “Kalau pacar masa
depanmu ini sangat tampan.”
“Cih, dasar orang gila. Kau benar-benar kehilangan
kewarasanmu, ya??? Tampan dari mana??? Mukamu itu tidak ada darahnya, tahu!!
Apa kau drakula??”
Jaejoong terkekeh senang. “Begitu, kah? Tapi, kau sering bilang kalau kau paling suka
bibirku…”
Wajah Yuna segera memerah. “B-Bi-bir apa maksudmu????
Dimana aku pernah bilang begitu??? Lepaskan aku, otak mesum gila!”
“Sangat menggemaskan.” Jaejoong malah mengeratkan
pegangannya pada pergelangan tangan Yuna, memaksa gadis itu ikut masuk kedalam
kafe bersamanya. “Benar-benar menarik.”
“Kau!! Jangan berani bicara macam-macam tentangku!! Kau
mau—”
“Kau sudah belajar menginjak kaki orang di usia semuda
ini???”
“Apa??? Kau… Darimana kau tahu kalau aku mau menginjakmu???”
Jaejoong melepaskan Yuna, dan mereka
berdua duduk di salah satu meja di sudut kafe. Ia tertawa riang melihat
keterkejutan dan ketertarikan di mata Yuna, sementara jantung gadis itu kembali
berdebar-debar aneh. Ia tercekat.
Dimana Jaejoong pernah tertawa seperti itu
untuknya??
Untuknya…
“Apa yang tidak aku tahu tentang Kim Yuna?? Lagipula, kau juga
mau menginjak kakiku tadi.”
“Cih…” Yuna bersandar pada punggung kursi, membuang muka
sambil melipat kedua lengan di dada.
Seharusnya ia tetap menginjak kaki si
sialan Jaejoong, bukannya ikut duduk bersamanya dan merepotkan otaknya dengan
memikirkan dimana ia pernah bertemu dengan Jaejoong.
“Mau pesan apa, tuan?”
“Dua Hot Latte dengan double shoot, dan aku mau
sepotong cheesecake dengan raspberry untuk gadis jelek ini.”
“Kau!” Yuna kembali menunjukkan tatapan sengitnya, lalu ia
beralih sebentar pada si pelayan yang masih tersenyum ramah. “Aku tidak mau Latte. Tolong berikan aku cokelat panas
biasa.”
“Baik.” Pelayan itu tersenyum dan segera menuju ke ruang
dalam kafe.
“Kau tidak suka Latte??”
“Aku tidak bisa minum itu.”
“Jadi, kau mencoba suka Latte
karena aku meminumnya??”
“Hah??”
“Kau benar-benar berkorban untukku, ya? Manis sekali.”
“Apa??? Astaga… Mentalmu sakit.”
.
.
.
Walaupun begitu, Kim Yuna tetap saja duduk
diam dan mendengarkan alunan musik yang memenuhi ruangan luas itu dalam
kebisuan sambil sesekali menyesap cokelat panasnya. Kim Jaejoong sendiri juga
tidak mengatakan apa-apa lagi, dan Yuna merasa terganggu karena tahu pria itu
terus memperhatikannya sambil sesekali tersenyum samar. Dia memang tidak
melihatnya secara jelas seperti saat Jaejoong tersenyum di depan mini market
tadi sore, tapi ia tahu karena bisa
merasakannya.
Yuna diselamatkan oleh ponselnya yang
berdering.
Chang
Wook-Ssi.
Tentu saja, pangeran keindahannya itu
adalah superhero yang akan selalu ada
saat Yuna butuh, bahkan ketika Yuna tidak bisa mengatakannya.
“Chang Wook-Ssi…”
“Yuna-ya…”
Yuna sedikit tertegun saat Chang Wook
melepaskan sikap formalnya pada Yuna selama ini di telepon. Yuna segera
berdehem, berusaha kelihatan biasa saja di depan Jaejoong yang mendelik
menatapnya tidak suka.
“Ada apa?”
“Kau sudah tiba di rumah?”
“Oh. Soal itu…”
“Kau masih bersama orang asing tadi, ya?”
“Hah?? Oh… Umm… Iya.” Yuna menggigit bibirnya, ingin sekali
mengatakan tidak.
“Ah… Sayang sekali.” Chang Wook terdengar berdecak masam di
ujung telepon. “Padahal aku berada di depan pintu kamarmu sekarang. Aku bawa
dua mangkuk Jjangmyeon. Siapa tahu kau belum makan—”
“Jangan khawatirkan kami. Selamat malam.”
Pip.
Jaejoong meletakkan ponsel Yuna di atas
meja dengan sorot penuh kepuasan di atas wajah masamnya itu.
“YA!!!” Bentak Yuna tidak percaya. Dia kembali dipenuhi
kemarahan. “Kim Jaejoong!!! Siapa bilang kau boleh bertindak seenaknya???”
“Kau tidak usah lagi berhubungan dengan orang ini.”
Yuna benar-benar tidak percaya Jaejoong
melakukan ini padanya. Mengingat Chang Wook sedang berdiri di depan kamar
kontrakannya saat ini, mengingat pria itu membawa dua mangkuk Jjangmyeon saat
ini, dan mengingat kesempatannya untuk makan malam yang pertama kalinya bersama
Chang Wook baru saja dikempeskan dengan jarum oleh Jaejoong, Yuna benar-benar
frustasi dan berharap ia bisa melilitkan bom ke sekujur tubuh Jaejoong dengan
selotip.
Lalu, benda-benda itu meledak.
“Kenapa kau harus mengatur-aturku?? Memangnya kau siapa??
Inspektur kedisiplinan?? Kau yang seharusnya tidak usah menggangguku. Kau yang
seharusnya pergi dan biarkan aku berhenti berurusan denganmu! Idiot mesum
kurang ajaaar!”
“Auh…” Jaejoong berpura-pura mengorek-ngorek sebelah
telinganya. “Kau memang paling menyebalkan kalau sudah mengomel.”
“Aku menyebalkan??? Halooo! Siapa yang memutuskan sambungan
telepon seseorang seenaknya saja??? Aku yang seharusnya bilang begitu!
Menyebalkan!!”
“Sudahlah!” Tukas Jaejoong kesal. “Wajar saja kalau aku
cemburu, kan???”
“Ha-ah??” Keterkejutan Yuna muncul menjadi satu suku kata
yang diucapkan dalam bentuk dua silabel, sementara mulutnya sudah setengah
membulat sekarang. “Kau… Apa?”
“Aku cemburu.” Gumam Jaejoong datar, membuang muka ke arah
lain. “Aku tahu aku tidak boleh merasa begitu, karena secara teknis, kau belum
jadi pacarku.”
Yuna segera mengatupkan mulutnya,
mengerjap-ngerjap memperhatikan Jaejoong dengan penuh kebingungan. Mendadak,
kepalanya terasa amat penuh dengan banyak hal.
Lalu, Yuna ingat dia tidak boleh sedikitpun
terbawa-bawa lelucon masa depan bla bla bla Jaejoong, jadi ia segera menghela
napas dan kembali bersandar di punggung kursinya. Memperhatikan Jaejoong dengan
tatapan menilai.
Kenapa pria ini repot-repot membuang-buang
waktu untuk mengganggunya??
“Lagipula,” Jaejoong bicara lagi, balas menatap Yuna. “Dia
tidak akan menyukaimu.”
Mendengar perkataan Jaejoong itu, Yuna
jadi ingat lagi pada fakta bahwa Ji Chang Wook memang tidak akan pernah
menyukainya. Chang Wook pasti lebih tertarik pada gadis berambut panjang
terawat yang anggun dan imut-imut, bukannya yang suka mendengkur saat tidur dan
berantakan sepertinya. Sayang sekali.
Tidak dalam sejuta tahun.
Yuna tersenyum masam. “Benar, sih. Karena—”
“Kau pernah buang angin di depannya.”
“APA???” Wajah Yuna segera berubah menjadi merah padam.
“K-Kau… Dari mana kau tahu soal aib itu???”
Kedua mata Jaejoong bersinar jahil lagi. “Sudah kubilang,
aku tahu semua tentang Kim Yuna.”
“Aku tidak pernah memberitahunya pada siapapun!!! Aduh,
bagaimana ini???? Apa kau temannya Ji Chang Wook?? Chang Wook masih mengingat
kejadian itu dan memberitahumu???? Kau mengaku saja!!”
“Astaga…” Jaejoong benar-benar tergelak sekarang. “Kau
sendiri yang menceritakannya padaku. Mumpung aku menemuimu disini, kita bahas
saja sekalian.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan!” Yuna membuang muka.
“Aku hanya kebetulan sedang sembelit di depan Chang Wook.”
“Sistem pencernaanmu benar-benar payah sejak kau masih muda,
ya??”
“Diam!!”
“Menggemaskan sekali… Makan malamlah denganku, oke?”
“Jangan bermimpi aku mau pergi denganmu.”
“Kau tidak mau daging yang akan meleleh di lidahmu saking
lezatnya????”
“Mau.” Sahut Yuna cepat, melirik Jaejoong lalu kembali
melihat keluar.
.
.
.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Lamunan Jaejoong buyar.
Ia mengalihkan pandangan di luar jendela
bus yang buram dan gelap karena hujan yang masih terus mengguyur, menatap Yuna
yang secara tidak terduga tampak penasaran. Jaejoong menyunggingkan senyum
samar, dan berusaha merilekskan sikap tubuhnya dengan menghela napas panjang.
Ia menikmati hari ini, sangat. Tapi, ia
sudah harus kembali besok.
Kembali.
Tidak ada satupun hal yang Jaejoong
katakan pada Yuna, yang merupakan kebohongan. Dia hanya tidak mau memaksakan
gadis itu untuk terlalu mempercayai sesuatu yang kedengarannya memang konyol
baginya—bagi Jaejoong juga, awalnya. Toh, Jaejoong juga sudah melakukan
lompatan waktu dengan mesin waktu buatan militer Korea Selatan itu—Jaejoong
yang hanya mahasiswa jurusan arsitektur biasa, kebetulan membaca brosur tentang
proyek tersebut dan menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan uji coba—ke saat dimana
Yuna masih kecil, dan Jaejoong tahu dia sudah harus merasa puas melihat sedikit
gambaran kehidupan gadis itu.
Lagipula, dia juga sudah melihat lebih
dulu saat dimana ia berpacaran dengan Yuna sepuluh tahun ke depan, jadi
Jaejoong tahu bahwa mereka pasti akan bertemu lagi dan ia akan punya sangat
banyak waktu untuk dihabiskan dengan Yuna. Dia akan lupa—sayangnya setelah
percobaan mesin waktu ini selesai, dia pasti akan dibuat lupa oleh
pemerintah—dan apa yang mereka lakukan dua hari belakangan ini memang akan sedikit
merubah alur masa depannya, tapi benang merahnya tidak akan salah.
“Boleh aku minta sesuatu darimu??”
“Hah?” Yuna mengerjap-ngerjap.
Jaejoong menjulurkan tangannya. “Beri aku ponselmu
sebentar.”
Ragu-ragu, Yuna merogoh kantong jaketnya
dan menyodorkan benda yang Jaejoong minta. Jaejoong memasukkan ponsel itu ke
dalam saku mantelnya, menarik Yuna untuk turun dari bus yang sudah berhenti di
halte blok tempat tinggal Yuna. Di bawah payung Jaejoong, mereka berdua
berjalan bersama tanpa suara, hingga beberapa menit kemudian mereka sudah tiba
di depan pagar bangunan kamar kontrakan yang Yuna huni selama ini.
Sorot lampu jalan membuat kulit pucat
wajah Jaejoong menguning seperti tembaga, kontras dengan sorot matanya yang
selalu gelap dan dalam. Yuna mengerjap-ngerjap lagi dan mengalihkan
pandangannya ke arah lain. Dalam jarak yang cukup dekat, Yuna merasakan
serangan perasaan aneh itu lagi yang membuatnya menjadi sedikit gugup.
Jaejoong menunduk, dengan luwes segera
membuka kalender di ponsel Yuna dan mengetikkan sesuatu sebelum menunjukkan apa
yang baru saja ia kerjakan pada gadis itu.
Tanggal 24, pada bulan Desember 2015,
ditebalkan. Di kolom keterangan di bawah deretan angka-angka kalender, ada catatan
pengingat : Kim Jaejoong.
Yuna menatap pria bertubuh tinggi di
hadapannya itu dengan dengan kening mengernyit.
“Jangan pernah berani menghilangkan ponselmu, apapun yang
terjadi, oke? Aku selesai dari wajib militer pada tanggal dua pulub empat
Desember, dan kita akan bertemu pada
saat itu. Kau harus terus mengingatku, sampai saat remindernya berbunyi. Lalu, kau harus mencariku—Kim Jaejoong. Mudah
ataupun sulit, kau harus menemukan aku.”
“A-Aku…” Yuna mengerjap-ngerjap lalu menggeleng. Dia
bingung. “Kenapa aku harus melakukannya? Kenapa kita harus bertemu?”
“Tsk! Pokoknya, berdandanlah sedikit pada saat itu.
Setidaknya, mandi dan sisir rambutmu.”
“Kau!” Yuna membuang muka dengan sedikit perasaan terhina.
Dia bisa berdandan dan jadi sangat cantik
kalau dia mau, tapi dia hanya tidak mau melakukannya karena gadis-gadis lain
bisa iri.
Jaejoong menyentuhkan telapak tangannya ke
sisi wajah Yuna—tidak tampak sedang bercanda sama sekali dengan sorot gelapnya,
membuat gadis itu sedikit terkesiap merasakan dingin di permukaan kulitnya
sendiri. Saat mata mereka saling bertatapan lagi, Yuna kembali terkesiap karena
perasaan familiar itu datang menyergapnya lagi.
Perasaan saat Jaejoong menyentuhnya—bagaimana
tangan pria itu menempel di pipinya dengan tepat, dan bagaimana ia menatap Yuna
lekat-lekat penuh penekanan.
Dimana Jaejoong pernah melakukannya???
“Kau harus dengarkan kata-kataku dengan baik. Kau harus
memikirkan aku selama sepuluh tahun ini—merindukanku sekalian, kalau
memungkinkan—lalu kau harus datang
padaku saat waktunya tiba.”
Yuna menggeleng-geleng pelan. Dia semakin
pusing dengan setiap kata yang Jaejoong ucapkan dengan suaranya yang halus dan
tajam itu.
Jaejoong berdecak sebal lagi.
Ia maju dan mengecup Yuna dengan lembut,
menyentuhkan bibirnya yang sama dinginnya dengan potongan es ke kening gadis
yang hanya bisa membeku dengan kedua mata melebar karena kaget itu.
Yuna menggigit bibir, memejamkan mata
perlahan, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat saat Jaejoong beralih merengkuh
tubuhnya erat dengan satu tangan. Hangat sekali.
Demi apapun, debaran jantungnya sangat kacau di bawah sana, dan dia benci
Jaejoong karena sudah melakukan ini padanya.
Dia orang asing, dan dia hanya bicara
omong kosong seharian.
Tapi, dia bisa menembus pertahanan Yuna
dengan mudah.
Dan, Yuna merasa kepalanya berputar-putar
saat Jaejoong mundur, melepaskan rangkulan tangannya di punggungnya. Yuna kembali
mendongak menatap Jaejoong.
“Kau mengerti semua yang aku katakan, kan??”
Yuna ingin bicara, tapi dia tidak tahu
harus mengatakan apa.
“Kau harus mengerti,
Kim Yuna.” Jaejoong menyerahkan payungnya dalam genggaman Yuna. “Aku pergi,
oke? Cepatlah masuk, dan pakai baju yang lebih hangat. Sampai ketemu lagi.”
“T-Tunggu…” Tangan Yuna setengah terulur untuk menahan
Jaejoong, tapi kemudian hanya terkepal di udara lalu terkulai di sisi tubuhnya.
Jaejoong sudah berlari menembus hujan dan
menghilang dari pandangannya dalam kabut di tengah tumpahan air hujan yang
dingin.
Dia sudah pergi, dan Yuna tidak akan
diganggu lagi. Kenapa harus mencegah Jaejoong pergi untuk mendapat penjelasan
lebih? Bukankah tidak ada satupun hal yang cukup masuk akal untuk Yuna
percayai? Atau… Yuna ingin agar Jaejoong bicara lebih lama, jadi suara halus
yang tajam itu bisa terus terdengar untuknya. Tidak mungkin.
Kenapa Yuna mendadak putus asa di bawah
sorot lampu jalan itu?
.
.
.
“Awas!!” Kim Jaejoong
segera menangkap tubuh kecil yang terjatuh dari tangga perosotan taman
kanak-kanak itu. “Fiuhhh… Hampir saja.”
“Terima kasih, Ahjussi…
Waaah… Ahjussi tampan sekali.”
Jaejoong tergelak
senang. “Matamu benar-benar bagus, Kim Yuna.”
“Oh??? Ahjussi tahu
namaku???”
Jaejoong mendudukkan
Yuna di tangga perosotan, lalu ia berjongkok di depan gadis kecil berkepang dua
itu, menatapnya sangat lembut. “Kau sudah bisa membaca??”
“Sudah!” Kedua bola
mata bulat dan jernih Yuna tampak penuh binar. “Aku juga sudah bisa menulis
namaku dengan cepat. Kata ibu, dua bulan lagi aku akan masuk sekolah dasar.”
“Begitu, ya?? Yuna
harus belajar yang rajin, oke?”
“Tapi… Apa yang Ahjussi
lakukan disini?? Anak Ahjussi bersekolah disini??”
Jaejoong menggeleng pelan.
Yuna menggemaskan sekali dengan dua gigi depannya yang tanggal. “Aku sedang
menemui calon istriku yang cantik.”
“Siapa??? Apa dia bu
guruku???”
Jaejoong menggeleng
lagi, menyentuhkan telapak tangannya ke sisi wajah bulat Yuna dan
mengusap-usapnya lembut. “Dia sedang bermain sekarang.”
“Bermain??”
Jaejoong tersenyum
lebar, mengusap-usap pipi Yuna lagi lalu berdiri. “Yuna harus jadi anak yang
baik, ya? Ahjussi pergi dulu… Sampai ketemu lagi.”
.
.
.
Itu
dia.
Kim Yuna tersentak bangun, saat Kim
Jaejoong dalam mimpinya pergi.
Kenapa dia merasa pernah bertemu Jaejoong,
kenapa pria itu tampak sangat familiar dengan senyum dan tatapannya dan
sentuhan tangannya, Yuna sudah tahu sekarang.
Dia
ingat semuanya.
Yuna segera turun dari ranjangnya, berlari
keluar bangunan sambil memakai jaket yang sedari awal ia sampirkan di punggung
kursi kamar.
Dia harus bicara dengan Kim Jaejoong. Pria
bodoh itu belum boleh pergi dulu.
Tapi, selain kompleks perumahan yang tanpa
kehidupan di tengah malam yang dingin begini, Yuna tidak melihat ada siapapun
yang mungkin saja berdiri di balik kegelapan bayangan. Yuna tidak melihat
Jaejoong dimanapun, dan seharusnya dia sudah sadar sejak awal kalau dia tidak mungkin
melihat pria itu dimanapun dalam jangkauan pandangannya sekarang.
Jaejoong sudah berpamitan tadi, kan?
Dengan kalimat-kalimat membingungkannya sepanjang lima halaman pesan ponsel,
yang baru terasa masuk akal sekarang.
Yuna menghela napas panjang, duduk
berjongkok dan memeluk lutut.
Kim
Jaejoong bodoh.
Jadi, sepuluh tahun harus Yuna habiskan
untuk memenuhi kepalanya dengan wajah pria itu??? Cih, enak saja. Yuna tidak
akan menurut pada Kim Jaejoong begitu saja. Tidak, terutama setelah aksi
kemunculan tiba-tiba sok kerennya itu lalu dia mengatakan Yuna harus mandi dan
bersisir sebelum menemuinya nanti.
Kalau pria itu akan melupakannya, Yuna
juga akan balas melupakannya—sebentar.
.
.
.
Ten Years Later…
Salju turun sejak pagi tadi.
Kim Yuna merapatkan mantel merahnya,
meraih tas selempangnya dan berjalan keluar meninggalkan ruang guru yang sudah
sepi itu. Hari ini, karena sekarang tanggal dua puluh empat Desember yang
berarti besok adalah hari libur internasional karena Natal, semua pekerja dibolehkan
pulang lebih awal termasuk staff pengajar taman kanak-kanak tempat Yuna bekerja
selama tiga tahun terakhir ini.
Yuna tersenyum sendiri, saat wedges cokelatnya menjejaki jalanan yang
seluruhnya putih tertutup salju, menikmati saat suara retakan bunga es yang
sangat ia sukai itu terdengar jelas di telinganya.
Sepuluh tahun sudah lebih dari cukup bagi
seorang Kim Yuna, untuk bekerja keras mengumpulkan uang, menamatkan sekolahnya
dan berkuliah, hingga ia bisa bekerja menjadi salah satu guru taman kanak-kanak
beberapa blok dari tempat tinggalnya. Ngomong-ngomong, Yuna sudah tidak tinggal
lagi di kamar kontrakan sempit itu. Dia sudah pindah ke apartemen yang lebih
luas, walaupun harganya masih lumayan murah.
Yang jelas, Yuna senang dengan kehidupannya
sekarang.
Pemikiran Yuna buyar saat ia melihat bus
yang akan ia naiki tiba, sedangkan jarak halte masih beberapa meter lagi di
depannya. Sial. Sebenarnya Kim Yuna
ada janji akan bertemu dengan teman-teman kuliahnya di salah satu pusat
perbelanjaan pukul sepuluh nanti, tapi entah kenapa hari ini dia hanya ingin
segera pulang saja.
Terpaksa ia harus segera berlari sekarang,
berhati-hati agar tidak jatuh terpeleset dan memecahkan kepalanya di atas
salju. Untungnya, dia bisa naik ke bus tepat waktu.
Hanya saja Yuna terlambat duduk, karena
dia menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdiri mengatur napas. Yuna sedang
menuju ke bangku penumpang paling belakang, saat bus mulai melaju dengan
kecepatan teratur lalu tahu-tahu berbelok di ujung jalan. Mengganggu
keseimbangan tubuh Yuna yang tidak sempat berpegang. Secara otomatis, ia meraih
apa saja yang ada di depannya.
“Huh… Hampir saja.” Yuna melepaskan pegangannya, berdiri
tegak kembali dengan senyuman lega, tapi sedetik kemudian tersadar kalau dia
baru saja menarik kain baju orang asing di hadapannya. Yuna segera mendongak
dengan perasaan takut. “Maaf…”
Pria bertubuh tinggi di hadapan Yuna itu
menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Yuna dengan sorot datar tanpa emosi.
Dia bahkan tidak tampak ingin tahu, terganggu atau sejenisnya. Dia hanya
melihat, hanya agar tahu siapa yang baru saja mengusiknya.
Untuk sesaat, Yuna terperangah melihat
pahatan wajah yang tampak pucat dan kaku itu, dengan sepasang alis hitam yang
sangat kontras, dan bibir yang kemerahan karena suhu dingin. Dibalik topi
cabaret loreng cokelatnya, Yuna melihat sedikit potongan rambut cepak rapi
berwarna hitam yang menyembul keluar.
Yuna kembali mengarahkan pandangannya pada
mata pria itu, dan dadanya berputar-putar pada perasaan familiar yang tidak
bisa ia ingat apa itu, atau kenapa ia bisa merasakannya.
Pria itu melepaskan cengkeramannya pada
pegangan bus, berbalik sepenuhnya menghadap Yuna yang masih mematung di tempat
itu.
Jangan pernah berani
menghilangkan ponselmu, apapun yang terjadi, oke?
“Kau baik-baik saja, nona??”
Drrrt… Drrrt… Drrrrttt…
Yuna tersentak lagi, karena ponselnya
bergetar. Tergagap, ia merogoh-rogoh ke dalam tas selempangnya dan melihat
layar pop-up pemberitahuan dari reminder
kalendernya. Kening Yuna mengernyit sebentar, bertanya-tanya kenapa ia bisa
memasang pengingat untuk hari ini.
Kim
Jaejoong.
Hah?
Aku selesai dari wajib
militer pada tanggal dua pulub empat Desember, dan kita akan bertemu pada saat
itu.
Dia teringat sesuatu…
Yuna mendongak sebentar, tergagap lagi
karena pria itu masih menatapnya.
Sorot itu…
Kau harus terus
mengingatku, sampai saat remindernya berbunyi. Lalu, kau harus mencariku—Kim
Jaejoong. Mudah ataupun sulit, kau harus menemukan aku.
Kim Jaejoong…
Yuna melirik tag nama yang terjahit di sisi kiri bagian dada baju seragam
tentara bermotif loreng cokelat pria itu, dan sekali lagi ia tersentak kaget
sendiri.
Kau harus dengarkan
kata-kataku dengan baik. Kau harus memikirkan aku selama sepuluh tahun
ini—merindukanku sekalian, kalau memungkinkan—lalu kau harus datang padaku saat
waktunya tiba.
Kim Jaejoong yang itu…
Mata Yuna membulat penuh pemahaman.
Dia ingat semuanya sekarang, dan ia tidak
bisa tidak tersenyum mengingat betapa lucunya pertemuan ini. Hal yang paling ia
tunggu, tapi paling pertama ia lupakan setelah malam dingin sepuluh tahun yang
lalu itu pergi.
Yuna kembali memfokuskan tatapannya pada
Jaejoong, sementara senyuman lebar yang manis itu masih menghiasi wajahnya yang
merona samar. Bukan karena cuaca dingin, tapi karena jantungnya makin
berdebar-debar tidak karuan, mengetahui dengan jelas kenapa ia merasa segala
sesuatunya begitu familiar hari ini, dan kenapa ia bisa merasa seperti itu.
Kening Jaejoong mengernyit samar. “Nona??”
“Hai.”
“Hai?”
“Aku menemukanmu. Seperti yang kau minta, Kim Jaejoong.”
“Maaf??”
“Aku sedikit berdandan hari ini, dan aku juga menata
rambutku.”
“Nona, kau baik-baik saja??”
“Jangan menyesal, tapi mulai hari ini aku akan
mengikutimu…”
“Kau—”
“Kim Yuna, siapa tahu kau merasa sedikit ingat aku, atau
suaraku, atau senyumanku.”