Kamis, 15 September 2016

Ujian atau Pesan?

September, 2016.

Ini masih pergulatan yang sama sejak waktu memasuki bulan Mei. Namanya juga cita-cita, menolak untuk dipikirpun tetap masih akan terbayang-bayang hingga ke alam mimpi.

Cita-cita yang sudah dipupuk sejak belum bisa mengenal angka, bahwa suatu hari nanti harus jadi penulis, bisa pergi ke luar negeri, Eropa mungkin, keliling dunia, duduk di teras kafe tepi sungai di Belanda, dan menikmati bias tembaga matahari yang terbenam perlahan.

Tapi namanya juga manusia yang membuat impian, beda jika sudah Tuhan yang buat rencana. Kun Fayakun.

Manusia tidak akan pernah tahu kenapa dia harus diuji ketika hendak menjajal mimpinya dijadikan nyata. Manusia tidak akan pernah tahu, kenapa harus ketidakmampuan rizki yang menghalangi paling depan. Apakah ujian untuk tahu seberapa kuat dan sungguh-sungguhnya kita hendak memetik bintang, ataukah pesan bahwa Tuhan mau kita berhenti.

Sama tidak tahunya seperti ketika Tuhan menambahkan Orang Tua bersama dengan hambatan Rizki itu.

Kalau sudah begitu, seberapa kuat menahan sakit?

Ibu...

Kenapa ibu yang harus menahan dan mengempiskan cita-cita itu?

Kalau sudah begini, apakah harus melawan tembok atau menyerah?

Lagi-lagi, karena tidak tahu apakah sakit batin adalah ujian atau pesan Tuhan agar berhenti.


-Belum Selesai

Rabu, 22 Juni 2016

(Fanfiction) Late//Oneshoot



Main Casts : Jung Hoseok (BTS), Kim Yoon Hee (OC). Other will be revealed during the story
Genre : Romance
Rate : T
Length : Oneshoot
Disclaimer : I Own The Story, Jung Hoseok Belongs to Park Jimin (Uhuk), Bighit Ent., Bangtan, and Army.
A/N : Sangat tidak bertanggungjawab, masih ngutang chapter lanjutan The Other Side of The Door-nya Min Yoongi, tahu-tahu muncul malah publish ini kkkk. Hasil inspirasi dadakan, minjem Kim Yoon Hee yang identitas aslinya dirahasiakan (Plaak), lahirlah tulisan sederhana yang masih banyak kekurangan kiri kanan ini.
Semoga bisa menghibur, dan bikin yang baca bahagia.
.
.
.
.
Kenapa?
Setiap dia memejamkan mata, itu adalah kata pertama yang selalu muncul dalam kepalanya.
Kenapa tidak bisa?
“Hentikan…”
Kim Yoon Hee benci pemilik suara itu berbicara dengan nada lembut padanya. Dia juga benci tangan itu menarik paksa gelas minuman dari genggamannya.
“Kau sudah minum terlalu banyak, Yoon Hee-ya.”
“Kau tidak pernah mengalami hidup sepayah aku, kan, Jung Hoseok??”
“Kau mabuk.” Elak Hoseok. “Ayo, aku akan mengantarmu—”
“Tidak mau!!” Yoon Hee segera menepis tangan Hoseok yang menyentuh bahunya. “Kau tidak pernah sepayah aku, kan?? Benar, kan??”
Jung Hoseok tidak menjawab.
Yoon Hee mendesis sinis, beralih pada bartender di balik meja dan minta diberikan sebotol kecil gin.
Kenapa tidak bisa membuatnya bahagia??
Terserah kalau dia bakal pingsan karena mabuk, Hoseok tidak punya hak untuk mengurusinya. Kalau dia mau muntah-muntah sampai ususnya keluar, Hoseok juga tidak perlu mempedulikannya. Hoseok adalah orang asing, dan selamanya akan begitu.
“Aku ini payah sekali.” Yoon Hee bicara lagi, setelah menegak habis gin-nya. “Aku membiarkan diriku dirampok, Jung Hoseok. Aku dirampok sampai jatuh miskin.”
“Itu bukan salahmu.”
“Kau tahu apa!!???? Kau diam saja dan dengarkan aku…” Yoon Hee kesal melihat botolnya kosong. “Apa yang orang-orang tahu tentang cinta? Apa yang kau tahu tentang cinta?”
“Tidak ada.”
“Betul, kan??? Tidak ada! Mereka hanya jadi sok tahu dengan mengatakan cinta itu indah, membahagiakan, bla, bla, bla…” Yoon Hee berdecak kesal karena Hoseok menahan tangannya menjangkau gelas yang tadi Hoseok ambil. Dia menatap Hoseok tajam dengan kesadarannya yang tinggal setengah itu. “Kau mau tahu kebenarannya? Cinta itu sampah. Kotoran. Menjijikkan.”
Hoseok diam saja melihat mata sayu Kim Yoon Hee mulai berkaca-kaca.
“Aku bodoh sekali berpura-pura cerdas seperti orang lain… Aku ditipu seperti sebuah lelucon murahan, dan rasanya…” Air mata Yoon Hee mulai menetes perlahan. “Seperti aku selalu ditertawai oleh setiap pasang mata yang melihatku. Mereka mengejekku, hiks…”
“Kau bukan lelucon.”
Air mata Yoon Hee semakin deras, dan Hoseok segera menyekanya dengan tisu yang disodorkan oleh si bartender. “Aku tidak ditertawai saat jatuh karena menginjak kulit pisang… Huuuu… Hiks, hiks… Tapi aku malah diejek karena aku dirampok… Huwaaaaaa… Hiks… Huuuu… Uuuu… Uuuu… Memangnya aku, hiks, mau mengalami hal itu???”
“Ssshhh… Sudahlah. Tidak ada yang mengejekmu… Aku antar kau pulang, oke?”
“Aku…” Yoon Hee menepuk-nepuk dadanya, sementara air matanya masih menetes-netes. “Aku jatuh cinta, hiks, seperti seorang remaja saat umurku sudah dua puluh lima tahu~un. Aku berdebar-debar karena tanganku digandeng. Aku, hiks, aku menjerit-jerit saat ponselku berdering. Aku melakukan semua kegilaan itu, Hoseok-a~ah. Huuuuu… Uuuuuu…”
Hoseok tahu dengan benar.
Memangnya, siapa yang tidak jadi gila saat jatuh cinta? Tapi, Yoon Hee juga tidak perlu jadi gila saat putus cinta begini, karena harapan wanita itu sudah patah bertahun-tahun yang lalu.
“Aku tulus, Hoseok-ah. Kau tahu, kan? Kau tahu, kan, Jung Hoseok?? Jawab akuuu…”
“Iya. Aku tahu.” Hoseok kembali menyeka pipi Yoon Hee perlahan.
“Aku memberikan seluruh hatiku, tapi… hiks, tapi aku, hidupku malah direnggut… Sakit sekali. Mukaku dilempari sampah. Apa itu adil?? Setidaknya… Aku pantas mendengar terima kasih, kan??? Huuuuu…uuuuu…”
“Matamu bisa bengkak kalau kau menangis terus. Kita pulang, ya?”
“Tidak mau!!” Yoon Hee meninju bahu Hoseok lemah. “Memangnya kenapa kalau aku bersungguh-sungguh??? Apa itu adalah hal yang menakutkan??? Karena itu aku dicampakkan begini??? Karena tidak penting kalau aku yang terluka???”
Ponsel Yoon Hee di atas meja bergetar, dan layarnya yang menyala menunjukkan ada panggilan masuk.
Taehyung-ie.
Hoseok meringis samar.
Yoon Hee ikut memperhatikan layar ponselnya sebentar, sebelum kembali beralih pada Hoseok dan mengambil tisu dari tangan pria itu dengan kesal, menyeka sendiri air matanya sembarangan.
“Kau tidak tahu siapa itu yang menelepon, kan?”
Hoseok menggeleng. Pura-pura.
“Tentu saja kau tidak tahu!” Bentak Yoon Hee, lalu ia menunduk sambil meremas ujung kain celana pendeknya. Kembali sesenggukan. “Mana mungkin tahu, kalau sudah pergi sangat lama… Hiks… Mana mungkin bisa tahu, kalau tidak merasa penasaran. Hiks, hiks, huuuu~uuu… Uuuuuhuuuuhuuuhuuuuuu… Kenapa kau melakukan ini padaku???”
Jung Hoseok ragu-ragu untuk mengulurkan tangannya, dan akhirnya dia hanya bisa diam saja melihat Yoon Hee yang begitu kacau karenanya. Ya, dia si brengsek yang tidak tahu bagaimana melakukan satu hal saja di dunia ini dengan benar. Si brengsek idiot yang tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan perpisahan dengan tepat, jadi Yoon Hee tidak perlu meratap seperti ini.
Hoseok menebak jika itu karena dia masih terlalu muda saat itu. Bertahun-tahun yang lalu itu. Sama kekanakannya seperti Kim Yoon Hee yang jatuh cinta, Jung Hoseok juga dikendalikan oleh perasaannya yang terlalu besar. Membuatnya jadi lengah, dan kepanikan segera mengambil alih dengan mudah.
Sudah terlalu terlambat untuk menyesal sekarang.
Kim Yoon Hee mendongak perlahan, menyeka pipinya dengan punggung tangan.
“Kenapa kau harus muncul di hadapanku??”
Kenapa?
Mungkin Jung Hoseok ingin mencoba peruntungannya yang terakhir, dan takdir membantunya dengan sedikit dorongan keberanian.
“Aku tidak bisa mengendalikannya, Yoon Hee-ya.”
Bagus sekali. Memangnya Hoseok pikir Yoon Hee bakal senang melihatnya?
Ponsel Yoon Hee bergetar lagi, dan wanita itu menunggu hingga senyap kembali sebelum mulai bicara lagi.
“Kau tahu siapa itu yang meneleponku?”
“Ya. Aku tahu.” Tidak ada gunanya berbohong.
Yoon Hee tersenyum sinis. “Aku akan menikah minggu depan, Hoseok.”
Jung Hoseok tidak terkejut. Dia memang tahu kalau keberuntungannya sudah habis. Tapi, apa harus Kim Yoon Hee? Walaupun dia sudah tahu lebih dulu bahwa Yoon Hee akan segera menikah—alasan utamanya kenapa dia mengambil penerbangan pertama dari London untuk kembali ke Seoul, Hoseok masih ingin mencobanya.
“Kim Taehyung, dia sangat baik padaku. Kami bertemu saat musim panas dua tahun yang lalu.”
Hoseok merasa hatinya perih.
“Karena kau sudah mencabut hidup bahagiaku, aku harus mendapatkannya dari orang lain.” Yoon Hee menyodorkan uang tunai ke arah bartender, lalu turun dari kursi sambil meraih ponselnya. “Apa yang aku tangisi malam ini, hanya akan sampai disini. Tidak ada kali ketiga.”
Hoseok ikut turun dari kursi, dan perasaannya jauh lebih kacau daripada sebelum ini. Dia kehilangan dua kali, dan semua memang karena dia terlalu bodoh. Tidak berguna.
“Kau…” Yoon Hee cepat-cepat mengerjap agar dia tidak menangis lagi. “Kau harus mendoakan agar aku bahagia, oke??”
Hoseok tersenyum pahit. Irisan di hatinya terasa semakin lebar, dan hal itu membuat matanya yang gantian memerah. “Tentu.”
“Tapi jangan datang. Aku tidak mau mengundangmu.”
“Aku tidak akan datang.”
Yoon Hee mengangguk, dengan canggung menepuk-nepuk lengan Hoseok lalu berbalik meninggalkan bar. Dia sempoyongan dan kelelahan, tapi masih cukup kuat untuk tidak dibantu oleh Hoseok.
Hati Hoseok yang hancur tidak akan pernah sama lagi bentuknya.
Kim Taehyung datang dengan mobilnya, tidak lama setelah Yoon Hee menelepon balik.
Pria jangkung berwajah tampan itu segera berlari menghampiri Yoon Hee yang sempoyongan, mencegah tubuh wanita itu ambruk ke beton yang dingin.
Yoon Hee segera memeluk Taehyung erat-erat, lalu menangis di dada pria itu sepuasnya.
Taehyung segera membalas pelukan Yoon Hee sambil menepuk-nepuk punggung wanita itu pelan.
“Ada apa, hm?”
Yoon Hee menggeleng. Suaranya serak dan bergetar saat ia bicara. “Aku mengalami hari yang sangat berat.”
“Tidak apa-apa.  Sudah berlalu. Besok harinya sudah berganti, Yoon Hee.”
“Bagaimana kalau kau tidak ada?”
“Apa maksudmu? Aku akan selalu ada…”
“Kalau kau mau pergi?”
Taehyung tersenyum mendengar pertanyaan Yoon Hee itu. Jarang-jarang wanita itu mau membicarakan sesuatu yang serius, apalagi di depan—ugh—sebuah bar.
“Kau mau ikut denganku?”
Yoon Hee mundur untuk mendongak menatap Taehyung, dan pria itu menyeka sudut mata Yoon Hee lembut.
“Aku boleh ikut?”
“Tentu saja.”
Yoon Hee kembali menyandarkan kepalanya di dada Taehyung.
Kenapa tidak bisa membuatnya bahagia dengan cinta pertamanya??
Mungkin, karena benang merah tidak mengikat mereka untuk jadi satu.
Dan, ikatan seperti itu bukan Kim Yoon Hee yang bisa mengendalikannya.
.
.
.
.
The End

(Fanfiction) Perfect Past Future//Oneshoot



Kim Jaejoong (JYJ)
Kim Yuna (OC)
Romance
T
Oneshoot
Disclaimer : Casts Milik Pemilik Masing-Masing, Ide Milik Saya.
.
.
.
.
Kim Yuna masuk kerja pukul delapan.
Seharusnya, dia sudah berdiri di balik konter kasir tepat pukul delapan.
Tapi, ia baru tersentak bangun pukul delapan lewat tiga puluh menit, dan terjatuh di depan pintu kamar karena berlari sambil setengah melompat-lompat memaksakan celana denim biru usangnya yang sudah kekecilan itu untuk lolos melewati kakinya.
Melakukan cuci muka dan sikat gigi kilat, Yuna mengikat rambut ikal kusutnya sembarangan saja—lagi-lagi ia melewatkan sarapan pagi—dan segera berlari meninggalkan kamar kontrakan kecilnya itu setelah mengunci pintu.
“Ya!! Kim Yuna!! Kapan kau akan bayar sewa kamarmu???”
Lagi-lagi, Ahjussi pemilik bangunan empat lantai kamar-kamar kontrakan kecil super murah itu meneriakinya. Tentu saja ia akan meneriaki Yuna, kalau gadis itu belum membayar sewanya untuk tiga bulan ini.
“Aku akan segera membayarnya!!!!”
Dan, lagi-lagi, Yuna hanya melewati si pria paruh baya baik hati yang berdecak heran itu begitu saja.
Kalau ia kalah cepat daripada si pemilik mini market tempat kerjanya yang datang melakukan inspeksi, dia akan benar-benar dipecat kali ini. Seharusnya Yuna sudah dipecat sejak minggu lalu, tapi si malaikat tampan Ji Chang Wook menyelamatkannya—membelanya dengan sangat gagah berani.
Ah, si pangeran keindahan. Yuna tersenyum malu sendiri saat mengingat sosok berhidung mancung yang sudah lama bekerja dengannya di mini market itu. keberuntungan itu bukan keahlian, karena kalau benar seperti itu, Yuna tidak akan pernah mendapatkannya. Selain tekadnya yang kuat, dia memang tidak punya apa-apa lagi untuk dibanggakan.
Jadi, karena keberuntungan adalah takdir, makanya dia bisa bertemu dengan si pangeran keindahan bertubuh tinggi yang benar-benar tipenya dari segala segi bernama Ji Chang Wook. Baik hati, tampan, alisnya tebal, bibirnya tipis, terlihat keren saat ia hanya berdiri diam mencatat daftar barang di pojokan toko. Ah… Pokoknya semuanya. Suara pria itu juga, Yuna yakin dia akan mati karena diabetes di usia muda kalau Chang Wook bicara padanya dengan nada ringan yang kelewat manis begitu setiap hari—sepaket dengan senyumannya.
Ditambah dengan segala kesempurnaan yang sudah disebutkan di atas, entah bagaimana Yuna akan mati. Yang jelas, ia bahagia luar dalam.
Pikiran penuh euforia Kim Yuna buyar saat bus yang ia tunggu tiba. Tanpa pikir panjang, ia segera naik dan menuju ke bangku paling belakang. Sayangnya bus kembali berjalan terlalu cepat, dan Yuna yang belum sempat duduk segera kehilangan keseimbangan ke depan.
“Hampir saja…”
Kim Yuna tersentak, saat merasakan ada sepasang tangan yang memegang kedua bahunya. Ia segera menoleh lalu menegakkan sikap tubuhnya, saling pandang dengan sorot gelap si pemilik tangan yang menolongnya itu.
Rahangnya kaku dan tegas, beraut pucat, dan memiliki potongan rambut hitam pendek yang berantakan. Sangat kontras dengan wajahnya. Yuna bertanya-tanya, apakah pria ini sengaja membiarkan rambutnya tampak tidak rapi seperti itu, atau, kemungkinan kecil, pria itu sama terlambatnya dengan dirinya.
“Terima kasih…” Gumam Yuna, dan tangan yang merengkuh bahunya segera terlepas.
Aneh sekali.
Yuna berbalik, segera duduk di sudut bangku paling belakang yang tadi ia tuju, memandang keluar bus dengan pikiran yang melayang jauh.
***
Kim Yuna lupa, selain semua kesempurnaan si pangeran keindahan yang bisa membuatnya tersenyum-senyum sendiri pagi tadi, Chang Wook adalah seseorang yang tidak begitu suka banyak bicara—memulai pembicaraan. Pasif. Mungkin karena dia sebenarnya adalah pemalu, mungkin karena ia pikir banyak bicara itu buang-buang energi, atau mungkin juga karena kemungkinan yang lainnya.
Yuna pernah memikirkan ini beberapa kali, tapi kemudian memutuskan untuk tidak terlalu mempedulikannya. Terserah, selama ia bisa terus bersama Chang Wook seperti ini.
“Kau baik-baik saja??”
“Oh??” Yuna mengerjap-ngerjap sebentar, menyadari ia lebih banyak melamun hari ini. “Aku oke.”
Chang Wook tersenyum tipis, mengembalikan beberapa kaleng susu yang tidak jadi dibeli ke raknya.
“Terima kasih, Chang Wook-Ssi…” Ujar Yuna sedikit nyaring, agar cukup bisa didengar oleh Chang Wook. “Aku tidak jadi dipecat lagi hari ini.”
Chang Wook melambai dari tempatnya. “Aku hanya coba membantu. Cobalah untuk tidak terlambat lagi besok, oke??”
Yuna mengangguk samar. Tersenyum sambil menopang tubuhnya di atas konter dengan kedua tangan, memperhatikan Chang Wook merapikan beberapa kemasan keripik dan wafer yang bercampur. Selalu tampan dan manis. Yuna pernah bertanya kenapa Chang Wook tidak ikut audisi untuk masuk agensi artis saja, tapi pria bertubuh jangkung itu hanya tertawa lalu menepuk-nepuk kepala Yuna dengan lembut.
Benar.
Kalau diingat-ingat lagi, wajah Yuna jadi memerah sekarang.
Kontak fisiknya yang pertama dengan Chang Wook.
Lamunan Yuna buyar lagi, saat pintu terbuka dan seseorang masuk dnegan tergesa-gesa dalam keadaan setengah basah.
Deg.
Yuna tergagap dan segera melepaskan diri dari sorot gelap yang masih segar dalam ingatannya itu, mengalihkan pandangan keluar mini market—ternyata hujan sedang turun dengan deras siang ini.
Kenapa Yuna tidak menyadarinya?
“Ini…”
Yuna tersentak saat si pria dengan raut wajah kaku itu sudah berdiri di depan meja kasirnya, menyodorkan dua kaleng kopi hangat dengan senyum samarnya terukir di pahatan sempurna yang disebut bibir itu. Rambutnya lembab, bahu mantelnya basah, dan setetes air lolos menuruni sisi pelipisnya ke pipi. Apa dia memang sedang tersenyum, atau Yuna hanya mengkhayalkannya saja? Dan, Yuna kembali merasakan perasaan aneh seperti saat ia berada di bus tadi.
Saat cowok ini menolongnya—memegangnya.
Seperti… Yuna pernah bertemu pria ini sebelumnya.
Yuna tergagap lagi, dan segera memasukkan harga dua kaleng kopi itu dengan barcode scanner, berusaha tampak sebiasa mungkin.
“Ini…” Pria itu dengan luwes menyodorkan selembar uang lima ribu Won, sebelum Yuna sempat menyebutkan total harga dua kaleng kopi itu. “Kau selesai pukul tiga, kan??”
Chang Wook melirik ke arah kasir, tertarik.
“A-Apa?” Yuna mengerjap-ngerjap, melirik jam dinding di dalam mini market. Sejam lagi. Astaga, kenapa dia peduli?? Yuna menggeleng. “Bagaimana kau—”
“Aku akan menunggumu, oke? Karena kau tidak bawa payung, dan karena hujan hari ini baru akan berhenti lewat tengah malam nanti.”
Mulut Kim Yuna setengah terbuka.
Apa-apaan ini? Payung. Hujan. Apa pria di hadapannya ini adalah peramal cuaca yang kebetulan peduli padanya? Gila. Bagaimana kalau dia adalah penguntit?? Yuna segera menutup mulutnya dan menggeleng lagi. Dia idiot, tapi dia masih bisa tahu bahwa tidak ada penguntit yang mengaku akan menunggu sasarannya dengan nada ringan dan ramah begitu—walaupun wajahnya tidak tampak ramah sama sekali. Yuna bukan seseorang yang harus punya stalker.
Tapi, tetap saja Yuna merasa sedikit ngeri.
“Ya, sudah.” Pria itu meletakkan salah satu kaleng kopi dalam genggaman Yuna. “Sampai ketemu jam tiga.”
“A-Aku…”
Tapi, pria misterius itu sudah berbalik lebih dulu dan keluar meninggalkan mini market. Melalui dinding kaca, Yuna bisa melihatnya berlari menembus hujan ke seberang jalan.
Pria aneh.
Yuna menghela napas panjang, beralih memandangi kaleng yang masih berada di dalam genggamannya itu.
.
.
.
Pria misterius itu benar-benar menunggunya.
Setidaknya, itu yang Yuna pikirkan saat melihat sosok tinggi pucat itu kembali, melambai satu kali lalu berdiri membelakanginya di dekat pintu masuk mini market tepat pukul tiga.
Dengan mantel yang masih sama basahnya, rambut yang lembab, dan sebuah payung.
Kalau penampilannya—wajahnya—lebih menyeramkan sedikit, mungkin Yuna akan berpikir kalau pria itu adalah makhluk jahat entah apa namanya yang dikirim untuk menerornya.
“Mau kusuruh dia pergi?”
“T-Tidak usah.” Yuna membuka apron mini market yang seharian ini ia kenakan dan menyodorkannya pda Chang Wook. “Sampai ketemu besok.”
“Kau benar-benar akan pulang dengannya? Dia orang asing.”
Orang asing?
Yuna memperhatikan punggung pria di luar itu sebentar, sebelum kembali beralih pada Chang Wook. Seandainya pangeran keindahan di hadapannya ini yang menunggunya… Yuna segera menggeleng. Benar-benar delusional.
“Tidak. Tentu saja aku tidak akan pulang dengannya. Kalau dia sampai mengikutiku dan berbuat macam-macam, aku tinggal berlari sejauh dan secepat mungkin, sambil menelepon polisi.”
Chang Wook menyunggingkan senyum. “Kau membuatnya kedengaran mudah.”
“Karena aku adalah Kim Yuna.” Yuna balas tersenyum senang. “Baiklah, sampai besok.” Yuna segera memakai tasnya dan berjalan meninggalkan mini market.
Sosok pria yang sedari tadi bersandar di dinding menunggu Yuna dengan sabar itu, segera menegakkan tubuhnya saat Yuna membuka pintu dan keluar.
Yuna kembali mematung saat pandangan mereka bertemu, dan jantungnya segera berdebar-debar aneh saat melihat kedua sudut garis bibir yang sempurna itu tertarik membentuk sebuah senyum simetris tipis yang jauh lebih kentara. Jadi, kali ini Yuna yakin dia tidak sedang mengkhayalkannya saja.
“Hai.” Sapanya ramah.
Yuna masih tidak membuka mulut juga.
Pria itu segera menghampirinya. Dalam jarak setengah meter, Yuna bisa melihat bibir yang sedikit memerah di atas kulit wajahnya yang pucat. Bodoh. Apa yang ia perhatikan?? Yuna segera menggeleng pelan, dan kali ini mengarahkan matanya ke tempat yang benar.
“K-Kenapa kau mengikutiku?”
Tanpa disangka-sangka, sorot mata yang dalam itu bersinar jahil dan wajah Yuna segera memerah melihat pria bertubuh tinggi di hadapannya ini sedang mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan tawa. Cih, memangnya apa yang lucu dari pertanyaannya barusan?? Apa orang asing ini pikir Yuna adalah leluconnya?
“Menarik sekali,” Pria itu bicara dengan nada rendah yang hangat. “Mengingat nanti kau yang akan terus mengikutiku.”
“Ap-a??”
“Lupakan. Aku kemari untuk menjengukmu lebih dulu, dan waktuku hanya sedikit.”
.
.
.
Sudah nyaris pukul tiga dinihari, dan Kim Yuna masih berguling-guling gelisah di atas tempat tidurnya. Berkali-kali ia memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk bisa tertidur, tapi ujung-ujungnya ia kembali terjaga dengan kepala yang rasanya mau meledak. Membuat gila saja.
Yuna kembali mendesah kesal dan berguling ke arah lain, memperhatikan kaleng kopi yang belum ia buka sama sekali di atas mejanya itu.
“Aku tertarik untuk melihat bagaimana kau terlihat saat masih muda sekali, jadi aku datang. Dari masa depan.”
Aargh…
Yuna kembali berguling ke arah sebaliknya, menghadapi dinding kamarnya yang dingin.
Masa depan.
Hidup Kim Yuna sangat normal, dengan fantasi makhluk horor dan pangeran keindahan yang tidak nyata sama sekali. Dia tidak tahu kalau ada lelucon lain tentang mesin waktu, lubang hitam, hingga berpindah ruang dengan kecepatan cahaya dalam satu kedipan mata yang benar-benar ada. Maksud Yuna, dia gila atau bodoh karena tidak tahu tentang kebenaran hal semacam itu??
Masa depan??
Yuna merasa mual, hanya dengan memikirkan bahwa dia—nol koma sekian persen dari logikanya—mempercayai itu.
Yuna mengerang frustasi, bangkit untuk duduk dan mengacak-acak rambutnya gemas.
“Aku adalah pacarmu.”
Mulut Yuna kembali membulat mengingat kalimat yang diucapkan si pucat Kim Jaejoong padanya—astaga, Yuna bahkan tidak bisa melupakan nama itu sekarang.
Pacar? Serius?
Yuna tidak mengharapkan sosok lebih sempurna lain yang bisa jadi pacarnya selain Ji Chang Wook yang manis, tentu saja. Kecuali ia mengalami kejut otak dalam kemungkinan satu banding sejuta di hidupnya, membuat logikanya menjadi jungkir-balik dan tahu-tahu Chang Wook sudah tidak setampan itu lagi.
Yuna mengerang lagi, sambil kembali mengacak-acak rambutnya.
Seharusnya dia tidak membiarkan Kim Jaejoong menemaninya pulang dan menceritakan semua omong kosong aneh itu.
Apa dia telepon kantor polisi saja? Membuat laporan bahwa ada pasien khusus institusi perawatan mental yang berkeliaran, terobsesi dengan mesin waktu dan mengaku-ngaku sebagai pacarnya di masa depan, entah beberapa tahun kemudian.
Tapi, ada apa dengan perasaan aneh itu? Yang melingkupinya saat mereka bertatapan.
Apa itu?
Yuna merebahkan dirinya sambil menghela napas pasrah, memandangi langit-langit kamarnya yang remang dengan penuh pemahaman bahwa ia mungkin tidak akan bisa tertidur hingga pagi benar-benar tiba nanti.
.
.
.
“Kau muncul lagi.” Gumam Yuna datar.
Kim Jaejoong tersenyum lebar, maju agar Yuna bisa berdiri di bawah payung yang sama dengannya, dan mereka bertatapan sebentar sebelum Yuna mengalihkan pandangannya lebih dulu.
“Kau tampak kelelahan. Apa semalam kau kurang tidur?”
Yuna kembali menatap Jaejoong, sengit. Bagaimanapun, dia tidak tidur karena pria sialan itu dan perkataannya.
Tahu-tahu, Jaejoong terkekeh senang dan itu membuat amarah Yuna jadi makin berkobar-kobar. Dua hal yang selalu Jaejoong lakukan saat ia bertemu Yuna, bicara tidak masuk akal dan menertawainya.
“Jangan-jangan…” Jaejoong kembali tersenyum tipis. “Kau menganggap serius semua perkataanku kemarin??”
Lihat??
Wajah Yuna benar-benar memerah sekarang karena terbakar emosi.
Sialan. Dia benar-benar dikerjai orang gila yang terobsesi dengan lelucon lubang hitam dan galaksi.
Yuna mengangkat kakinya untuk menginjak Jaejoong dengan sepenuh hati, tapi sayangnya meleset karena pria itu sudah menjauhkan salah satu kakinya lebih dulu. Yuna sedikit terkejut melihat gerak refleks yang seolah-olah mengenalinya itu, tapi tidak membuat kemarahan Yuna mereda. Darahnya malah makin mendidih.
“Mati saja!!” Yuna segera meninggalkan Jaejoong begitu saja, tidak peduli kalau hujan membuatnya basah kuyup dengan cepat.
“Kim Yuna…” Kim Jaejoong segera menyusul dan menahan Yuna. “Kau marah, ya?”
Heol… Bagaimana mungkin Yuna tidak marah??? Astaga. Dia benar-benar ingin jadi bom yang meledak dan menghancurkan Jaejoong sekarang.
“Lepaskan aku! Kau ganggu orang lain saja!”
“Tidak mau…” Sorot mata Jaejoong berkilat-kilat jahil, dan Yuna tersentak di tempatnya karena perasaan aneh itu muncul lagi. “Ayo, kita minum kopi dulu baru kuantar kau pulang.”
Yuna tidak tahu kenapa dia menurut saja saat Jaejoong menggandengnya pergi, sedangkan Jaejoong hanya bisa tersenyum tipis karena bisa merasakan tatapan gadis itu yang memperhatikannya lekat-lekat. Menggemaskan sekali.
“Kau sudah sadar??”
“H-uh??”
Jaejoong menoleh ke arah Yuna sebentar. “Kalau pacar masa depanmu ini sangat tampan.”
“Cih, dasar orang gila. Kau benar-benar kehilangan kewarasanmu, ya??? Tampan dari mana??? Mukamu itu tidak ada darahnya, tahu!! Apa kau drakula??”
Jaejoong terkekeh senang. “Begitu, kah? Tapi, kau sering bilang kalau kau paling suka bibirku…”
Wajah Yuna segera memerah. “B-Bi-bir apa maksudmu???? Dimana aku pernah bilang begitu??? Lepaskan aku, otak mesum gila!”
“Sangat menggemaskan.” Jaejoong malah mengeratkan pegangannya pada pergelangan tangan Yuna, memaksa gadis itu ikut masuk kedalam kafe bersamanya. “Benar-benar menarik.”
“Kau!! Jangan berani bicara macam-macam tentangku!! Kau mau—”
“Kau sudah belajar menginjak kaki orang di usia semuda ini???”
“Apa??? Kau… Darimana kau tahu kalau aku mau menginjakmu???”
Jaejoong melepaskan Yuna, dan mereka berdua duduk di salah satu meja di sudut kafe. Ia tertawa riang melihat keterkejutan dan ketertarikan di mata Yuna, sementara jantung gadis itu kembali berdebar-debar aneh. Ia tercekat.
Dimana Jaejoong pernah tertawa seperti itu untuknya??
Untuknya
“Apa yang tidak aku tahu tentang Kim Yuna?? Lagipula, kau juga mau menginjak kakiku tadi.”
“Cih…” Yuna bersandar pada punggung kursi, membuang muka sambil melipat kedua lengan di dada.
Seharusnya ia tetap menginjak kaki si sialan Jaejoong, bukannya ikut duduk bersamanya dan merepotkan otaknya dengan memikirkan dimana ia pernah bertemu dengan Jaejoong.
“Mau pesan apa, tuan?”
“Dua Hot Latte dengan double shoot, dan aku mau sepotong cheesecake dengan raspberry untuk gadis jelek ini.”
“Kau!” Yuna kembali menunjukkan tatapan sengitnya, lalu ia beralih sebentar pada si pelayan yang masih tersenyum ramah. “Aku tidak mau Latte. Tolong berikan aku cokelat panas biasa.”
“Baik.” Pelayan itu tersenyum dan segera menuju ke ruang dalam kafe.
“Kau tidak suka Latte??”
“Aku tidak bisa minum itu.”
“Jadi, kau mencoba suka Latte karena aku meminumnya??”
“Hah??”
“Kau benar-benar berkorban untukku, ya? Manis sekali.”
“Apa??? Astaga… Mentalmu sakit.”
.
.
.
Walaupun begitu, Kim Yuna tetap saja duduk diam dan mendengarkan alunan musik yang memenuhi ruangan luas itu dalam kebisuan sambil sesekali menyesap cokelat panasnya. Kim Jaejoong sendiri juga tidak mengatakan apa-apa lagi, dan Yuna merasa terganggu karena tahu pria itu terus memperhatikannya sambil sesekali tersenyum samar. Dia memang tidak melihatnya secara jelas seperti saat Jaejoong tersenyum di depan mini market tadi sore, tapi ia tahu karena bisa merasakannya.
Yuna diselamatkan oleh ponselnya yang berdering.
Chang Wook-Ssi.
Tentu saja, pangeran keindahannya itu adalah superhero yang akan selalu ada saat Yuna butuh, bahkan ketika Yuna tidak bisa mengatakannya.
“Chang Wook-Ssi…”
“Yuna-ya…”
Yuna sedikit tertegun saat Chang Wook melepaskan sikap formalnya pada Yuna selama ini di telepon. Yuna segera berdehem, berusaha kelihatan biasa saja di depan Jaejoong yang mendelik menatapnya tidak suka.
“Ada apa?”
“Kau sudah tiba di rumah?”
“Oh. Soal itu…”
“Kau masih bersama orang asing tadi, ya?”
“Hah?? Oh… Umm… Iya.” Yuna menggigit bibirnya, ingin sekali mengatakan tidak.
“Ah… Sayang sekali.” Chang Wook terdengar berdecak masam di ujung telepon. “Padahal aku berada di depan pintu kamarmu sekarang. Aku bawa dua mangkuk Jjangmyeon. Siapa tahu kau belum makan—”
“Jangan khawatirkan kami. Selamat malam.”
Pip.
Jaejoong meletakkan ponsel Yuna di atas meja dengan sorot penuh kepuasan di atas wajah masamnya itu.
“YA!!!” Bentak Yuna tidak percaya. Dia kembali dipenuhi kemarahan. “Kim Jaejoong!!! Siapa bilang kau boleh bertindak seenaknya???”
“Kau tidak usah lagi berhubungan dengan orang ini.”
Yuna benar-benar tidak percaya Jaejoong melakukan ini padanya. Mengingat Chang Wook sedang berdiri di depan kamar kontrakannya saat ini, mengingat pria itu membawa dua mangkuk Jjangmyeon saat ini, dan mengingat kesempatannya untuk makan malam yang pertama kalinya bersama Chang Wook baru saja dikempeskan dengan jarum oleh Jaejoong, Yuna benar-benar frustasi dan berharap ia bisa melilitkan bom ke sekujur tubuh Jaejoong dengan selotip.
Lalu, benda-benda itu meledak.
“Kenapa kau harus mengatur-aturku?? Memangnya kau siapa?? Inspektur kedisiplinan?? Kau yang seharusnya tidak usah menggangguku. Kau yang seharusnya pergi dan biarkan aku berhenti berurusan denganmu! Idiot mesum kurang ajaaar!”
“Auh…” Jaejoong berpura-pura mengorek-ngorek sebelah telinganya. “Kau memang paling menyebalkan kalau sudah mengomel.”
“Aku menyebalkan??? Halooo! Siapa yang memutuskan sambungan telepon seseorang seenaknya saja??? Aku yang seharusnya bilang begitu! Menyebalkan!!”
“Sudahlah!” Tukas Jaejoong kesal. “Wajar saja kalau aku cemburu, kan???”
“Ha-ah??” Keterkejutan Yuna muncul menjadi satu suku kata yang diucapkan dalam bentuk dua silabel, sementara mulutnya sudah setengah membulat sekarang. “Kau… Apa?”
“Aku cemburu.” Gumam Jaejoong datar, membuang muka ke arah lain. “Aku tahu aku tidak boleh merasa begitu, karena secara teknis, kau belum jadi pacarku.”
Yuna segera mengatupkan mulutnya, mengerjap-ngerjap memperhatikan Jaejoong dengan penuh kebingungan. Mendadak, kepalanya terasa amat penuh dengan banyak hal.
Lalu, Yuna ingat dia tidak boleh sedikitpun terbawa-bawa lelucon masa depan bla bla bla Jaejoong, jadi ia segera menghela napas dan kembali bersandar di punggung kursinya. Memperhatikan Jaejoong dengan tatapan menilai.
Kenapa pria ini repot-repot membuang-buang waktu untuk mengganggunya??
“Lagipula,” Jaejoong bicara lagi, balas menatap Yuna. “Dia tidak akan menyukaimu.”
Mendengar perkataan Jaejoong itu, Yuna jadi ingat lagi pada fakta bahwa Ji Chang Wook memang tidak akan pernah menyukainya. Chang Wook pasti lebih tertarik pada gadis berambut panjang terawat yang anggun dan imut-imut, bukannya yang suka mendengkur saat tidur dan berantakan sepertinya. Sayang sekali. Tidak dalam sejuta tahun.
Yuna tersenyum masam. “Benar, sih. Karena—”
“Kau pernah buang angin di depannya.”
“APA???” Wajah Yuna segera berubah menjadi merah padam. “K-Kau… Dari mana kau tahu soal aib itu???”
Kedua mata Jaejoong bersinar jahil lagi. “Sudah kubilang, aku tahu semua tentang Kim Yuna.”
“Aku tidak pernah memberitahunya pada siapapun!!! Aduh, bagaimana ini???? Apa kau temannya Ji Chang Wook?? Chang Wook masih mengingat kejadian itu dan memberitahumu???? Kau mengaku saja!!”
“Astaga…” Jaejoong benar-benar tergelak sekarang. “Kau sendiri yang menceritakannya padaku. Mumpung aku menemuimu disini, kita bahas saja sekalian.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan!” Yuna membuang muka. “Aku hanya kebetulan sedang sembelit di depan Chang Wook.”
“Sistem pencernaanmu benar-benar payah sejak kau masih muda, ya??”
“Diam!!”
“Menggemaskan sekali… Makan malamlah denganku, oke?”
“Jangan bermimpi aku mau pergi denganmu.”
“Kau tidak mau daging yang akan meleleh di lidahmu saking lezatnya????”
“Mau.” Sahut Yuna cepat, melirik Jaejoong lalu kembali melihat keluar.
.
.
.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Lamunan Jaejoong buyar.
Ia mengalihkan pandangan di luar jendela bus yang buram dan gelap karena hujan yang masih terus mengguyur, menatap Yuna yang secara tidak terduga tampak penasaran. Jaejoong menyunggingkan senyum samar, dan berusaha merilekskan sikap tubuhnya dengan menghela napas panjang.
Ia menikmati hari ini, sangat. Tapi, ia sudah harus kembali besok.
Kembali.
Tidak ada satupun hal yang Jaejoong katakan pada Yuna, yang merupakan kebohongan. Dia hanya tidak mau memaksakan gadis itu untuk terlalu mempercayai sesuatu yang kedengarannya memang konyol baginya—bagi Jaejoong juga, awalnya. Toh, Jaejoong juga sudah melakukan lompatan waktu dengan mesin waktu buatan militer Korea Selatan itu—Jaejoong yang hanya mahasiswa jurusan arsitektur biasa, kebetulan membaca brosur tentang proyek tersebut dan menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan uji coba—ke saat dimana Yuna masih kecil, dan Jaejoong tahu dia sudah harus merasa puas melihat sedikit gambaran kehidupan gadis itu.
Lagipula, dia juga sudah melihat lebih dulu saat dimana ia berpacaran dengan Yuna sepuluh tahun ke depan, jadi Jaejoong tahu bahwa mereka pasti akan bertemu lagi dan ia akan punya sangat banyak waktu untuk dihabiskan dengan Yuna. Dia akan lupa—sayangnya setelah percobaan mesin waktu ini selesai, dia pasti akan dibuat lupa oleh pemerintah—dan apa yang mereka lakukan dua hari belakangan ini memang akan sedikit merubah alur masa depannya, tapi benang merahnya tidak akan salah.
“Boleh aku minta sesuatu darimu??”
“Hah?” Yuna mengerjap-ngerjap.
Jaejoong menjulurkan tangannya. “Beri aku ponselmu sebentar.”
Ragu-ragu, Yuna merogoh kantong jaketnya dan menyodorkan benda yang Jaejoong minta. Jaejoong memasukkan ponsel itu ke dalam saku mantelnya, menarik Yuna untuk turun dari bus yang sudah berhenti di halte blok tempat tinggal Yuna. Di bawah payung Jaejoong, mereka berdua berjalan bersama tanpa suara, hingga beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di depan pagar bangunan kamar kontrakan yang Yuna huni selama ini.
Sorot lampu jalan membuat kulit pucat wajah Jaejoong menguning seperti tembaga, kontras dengan sorot matanya yang selalu gelap dan dalam. Yuna mengerjap-ngerjap lagi dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dalam jarak yang cukup dekat, Yuna merasakan serangan perasaan aneh itu lagi yang membuatnya menjadi sedikit gugup.
Jaejoong menunduk, dengan luwes segera membuka kalender di ponsel Yuna dan mengetikkan sesuatu sebelum menunjukkan apa yang baru saja ia kerjakan pada gadis itu.
Tanggal 24, pada bulan Desember 2015, ditebalkan. Di kolom keterangan di bawah deretan angka-angka kalender, ada catatan pengingat : Kim Jaejoong.
Yuna menatap pria bertubuh tinggi di hadapannya itu dengan dengan kening mengernyit.
“Jangan pernah berani menghilangkan ponselmu, apapun yang terjadi, oke? Aku selesai dari wajib militer pada tanggal dua pulub empat Desember, dan kita akan bertemu pada saat itu. Kau harus terus mengingatku, sampai saat remindernya berbunyi. Lalu, kau harus mencariku—Kim Jaejoong. Mudah ataupun sulit, kau harus menemukan aku.”
“A-Aku…” Yuna mengerjap-ngerjap lalu menggeleng. Dia bingung. “Kenapa aku harus melakukannya? Kenapa kita harus bertemu?”
“Tsk! Pokoknya, berdandanlah sedikit pada saat itu. Setidaknya, mandi dan sisir rambutmu.”
“Kau!” Yuna membuang muka dengan sedikit perasaan terhina.
Dia bisa berdandan dan jadi sangat cantik kalau dia mau, tapi dia hanya tidak mau melakukannya karena gadis-gadis lain bisa iri.
Jaejoong menyentuhkan telapak tangannya ke sisi wajah Yuna—tidak tampak sedang bercanda sama sekali dengan sorot gelapnya, membuat gadis itu sedikit terkesiap merasakan dingin di permukaan kulitnya sendiri. Saat mata mereka saling bertatapan lagi, Yuna kembali terkesiap karena perasaan familiar itu datang menyergapnya lagi.
Perasaan saat Jaejoong menyentuhnya—bagaimana tangan pria itu menempel di pipinya dengan tepat, dan bagaimana ia menatap Yuna lekat-lekat penuh penekanan.
Dimana Jaejoong pernah melakukannya???
“Kau harus dengarkan kata-kataku dengan baik. Kau harus memikirkan aku selama sepuluh tahun ini—merindukanku sekalian, kalau memungkinkan—lalu kau harus datang padaku saat waktunya tiba.”
Yuna menggeleng-geleng pelan. Dia semakin pusing dengan setiap kata yang Jaejoong ucapkan dengan suaranya yang halus dan tajam itu.
Jaejoong berdecak sebal lagi.
Ia maju dan mengecup Yuna dengan lembut, menyentuhkan bibirnya yang sama dinginnya dengan potongan es ke kening gadis yang hanya bisa membeku dengan kedua mata melebar karena kaget itu.
Yuna menggigit bibir, memejamkan mata perlahan, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat saat Jaejoong beralih merengkuh tubuhnya erat dengan satu tangan. Hangat sekali. Demi apapun, debaran jantungnya sangat kacau di bawah sana, dan dia benci Jaejoong karena sudah melakukan ini padanya.
Dia orang asing, dan dia hanya bicara omong kosong seharian.
Tapi, dia bisa menembus pertahanan Yuna dengan mudah.
Dan, Yuna merasa kepalanya berputar-putar saat Jaejoong mundur, melepaskan rangkulan tangannya di punggungnya. Yuna kembali mendongak menatap Jaejoong.
“Kau mengerti semua yang aku katakan, kan??”
Yuna ingin bicara, tapi dia tidak tahu harus mengatakan apa.
“Kau harus mengerti, Kim Yuna.” Jaejoong menyerahkan payungnya dalam genggaman Yuna. “Aku pergi, oke? Cepatlah masuk, dan pakai baju yang lebih hangat. Sampai ketemu lagi.”
“T-Tunggu…” Tangan Yuna setengah terulur untuk menahan Jaejoong, tapi kemudian hanya terkepal di udara lalu terkulai di sisi tubuhnya.
Jaejoong sudah berlari menembus hujan dan menghilang dari pandangannya dalam kabut di tengah tumpahan air hujan yang dingin.
Dia sudah pergi, dan Yuna tidak akan diganggu lagi. Kenapa harus mencegah Jaejoong pergi untuk mendapat penjelasan lebih? Bukankah tidak ada satupun hal yang cukup masuk akal untuk Yuna percayai? Atau… Yuna ingin agar Jaejoong bicara lebih lama, jadi suara halus yang tajam itu bisa terus terdengar untuknya. Tidak mungkin.
Kenapa Yuna mendadak putus asa di bawah sorot lampu jalan itu?
.
.
.
“Awas!!” Kim Jaejoong segera menangkap tubuh kecil yang terjatuh dari tangga perosotan taman kanak-kanak itu. “Fiuhhh… Hampir saja.”
“Terima kasih, Ahjussi… Waaah… Ahjussi tampan sekali.”
Jaejoong tergelak senang. “Matamu benar-benar bagus, Kim Yuna.”
“Oh??? Ahjussi tahu namaku???”
Jaejoong mendudukkan Yuna di tangga perosotan, lalu ia berjongkok di depan gadis kecil berkepang dua itu, menatapnya sangat lembut. “Kau sudah bisa membaca??”
“Sudah!” Kedua bola mata bulat dan jernih Yuna tampak penuh binar. “Aku juga sudah bisa menulis namaku dengan cepat. Kata ibu, dua bulan lagi aku akan masuk sekolah dasar.”
“Begitu, ya?? Yuna harus belajar yang rajin, oke?”
“Tapi… Apa yang Ahjussi lakukan disini?? Anak Ahjussi bersekolah disini??”
Jaejoong menggeleng pelan. Yuna menggemaskan sekali dengan dua gigi depannya yang tanggal. “Aku sedang menemui calon istriku yang cantik.”
“Siapa??? Apa dia bu guruku???”
Jaejoong menggeleng lagi, menyentuhkan telapak tangannya ke sisi wajah bulat Yuna dan mengusap-usapnya lembut. “Dia sedang bermain sekarang.”
“Bermain??”
Jaejoong tersenyum lebar, mengusap-usap pipi Yuna lagi lalu berdiri. “Yuna harus jadi anak yang baik, ya? Ahjussi pergi dulu… Sampai ketemu lagi.”
.
.
.
Itu dia.
Kim Yuna tersentak bangun, saat Kim Jaejoong dalam mimpinya pergi.
Kenapa dia merasa pernah bertemu Jaejoong, kenapa pria itu tampak sangat familiar dengan senyum dan tatapannya dan sentuhan tangannya, Yuna sudah tahu sekarang.
Dia ingat semuanya.
Yuna segera turun dari ranjangnya, berlari keluar bangunan sambil memakai jaket yang sedari awal ia sampirkan di punggung kursi kamar.
Dia harus bicara dengan Kim Jaejoong. Pria bodoh itu belum boleh pergi dulu.
Tapi, selain kompleks perumahan yang tanpa kehidupan di tengah malam yang dingin begini, Yuna tidak melihat ada siapapun yang mungkin saja berdiri di balik kegelapan bayangan. Yuna tidak melihat Jaejoong dimanapun, dan seharusnya dia sudah sadar sejak awal kalau dia tidak mungkin melihat pria itu dimanapun dalam jangkauan pandangannya sekarang.
Jaejoong sudah berpamitan tadi, kan? Dengan kalimat-kalimat membingungkannya sepanjang lima halaman pesan ponsel, yang baru terasa masuk akal sekarang.
Yuna menghela napas panjang, duduk berjongkok dan memeluk lutut.
Kim Jaejoong bodoh.
Jadi, sepuluh tahun harus Yuna habiskan untuk memenuhi kepalanya dengan wajah pria itu??? Cih, enak saja. Yuna tidak akan menurut pada Kim Jaejoong begitu saja. Tidak, terutama setelah aksi kemunculan tiba-tiba sok kerennya itu lalu dia mengatakan Yuna harus mandi dan bersisir sebelum menemuinya nanti.
Kalau pria itu akan melupakannya, Yuna juga akan balas melupakannya—sebentar.
.
.
.
Ten Years Later…
Salju turun sejak pagi tadi.
Kim Yuna merapatkan mantel merahnya, meraih tas selempangnya dan berjalan keluar meninggalkan ruang guru yang sudah sepi itu. Hari ini, karena sekarang tanggal dua puluh empat Desember yang berarti besok adalah hari libur internasional karena Natal, semua pekerja dibolehkan pulang lebih awal termasuk staff pengajar taman kanak-kanak tempat Yuna bekerja selama tiga tahun terakhir ini.
Yuna tersenyum sendiri, saat wedges cokelatnya menjejaki jalanan yang seluruhnya putih tertutup salju, menikmati saat suara retakan bunga es yang sangat ia sukai itu terdengar jelas di telinganya.
Sepuluh tahun sudah lebih dari cukup bagi seorang Kim Yuna, untuk bekerja keras mengumpulkan uang, menamatkan sekolahnya dan berkuliah, hingga ia bisa bekerja menjadi salah satu guru taman kanak-kanak beberapa blok dari tempat tinggalnya. Ngomong-ngomong, Yuna sudah tidak tinggal lagi di kamar kontrakan sempit itu. Dia sudah pindah ke apartemen yang lebih luas, walaupun harganya masih lumayan murah.
Yang jelas, Yuna senang dengan kehidupannya sekarang.
Pemikiran Yuna buyar saat ia melihat bus yang akan ia naiki tiba, sedangkan jarak halte masih beberapa meter lagi di depannya. Sial. Sebenarnya Kim Yuna ada janji akan bertemu dengan teman-teman kuliahnya di salah satu pusat perbelanjaan pukul sepuluh nanti, tapi entah kenapa hari ini dia hanya ingin segera pulang saja.
Terpaksa ia harus segera berlari sekarang, berhati-hati agar tidak jatuh terpeleset dan memecahkan kepalanya di atas salju. Untungnya, dia bisa naik ke bus tepat waktu.
Hanya saja Yuna terlambat duduk, karena dia menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdiri mengatur napas. Yuna sedang menuju ke bangku penumpang paling belakang, saat bus mulai melaju dengan kecepatan teratur lalu tahu-tahu berbelok di ujung jalan. Mengganggu keseimbangan tubuh Yuna yang tidak sempat berpegang. Secara otomatis, ia meraih apa saja yang ada di depannya.
“Huh… Hampir saja.” Yuna melepaskan pegangannya, berdiri tegak kembali dengan senyuman lega, tapi sedetik kemudian tersadar kalau dia baru saja menarik kain baju orang asing di hadapannya. Yuna segera mendongak dengan perasaan takut. “Maaf…”
Pria bertubuh tinggi di hadapan Yuna itu menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Yuna dengan sorot datar tanpa emosi. Dia bahkan tidak tampak ingin tahu, terganggu atau sejenisnya. Dia hanya melihat, hanya agar tahu siapa yang baru saja mengusiknya.
Untuk sesaat, Yuna terperangah melihat pahatan wajah yang tampak pucat dan kaku itu, dengan sepasang alis hitam yang sangat kontras, dan bibir yang kemerahan karena suhu dingin. Dibalik topi cabaret loreng cokelatnya, Yuna melihat sedikit potongan rambut cepak rapi berwarna hitam yang menyembul keluar.
Yuna kembali mengarahkan pandangannya pada mata pria itu, dan dadanya berputar-putar pada perasaan familiar yang tidak bisa ia ingat apa itu, atau kenapa ia bisa merasakannya.
Pria itu melepaskan cengkeramannya pada pegangan bus, berbalik sepenuhnya menghadap Yuna yang masih mematung di tempat itu.
Jangan pernah berani menghilangkan ponselmu, apapun yang terjadi, oke?
“Kau baik-baik saja, nona??”
Drrrt… Drrrt… Drrrrttt…
Yuna tersentak lagi, karena ponselnya bergetar. Tergagap, ia merogoh-rogoh ke dalam tas selempangnya dan melihat layar pop-up pemberitahuan dari reminder kalendernya. Kening Yuna mengernyit sebentar, bertanya-tanya kenapa ia bisa memasang pengingat untuk hari ini.
Kim Jaejoong.
Hah?
Aku selesai dari wajib militer pada tanggal dua pulub empat Desember, dan kita akan bertemu pada saat itu.
Dia teringat sesuatu…
Yuna mendongak sebentar, tergagap lagi karena pria itu masih menatapnya.
Sorot itu…
Kau harus terus mengingatku, sampai saat remindernya berbunyi. Lalu, kau harus mencariku—Kim Jaejoong. Mudah ataupun sulit, kau harus menemukan aku.
Kim Jaejoong…
Yuna melirik tag nama yang terjahit di sisi kiri bagian dada baju seragam tentara bermotif loreng cokelat pria itu, dan sekali lagi ia tersentak kaget sendiri.
Kau harus dengarkan kata-kataku dengan baik. Kau harus memikirkan aku selama sepuluh tahun ini—merindukanku sekalian, kalau memungkinkan—lalu kau harus datang padaku saat waktunya tiba.
Kim Jaejoong yang itu
Mata Yuna membulat penuh pemahaman.
Dia ingat semuanya sekarang, dan ia tidak bisa tidak tersenyum mengingat betapa lucunya pertemuan ini. Hal yang paling ia tunggu, tapi paling pertama ia lupakan setelah malam dingin sepuluh tahun yang lalu itu pergi.
Yuna kembali memfokuskan tatapannya pada Jaejoong, sementara senyuman lebar yang manis itu masih menghiasi wajahnya yang merona samar. Bukan karena cuaca dingin, tapi karena jantungnya makin berdebar-debar tidak karuan, mengetahui dengan jelas kenapa ia merasa segala sesuatunya begitu familiar hari ini, dan kenapa ia bisa merasa seperti itu.
Kening Jaejoong mengernyit samar. “Nona??”
“Hai.”
“Hai?”
“Aku menemukanmu. Seperti yang kau minta, Kim Jaejoong.”
“Maaf??”
“Aku sedikit berdandan hari ini, dan aku juga menata rambutku.”
“Nona, kau baik-baik saja??”
“Jangan menyesal, tapi mulai hari ini aku akan mengikutimu…”
“Kau—”
“Kim Yuna, siapa tahu kau merasa sedikit ingat aku, atau suaraku, atau senyumanku.”