BAGIAN
KEDUA
“ Hyung!! ” Jeon Jungkook langsung melompat ke sisi Yoon Gi
di sofa begitu ia tiba, dan bergelayut manja dengan mata yang berbinar-binar.
Seperti seekor anak anjing yang bertemu dengan majikannya.
Tingkah Jungkook itu menimbulkan keributan
bagi kelima Hyungnya yang lain, sementara Yoon Gi hanya tersenyum lebar dan
balas merangkul pundak bocah itu dengan erat.
“ Hyung, apa kau baik-baik saja? Setelah Hyung pindah, Seok Jin
Hyung bilang kita tidak boleh menemui Hyung dulu… Apa terjadi sesuatu? ”
“ Nde. Aku hanya sedikit sakit, dan Seok Jin Hyung khawatir
aku mungkin bisa menularkannya padamu. Sekarang aku sudah merasa sehat kembali,
Jungkook-ah… ” Ujar Yoon Gi berbohong.
Jimin yang duduk di lantai dekat sofa menendang-nendang
betis Jungkook, dan memasang wajah imut dengan pipi besar dan mata sipitnya
itu. Jungkook sudah tertawa lebih dulu, bahkan sebelum Jimin mengatakan
apa-apa. Nam Joon hanya menggeleng-geleng, tidak akan pernah terbiasa dengan
seseorang yang selalu bertingkah imut seperti Jimin. Tampak menggelikan dan
memalukan.
“ Jungkookie, apa kau hanya mengkhawatirkan Yoon Gi Hyung
saja? ”
“ Mwoya, Hyung?? Kau menemuiku di sekolah kemarin, kan??
Hyung bertingkah, seolah-olah kita sudah lama tidak bertemu… ”
Jimin mengacungkan tangannya tinggi-tinggi,
bertingkah seperti hendak memukul Jungkook yang menyebabkan tawa Hoseok, Nam
Joon, Jungkook dan Yoon Gi pecah. Jimin memang selalu menjadi sasaran empuk
candaan konyol Hyung dan Dongsaengnya saat mereka berkumpul. Jimin selalu
berkata ia tampan dan memiliki tubuh yang bagus, tapi masalah tinggi badan
seperti memberikan nilai minus pada semua kelebihan yang ia miliki.
“ Bocah tengik ini… ”
“ Ya, Park Jimin! ” Teriak Seok Jin dari dapur apartemen,
sambil sibuk menyiapkan bumbu untuk supnya. “ Jangan menggunakan kata itu di
depan Jungkook. Lebih baik sekarang kau kemari dan bantu aku mencuci
sayur-sayuran ini! ”
“ Aku lagi?? ” Keluh Jimin. Tapi pada akhirnya, dia berdiri
juga dan pergi ke dapur dengan terpaksa. “ Apa aku satu-satunya di ruangan ini
yang bisa mencuci sayur?? ”
“ Ngomong-ngomong, ada apa dengan Taehyung Hyung? Dia tidak
mengatakan apa-apa sejak tadi, dan hanya tertawa saja… ” Ujar Jungkook sambil melepaskan
rangkulannya dari lengan Yoon Gi, lalu membuka jas sekolah dan kaos kaki
merahnya. Melemparkannya bersama dengan tas sekolahnya, ke kasur tidak jauh di
belakang mereka.
Taehyung yang duduk di kursi seberang sofa
hanya tersenyum, sambil mengusap-usap pipi kirinya pelan.
“ Dia mendapat sebuah pukulan lagi. ” Ujar Nam Joon,
terdengar sedikit bersemangat seperti sedang menceritakan adegan sebuah film
favorit yang ia tonton. “ Aku sudah pernah memberitahunya, Taehyung-ah, mungkin
kau bisa mengikuti kelas tinju atau taekwondo selama enam bulan, lalu kembali
dengan memberi sebuah pukulan di perut untuk Hyung brengsek itu sebagai hadiah.
”
“ Kim Nam Joon! Jaga kata-katamu di depan Jungkook! ” Teriak
Seok Jin dari arah dapur, yang disambung dengan suara tertawa Jimin yang khas.
“ Kemari dan bawa panci ini ke ruang tengah! ”
“ Ugh. ” Nam Joon bangkit dengan kesal, dan segera menuju ke
dapur.
“ Whoa… Jadi, apa Taehyung Hyung akan melakukannya seperti
perkataan Nam Joon Hyung? ”
Hoseok menggeleng. “ Aniya. Dia tidak mau. Padahal, aku
kenal seseorang yang membuka kelas untuk latihan singkat seperti itu. ”
“ Lengannya kurus dan kecil. ” Timpal Yoon Gi. “ Atau,
Jungkook-ah, kau yang mau melakukannya untuk Taehyung? Berlatih tinju, dan
menghajar pacar Noonanya… ”
“ Benarkah?? Benar?? Apa aku boleh melakukannya?? ”
Jungkook memperhatikan ketiga Hyungnya
bergantian, mencaritahu apa mereka serius atau tidak. Bukan karena ia ingin
menghajar orang, tapi bisa berlatih tinju terdengar keren. Dia akan jadi punya
sesuatu, untuk dibanggakan di depan Ji Ah. Senyum Jungkook bahkan sudah
melebar, hanya dengan membayangkannya saja.
“ Mwoyaaa… ” Omel Taehyung. “ Kau tidak boleh memukul pacar
Noonaku. Badannya besar, dan dia bisa memukulmu balik dengan cepat… ”
Jungkook segera memamerkan salah satu
lengannya, dan mengomel tentang ia bisa melatih lengannya menjadi lebih besar
jika benar-benar mengikuti kelas tinju kilat itu, saat Seok Jin keluar membawa alat-alat
makan dan menjitak kepala Jungkook dengan senang hati.
“ Ya! Apa kalian masih membicarakan tentang kekerasan di
depan Jungkook?? ”
“ Harum sekali! ” Yoon Gi segera berdiri, dan menghampiri
Jimin yang keluar membawa panci besar yang berisi sup kepiting itu.
Yang lain segera ikut menghampiri Jimin,
untuk menghindari omelan Seok Jin.
“ Ya! Dengarkan saat aku sedang bicara… ” Keluh Seok Jin.
Kerumunan yang mengelilingi Jimin segera
bubar dan dengan cepat duduk membentuk lingkaran yang teratur, saat Nam Joon
datang dengan wadah penanak nasinya. Seok Jin mengalah, dan segera ikut duduk
sambil berdecak heran. Tanpa menunggu diberi aba-aba, ketujuh namja itu segera
mengambil bagian mereka dan makan dengan lahap. Kadang-kadang Seok Jin memasak
sesuatu yang terasa aneh, yang hanya bisa dikonsumsi oleh Jimin, Taehyung, dan
Jungkook. Mungkin karena Seok Jin baru kali ini lagi memasak untuk mereka yang
selalu makan dengan tidak teratur, atau mungkin sup kepiting itu memang
benar-benar enak.
“ Whoa! Masakan Seok Jin Hyung memang yang terlezat di
dunia… ” Ujar Jungkook dengan senyum lebar dan mata berbinarnya, sambil kembali
menyendokkan nasi ke dalam mangkuknya yang sudah kosong. “ Di rumah, aku bahkan
tidak punya piring, karena sudah dipecahkan oleh Eomma. ”
Hoseok tersenyum mendengarnya, dan menaruh
sepotong kecil tahu ke atas gunung nasi Jungkook. Diantara mereka bertujuh,
nafsu makan Jungkook memang yang paling besar.
“ Makanlah yang banyak, Uri Jungkookie… ”
“ Bersyukurlah kita punya Seok Jin Hyung. ” Gumam Nam Joon.
“ Kalau tidak, kita sudah lama mati karena kelaparan di luar sana. ”
“ Bagaimana kalau waktu itu, kita tidak bertemu dengan Seok
Jin Hyung?? Kira-kira bagaimana hidup kita sekarang?? ” Tanya Hoseok dengan
serius, membuat yang lainnya terdiam dan memikirkan pertanyaan namja itu.
Benar juga. Mereka punya cerita
masing-masing hingga bisa bertemu dengan Seok Jin, tapi punya alasan yang sama
kenapa hubungan persahabatan mereka begitu kuat melebihi ikatan antara seorang
kakak dan adik. Seok Jin bahkan lebih baik, daripada sosok ibu yang tidak
pernah mereka rasakan secara nyata sejak kecil. Seok Jin membuka mata mereka,
membuat mereka sadar kalau mereka punya alasan untuk hidup dan tersenyum
seperti orang lainnya. Pada akhirnya, mereka menjadi merasa saling memiliki dan
menguatkan satu sama lain.
“ Apa yang kalian bicarakan? ” Tanya Seok Jin, memecah
keheningan yang tidak ia sukai itu. “ Itu adalah takdir. Kita tidak akan pernah
bisa menebak alasannya dengan tepat, karena takdir sudah dibuat bahkan sebelum
kita lahir. Jangan membicarakannya lagi, dan lanjutkan saja makan kalian. ”
Keenam namja itu mengiyakan perkataan Seok
Jin, dan melanjutkan makan sambil menceritakan hal-hal yang sepele saja sambil
sesekali tertawa. Seok Jin memandangi mereka satu-persatu, dan berpikir bahwa
sebelum kedua orang tuanya meninggal, Tuhan sudah membuatkannya lagi satu
keluarga baru dan Seok Jin akan menjaga mereka bahkan jika itu harus dengan
menukar hidupnya.
“ Min Yoon Gi!! Buka Pintunya!! Min Yoon Gi!!!! ”
Suara teriakan yang disusul gedoran pintu
yang tergesa-gesa itu, mengejutkan semua yang berada di dalam apartemen. Tapi,
kemudian Yoon Gi sadar, siapa yang sudah datang dan mengacaukan suasana malam
ini. Apa orang-orang di luar itu tidak bisa pergi saja ke penjara dan menghajar
ayahnya?? Kenapa harus Yoon Gi yang mereka incar?
“ Jangan dibuka, Hyung… ” Desis Jungkook takut, saat Nam
Joon berdiri untuk berjalan ke arah pintu.
“ Ne, jangan dibuka. ” Timpal Jimin. Ikut merasa khawatir.
Yoon Gi yang gantian berdiri, dan berjalan
melewati yang lain sambil menguatkan dirinya sendiri. Apa gunanya merasa takut
pada saat seperti ini? Tapi, Yoon Gi kelewat sibuk berpikir untuk tidak
bertindak seperti seorang pengecut, sehingga lengah dan sebuah pukulan yang mendarat
di ulu hatinya saat ia membuka pintu membuatnya tersungkur dengan mudahnya.
Taehyung segera menarik Jungkook masuk ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi,
sementara yang lainnya menghadang tiga orang preman bertubuh besar yang
menerobos masuk itu, tapi mereka kalah dalam hal tenaga.
Suara pecahan dan benda dari kayu yang
menghantam lantai, segera terdengar saling susul-menyusul—para preman itu
segera mengacak-acak seisi apartemen Yoon Gi. Jimin bahkan terluka karena terkena
serpihan patahan kayu dari meja yang dipukulkan ke dinding, saat masih mencoba sekali
lagi untuk menahan amukan mereka.
Preman pertama yang memukul Yoon Gi tadi, kali
ini menendang perut namja yang masih tergeletak itu sekali lagi, sebelum mereka
semua berhenti mengamuk dan berjalan ke ambang pintu.
“ Jika kau tidak segera mengembalikan uang yang sudah
dipinjam oleh ayahmu, kami akan membuatnya berkali-kali lipat lebih buruk
daripada ini. Kau mengerti???? ”
Suara pintu yang dibanting menutup dengan
kasar, seolah-olah mengakhiri serangan mendadak yang brutal itu. Seperti sudah
menahan napas untuk waktu yang lama, ketegangan itu perlahan-lahan mengendur.
Tapi, kelegaan yang terasa segera berganti dengan kesadaran bahwa ada yang
terluka. Nam Joon dan Seok Jin segera menghampiri Yoon Gi dan membantunya
berdiri, sedangkah Jimin segera menghampiri Hoseok yang duduk meringkuk di
balik sofa sedari tadi dengan raut wajah pucat dan dibanjiri keringat dingin
itu. Taehyung dan Jungkook segera keluar, dan panik melihat keadaan di depan
mata mereka itu.
“ Taehyung-ah, cepat kau antar pulang Jungkook sekarang, ne…
” Perintah Seok Jin sebelum kedua bocah itu sempat bertanya, dan segera
diiyakan oleh Taehyung.
“ Aku akan mengantar pulang Hoseok Hyung. ” Gumam Jimin,
sambil membantu Hoseok berdiri.
Seok Jin merogoh ke dalam saku celananya,
menyerahkan kunci mobil kepada Nam Joon, lalu gantian memapah Yoon Gi.
“ Antar Hoseok dan Jimin pulang. Pastikan Jimin mengobati
lukanya, lalu segera kembali kesini. ”
“ Nde, Hyung. ”
Seok Jin membantu Yoon Gi berjalan masuk ke
dalam kamarnya dan membaringkan namja itu dengan hati-hati, sementara Yoon Gi
sendiri meringis kesakitan sambil meremas perutnya. Yoon Gi pernah menjalani
operasi setahun yang lalu, dan Seok Jin khawatir jika pukulan dan tendangan
yang diterima Yoon Gi tadi mengenai bekas operasinya. Mau tidak mau, Seok Jin
kembali membayangkan adegan tadi itu, dengan perasaan sedih dan bersalah yang
makin memenuhi pikirannya. Ia terlalu lemah untuk melawan dan membela Yoon Gi.
Tapi Seok Jin tidak mengatakan apa-apa, dan
hanya menghela napas panjang saja. Seok Jin tidak tahu, apakah saat ini Yoon Gi
akan merasa lebih baik kalau Seok Jin mengkhawatirkan tentang bekas operasi itu
atau tidak. Sejak awal Yoon Gi memang tidak mau ada yang membahas tentang bekas
operasi itu, tempat dimana ayahnya membuat tanda yang tidak akan pernah Yoon Gi
lupakan pada bagian terakhir ingatan tentang masa bahagia dalam hidup
keluarganya.
“ Sejak kapan mereka mengejarmu? ”
“ Hyung tidak perlu tahu. ”
Seok Jin tidak mau mengalah. “ Berapa banyak yang ayahmu
pinjam? ”
Yoon Gi memaksakan bangkit untuk duduk,
lalu tersenyum sinis. Mengabaikan denyut sakit pada ulu hatinya, yang sekarang
membuatnya merasa mual. Sakitnya terasa dua kali lipat lebih buruk sekarang,
bahkan pada saat tendangan itu hanya beberapa senti di atas bekas lukanya itu.
“ Kalau aku sudah memberitahu Hyung berapa jumlahnya, lalu
apa? ”
“ Yoon Gi-ya… ”
Yoon Gi menggeleng. “ Tidak. Aku tidak akan menyeret siapapun
kedalam masalah ini, apalagi jika nanti sampai ada yang terluka. Aku ingin
menjadi Yoon Gi yang keren, yang tidak membahayakan keluarga yang berada di
dekatnya. ”
“ Kau berpikir terlalu berat. Kalau kami bisa membantumu,
kenapa tidak? ”
“ Tolong jangan mendebatku. ”
Seok Jin menghela napas kalah, dan segera berdiri. “ Baiklah.
Bagaimanapun, kau tidak mau kami melakukan sesuatu untukmu. ”
“ Mianhe, Hyung. ”
“ Aku akan membuatkanmu segelas teh. Tunggu saja dengan
tenang, dan jangan pikirkan apa-apa tentang apartemenmu, ne? Aku yang akan
membereskannya. ”
“ Hyung… ” Panggil Yoon Gi pelan, saat Seok Jin berbalik
hendak meninggalkan kamar. “ Apa mereka… Orang-orang sialan tadi, mau memastikan
akan membunuhku lain kali? ”
***
“ Taehyung-Ssi… ”
Suara panggilan itu, mengalihkan perhatian
Taehyung yang sedang mencari-cari anak kunci di bawah deretan papan rak pot
teras depan flat tempat tinggalnya. Bukan pot-pot yang ditanami bunga yang
cantik, dengan kelopak berwarna putih ataupun merah jambu. Bagi Taehyung, itu
hanyalah akar dan batang kering yang mati karena berani tumbuh dan menancap di
dalam wadah bertanah minus kandungan air itu.
Tidak pernah ada yang sempat untuk
menyirami, atau memberinya pupuk saat sore hari tiba. Kakaknya terlalu sibuk
merokok di dalam studio musik pengap milik pacar temperamentalnya sejak pagi
hingga sore, dan menangis karena dipukuli saat mereka berada di dalam flat ini
untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak penting atau bahkan saat kakaknya hanya
sendirian saja.
Pemikiran Taehyung kembali lagi pada saat
sekarang, karena yeoja asing di hadapannya itu baru saja memanggil namanya
sekali lagi.
“ Oh… Bagaimana kau tahu namaku? ”
“ Apa…Taehyung-Ssi lupa padaku? ”
Lupa? Memangnya Taehyung mengenalnya
sebelum ini? Taehyung sedang tidak ingin berpikir keras, jadi ia hanya berpikir
untuk mendapatkan jawaban cepatnya dengan menggeleng pelan. Yeoja asing itu
tampak tersenyum tipis, dengan raut wajah yang menyiratkan kekecewaan. Tadi, ia
sempat berharap Taehyung akan langsung tersenyum lebar, karena mengenalinya.
“ Apa Taehyung-Ssi benar-benar tidak ingat? Aku yang
mengompres memar Taehyung-Ssi kemarin malam… Han Ji Ah. Si tetangga baru. ”
Oh. Taehyung jadi ingat sekarang.
“ Ah, si tetangga baru?? Mian. Aku sedang kelelahan, jadi
tidak ingat hal yang lain. ”
Han Ji Ah tampak tersenyum tipis sekali
lagi, tapi kali ini karena merasa lucu dengan jawaban Taehyung.
“ Nde. Tidak apa-apa. ”
“ Ada apa memanggilku? ” Tanya Taehyung, mengingatkan
kembali alasan kenapa Ji Ah mau menunggunya selama dua jam di depan pintu flat
pada malam yang dingin.
“ Ah. Itu… Kakak Taehyung-Ssi, Tae Hee Eonni, dia berada di
flatku. Dia pulang dalam keadaan mabuk berat dan tidak bisa menemukan kunci
flat kalian, jadi aku memutuskan untuk membawanya masuk ke tempatku dulu sampai
Taehyung-Ssi pulang. Dia bilang, kuncinya dibawa oleh Taehyung-Ssi. ”
Taehyung menghela napas berat. Seperti
masalah hari ini belum cukup juga untuknya. Ia segera menundukkan kepala
sebentar untuk meminta maaf, pada yeoja mungil tetangga barunya itu.
“ Gomawo, Ji Ah-ya. Aku akan membawa Noonaku kembali sekarang.
”
“ Itu, ” Gumam Ji Ah lagi, menahan langkah maju Taehyung. Ia
tidak bisa berkonsentrasi, saat Taehyung memanggil namanya seolah-olah mereka
sudah menjadi teman dekat. “ Tae Hee Eonni tampak kelelahan. Karena ia sudah
tertidur pulas, dan bisa saja terbangun tengah malam nanti karena lapar, mungkin,
Taehyung-Ssi bisa membiarkan Tae Hee Eonni menginap saja dulu di tempatku untuk
malam ini. ”
Lagi-lagi, dia merepotkan orang asing.
Taehyung menundukkan kepala sekali lagi
untuk meminta maaf, tapi hal itu malah membuat Ji Ah jadi merasa sedikit tidak
enak hati.
“ Maaf merepotkan, dan terima kasih. ”
“ Ah, ini bukan apa-apa. Aku hanya melakukan sebuah hal
kecil, untuk membantu tetanggaku saja. ”
Taehyung tersenyum tipis.
“ Baiklah kalau begitu. Annyeong… ”
“ Taehyung-Ssi! ” Tahan Ji Ah panik, saat Taehyung baru saja
berbalik membelakanginya.
“ Ada apa? ”
“ Memar Taehyung-Ssi… Apa sudah hilang? ”
Taehyung meraba bawah mata kirinya, yang sedikit
tersembunyi di balik tudung jaket abu-abunya itu. Rasanya masih sedikit sakit,
dan Taehyung merasa sedikit canggung karena ada orang asing yang mengetahui
keadaannya lalu kemudian mengkhawatirkannya. Rasanya, memalukan.
“ Aku baik-baik saja. Selamat malam. ” Taehyung segera
berbalik dan masuk ke dalam flatnya, meningggalkan Ji Ah yang kecewa karena
tidak sempat mengatakan apa-apa lagi.
***
Park Jimin mengetuk-ngetukkan ujung
sepatunya ke lantai dengan raut wajah gelisah, sementara ia memperhatikan
beberapa keping uang koin di telapak tangannya, dengan satu tangan yang lain
memegang gagang telepon umum di telinganya.
“ Seul-ah… Maaf, aku meneleponmu seperti ini, di waktu yang
agak larut. Apa kau mengkhawatirkanku? Keadaannya memang sedang agak buruk
disini, tapi aku baik-baik saja. Apa yang sedang kau lakukan? Surat-suratmu
belum ada yang sampai, Seul-ah. Tapi, tidak apa-apa. Mungkin ada masalah dengan
pengirimannya. Jangan khawatir, aku akan tetap membacanya nanti, sebanyak
apapun itu. Ahaha… Ah, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. ”
Jimin segera meletakkan gagang telepon pada
tempatnya, lalu kembali memperhatikan keping-keping uang koin di telapak
tangannya dengan mata yang memerah. Tidak. Ia tidak akan pernah punya
keberanian, untuk menelepon Yoon Seul dengan penuh percaya diri seperti tadi.
Yoon Seul tidak akan menyukainya.
Jimin menghela napas, memasukkan koin-koin itu
ke dalam kantong celananya, dan keluar meninggalkan bilik telepon umum yang
dikelilingi kabut itu. Ia hanya sendirian, dalam jalannya menuju ke rumah.
***
Hoseok tersentak bangun, karena napasnya
mendadak menjadi sesak. Dengan putus asa, ia menarik laci meja kayu yang berada
di samping tempat tidurnya, tapi tidak menemukan botol kecil yang ia cari.
Sambil mencengkeram dadanya yang terasa menyempit, Hoseok menggunakan seluruh
tenaganya yang tersisa untuk berdiri dan bergegas pergi ke kamar mandi, dimana
Hoseok menyimpan beberapa botol obat-obatan yang lain di dalam lemari
wastafelnya. Keringat dingin membanjiri kening namja itu.
Menjatuhkan beberapa botol ke dalam
wastafel karena tangannya yang gemetaran, Hoseok segera memaksakan diri untuk
menelan sebutir pil besar yang ia cari, dan berusaha bernapas dengan pelan dan
teratur. Tapi, lehernya seperti tercekik, jadi Hoseok segera memuntahkan kembali
pil itu dan terbatuk-batuk.
Hoseok mencengkeram ujung wastafel dengan
kuat, karena khawatir bisa terjatuh begitu saja ke lantai yang dingin. Ia muak
dengan keadaannya yang seperti ini, dan bicara dengan psikiater tidak akan
membuat hal-hal berubah menjadi lebih baik. Ia sudah lama tahu, bahwa suatu
saat nanti tubuhnya tidak akan bisa mentoleransi jumlah obat yang ia konsumsi,
sehingga tidak akan ada lagi apapun yang dapat menyelamatkannya. Sampai saat
itu tiba, Hoseok hanya harus bisa bertahan sendirian menghadapi serangan rasa
sakit itu, malam demi malam. Ia punya pilihan untuk menerima bantuan dari Jimin
ataupun yang lain, tapi ia tidak pernah menganggapnya sebagai hal yang harus
dipertimbangkan. Mereka sudah punya banyak masalah, dan Hoseok tidak ingin
berubah menjadi masalah mereka yang berikutnya.
Telepon Hoseok berdering, tapi Hoseok tidak
berniat mengangkatnya. Itu pasti Jimin, dan kalau Hoseok menjawab telepon bocah
itu, Jimin pasti akan langsung berkesimpulan bahwa Hoseok terbangun lagi bahkan
kalau Hoseok berbohong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar