Jumat, 22 Mei 2015

FANFICTION/BANGTAN/I Need U - If I Had Time Machine, I Will Bring You All Back//Part One




“ Jangan pikirkan apapun, dan makanlah dengan lahap. ”
“ Iya, Hyung. Gomawo… ”
Kim Taehyung menurunkan tudung jaket abu-abunya, meraih sendok yang berada di atas meja, lalu mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan patuh seperti seorang anak kecil. Makin lama, sikap tubuhnya makin santai dan Taehyung pun makan dengan sangat lahap hingga membuat Seok Jin tersenyum senang.
Perasaan Seok Jin berubah lagi menjadi kurang enak, saat ia melihat bekas lebam keunguan di bawah mata kiri Taehyung.
“ Apa kau dipukul lagi? ”
“ Aku tidak akan pernah mengerti, kenapa Noonaku mau berpacaran dengan orang seperti dia. ” Taehyung meletakkan sendoknya, dan menatap Seok Jin dengan serius. “ Cinta seperti apa yang selalu aku lihat itu? Benar-benar mengerikan. ”
Seok Jin tersenyum, untuk menenangkan Taehyung. “ Noonamu pasti punya alasan yang kuat, bahkan kalau ia tetap bertahan di sisi pacarnya itu bukan karena cinta. ”
Taehyung menunduk, untuk menyembunyikan raut wajah sedihnya.
“ Semalam, ia memukul Noona lagi. Ia kehabisan uang, untuk membeli Soju dan rokok. Aku tidak bisa melindunginya, seperti yang mendiang kedua orang tuaku inginkan, Hyung. Aku tidak berguna. ”
“ Taehyung-ah… Kau harus tetap kuat untuk Noonamu, kau mengerti?? Kau bisa melakukannya. Melindungi Noonamu sampai akhir. Kalau aku saja percaya padamu, berarti kau juga harus percaya pada dirimu sendiri. ”
Taehyung mendongak, menatap Seok Jin dengan sedikit harapan di matanya bahwa pada akhirnya nanti semuanya memang akan baik-baik saja. Seok Jin tersenyum lebar, dan mengangguk, seperti bisa membaca pikiran bocah dua puluh tahun itu dengan tepat. Taehyung balas tersenyum tipis, lalu kembali melanjutkan makan siangnya dengan lahap seperti biasa saat ia memakan masakan Seok Jin. Taehyung merasa sedikit lebih baik.
***
“ Dia belum menelepon? ”
Park Jimin mendongak dengan enggan, mengalihkan perhatiannya dari ujung sepatunya kepada Jung Hoseok, dan menggeleng pelan dengan senyum dan sorot mata yang sedih. Hoseok menatapnya tidak mengerti.
“ Apa terjadi sesuatu? Kenapa kau tidak mengiriminya surat saja?? ”
Jimin melirik sekilas seorang wanita paruh baya yang sedang berbicara, di dalam bilik telepon umum di samping tempat ia dan Hoseok berdiri sekarang. Perasaannya bahkan menjadi jauh lebih sedih lagi.
“ Dua minggu sekali, pada hari senin, pukul lima sore, di nomor telepon umum yang aku gunakan untuk menghubunginya. Setelah teleponnya yang pertama, aku tidak pernah mendapatkan kabar apapun, dan kemarin semua surat yang aku kirim dikembalikan karena alamat penerima sudah diganti. ”
Hoseok tampak terkejut. “ Apa dia pindah?? Setidaknya, seharusnya ia mengirimimu alamat barunya atau sekedar nomor telepon yang bisa dihubungi. ”
Jimin mengangkat bahu. Fakta bahwa ia tidak tahu apa-apa, membuatnya merasa sedikit marah. “ Begitu kata petugas posnya. Jadi, yang bisa aku lakukan hanya berdiri di tempat ini setiap dua minggu sekali, menunggu sambil berharap telepon itu akan berdering sendiri nantinya. Entah kapan. ”
“ Kau pasti sangat mengkhawatirkan Yoon Seul. ”
“ Aku tidak bisa berhenti memikirkan dia, Hyung. Aku merindukan Yoon Seul. ”
Hoseok hendak mengatakan sesuatu, saat segerombolan remaja SMA lewat di depan mereka sambil tertawa dan saling dorong. Hoseok seperti tercekat, dan ritme detakan jantungnya segera berubah menjadi sangat cepat. Napasnya berat dan memburu dengan raut wajah yang memucat, dan keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Jimin yang menyadari hal itu, segera memegang pundak Hoseok, dan mendudukkan namja itu ke bangku besi panjang yang tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri. Jimin segera merogoh-rogoh ke dalam saku-saku mantel Hoseok, tapi tidak menemukan satupun benda yang kira-kira adalah obat namja itu. Hoseok mencengkeram dadanya, dan berusaha bernapas dengan lambat dan teratur hingga jantungnya tidak berdebar-debar dengan kencang lagi.
“ Hyung, apa kau sudah merasa lebih baik?? ”
Hoseok menghela napas panjang, dan bersandar lemas pada punggung bangku.
“ Kau mendapat serangan panikmu lagi?? ”
“ Tidak akan berhasil, Jimin-ah… ”
“ Apa, Hyung?? ”
“ Terapi, dan pil-pil itu. Tidak ada pengobatan apapun lagi, yang akan berhasil padaku. ”
“ Hyung, kau pasti bisa sembuh dan hidup normal lagi. Ayo, kita pergi menemui doktermu sekarang. ” Jimin berdiri menarik tangan Hoseok, tapi namja itu balik menahannya.
Jimin duduk kembali, menatap Hoseok dengan khawatir. Diantara semua keenam sahabat dan Hyungnya, ia paling dekat dengan Jung Hoseok.
“ Tolong berjanji padaku, kau tidak akan memberitahukan tentang hal ini kepada Seok Jin Hyung dan yang lainnya, Ne? ”
“ Hyung… ”
“ Aku tidak pernah memintamu melakukan sesuatu untukku, kan?? Tolong, jangan biarkan orang-orang yang kita sayangi itu mengkhawatirkanku. ”
Jimin terdiam, bergulat dengan pemikirannya untuk berpura-pura berjanji atau benar-benar melakukannya untuk Hoseok. Lalu, bagaimana Hoseok akan bertahan untuk menyelamatkan diri? Atau, apa mungkin kali ini Hoseok hanya akan berdiam diri dan membiarkan dirinya tenggelam sendirian?
Ah, kenapa dia jadi memikirkan hal buruk yang tidak akan mungkin terjadi itu? Bersikap sentimental, seperti bukan dirinya saja. Park Jimin bodoh.
***
Kim Nam Joon segera berlari menghampiri gagang telepon, yang di letakkan terbalik agar sambungannya tidak terputus di atas meja itu.
“ Mwoya? ”
“ Ya… Aku lebih tua darimu, bersikap sopanlah sedikit. ” Omel Seok Jin di ujung telepon.
“ Aku sudah bilang, jangan menghubungiku di nomor telepon kantor, Hyung. ”
“ Aku juga sudah bilang, belilah ponsel dengan gajimu. Apa kau hanya akan mengisi paru-parumu dengan asap?? ”
“ Aku tidak merokok, Hyung. Setidaknya, tidak untuk hari ini. ” Bantah Nam Joon kesal. “ Apa lagi yang bisa aku lakukan dengan hidup yang membosankan ini?? Lagipula, bukankah gajiku selalu digunakan untuk membelikan buku dan makanan untuk tiga anak kecil sialan itu?? Ponsel apa… ”
“ Ya, Kim Nam Joon! Mereka adalah dongsaeng kita, tahu. Jagalah ucapanmu. ” Seok Jin menggeleng heran, sambil memijit keningnya. Apa Nam Joon akan selalu berbicara seperti itu? Dia tidak akan pernah mendapatkan gadis yang mau menyukainya. “ Jam berapa pekerjaanmu berakhir hari ini?? Apa kau akan mengambil shift malam?? ”
“ Entahlah. ”
“ Pulanglah lebih awal. Malam ini kita akan makan di apartemen Yoon Gi. Sudah seminggu ini kita bertujuh tidak berkumpul bersama lagi, kan? Aku sudah melihat-lihat resep, dan sup kepiting sepertinya lezat, atau mungkin ada yang ingin kalian makan… ”
Nam Joon terdiam sebentar, saat mendengarkan nama Yoon Gi disebut. Hyungnya itu, apa dia baik-baik saja sekarang? Mereka memang sudah seminggu ini tidak bertemu, jadi Nam Joon akhirnya penasaran bagaimana keadaan Yoon Gi setelah pindah ke apartemen kecil dan kumuh itu.  Bulan ini tidak berjalan baik untuk Yoon Gi. Setelah aset-aset keluarganya disita pihak kejaksaan karena ayahnya terlibat skandal korupsi dan penyuapan di departemen keuangan, ibu Yoon Gi meninggal, dan Yoon Gi memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen dengan uang tabungannya yang tersisa dibandingkan tinggal dengan bibinya yang mata duitan di Daegu.
Minggu lalu setelah pindah, Yoon Gi seperti mengurung diri untuk memutus kontak dengan dunia luar, jadi mereka berenam sengaja untuk memberikan Yoon Gi ruang dan waktu untuk bernapas dan menyusun kembali perasaannnya yang berantakan. Kalau Seok Jin sudah mengatur rencana makan malam, berarti keadaan sudah menjadi baik kembali. Bagaimanapun, ketika Nam Joon merasa lelah, hanya enam orang berisik itu saja yang selalu menjadi tempatnya untuk pulang. Mendapatkan semangat dan senyuman kembali, setelah melihat candaan dan perdebatan mereka yang konyol.
Jika ada yang terluka, maka yang lainnya juga pasti akan terluka dan merasakan sakit. Nam Joon tidak suka saat itu terjadi, karena akhirnya sepanjang hari untuk jangka waktu yang entah akan berakhir cepat atau menjadi lama, semuanya hanya akan tentang mendung dan kesedihan.
Senyum tipis Nam Joon tersungging.
“ Ani, Hyung. Sup kepiting sudah terdengar cukup. Kau tahu, kan? Kita tidak pernah pilih-pilih dalam hal makanan… ”
“ Baiklah. Ngomong-ngomong, aku akan mampir ke tempat kerjamu dalam perjalanan ke pasar, untuk membawakan makan siang, oke? ”
Nam Joon tidak menjawab, dan hanya menutup telepon. Ia menghela napas lega, masih dengan senyum tipisnya. Setelah memandangi gagang telepon selama beberapa detik, Nam Joon keluar meninggalkan ruangan kantor pengisian bahan bakar itu, dan kembali bekerja. Mungkin untuk hari ini, ia tidak jadi mati karena kebosanan bahkan kalau atasannya memarahinya lagi karena keluhan para pelanggan yang terlalu manja itu.
***
PRAANGGG!!
“ SUDAH AKU BILANG AKU TIDAK PUNYA UANG!! ”
“ APA KAU PIKIR BISA MEMBODOHIKU?? ”
Langkah Jeon Jungkook terhenti di depan pintu rumahnya, saat ia sadar lagi-lagi ia kembali menghadapi suara yang sama. Apa adegan itu tidak akan berganti? Pertengkaran ayah tiri dan ibunya… Kapan Jungkook akan disambut seperti anak normal lainnya saat mereka pulang dari sekolah? Jungkook sudah tiba pada saat dimana ia tidak merasa terkejut dan panik lagi, dan suara-suara teriakan itu hanya seperti sebuah lagu dalam pemutar musik yang tidak pernah ia miliki. Jungkook memilih berbalik pergi, meninggalkan tempat itu diam-diam, karena toh orang tuanya tidak akan sadar ia belum berada di rumah kecuali mereka berniat meminta Jungkook untuk pergi membeli bir, yang entah kapan saat mereka punya cukup uang untuk itu.
Dan, kemudian disinilah Jungkook berakhir.
Di salah satu bangku panjang tepat di seberang sebuah kafe kecil, duduk dan mencoret-coret buku sketsanya dengan pensil. Hanya goresan ekspresi yang sama, tapi setidaknya hal itu bisa memberikan Jungkook sedikit bagian dari dunia yang ia inginkan. Dimana semuanya tampak menyenangkan, dan ia punya alasan untuk merasa bersyukur karena sudah jatuh cinta.
Jungkook memberikan polesan-polesan tipis pada sorot mata gambarnya dengan luwes, lalu berhenti untuk membandingkannya dengan model sketsanya yang asli. Dengan beberapa menit pengamatan, Jungkook berpikir kalau gambar yang ia buat tidak akan pernah sebagus aslinya. Terlalu banyak perbedaan, untuk digambarkan hanya dengan sebatang pensil.
Jungkook mengamati model sketsanya sekali lagi, lalu tersenyum manis.
Berdiri di balik konter dalam kafe kecil seberang jalan itu, tampak sosok Han Ji Ah yang sedang melayani dengan ramah para pelanggan yang datang dan mengantri. Jungkook baru beberapa hari ini menyukai Noona, yang tampak manis dan imut dengan kuncir ekor kuda tipisnya itu. Tidak ada satupun Hyungnya yang tahu, karena Jungkook takut diejek. Ji Ah sendiri memang baru beberapa hari bekerja di kafe itu, dan Jungkook bertemu dengan Ji Ah saat ia membeli segelas Macchiato dengan uang sakunya yang tersisa, pada hari pertama yeoja itu bekerja. Jungkook melihat Ji Ah yang tersenyum padanya, dan sesederhana itu ia sudah jatuh cinta.
“ Kau mau beli apa, Namhaksaeng?? ”
Jungkook menunduk memperhatikan buku sketsanya yang ternyata sudah penuh, lalu kembali memperhatikan sosok Han Ji Ah, dan memutuskan untuk masuk ke dalam kafe itu. Sambil berdiri di antara deretan antrian yang mulai habis, mata Jungkook tidak pernah lepas memperhatikan Ji Ah, dan senyum namja itu tersungging dengan sendirinya.
“ Kau mau pesan apa, Namhaksaeng?? ” Tanya Ji Ah, saat tiba giliran bagi Jungkook dan bocah itu tidak juga mengatakan apa-apa.
“ Ani, Noona. Aku tidak akan memesan apa-apa, karena aku tidak punya uang sekarang. ” Jawab Jungkook dengan santai. “ Tapi, ini… ” Jungkook menyodorkan buku sketsanya, dan meletakkan benda itu di atas konter kayu yang dicat cokelat mengkilap itu. “ Sudah penuh,  jadi Noona ambillah. Aku akan membeli satu lagi yang baru, lalu kembali mulai mengisinya. ”
Sebelum Han Ji Ah sempat mengatakan apa-apa, Jungkook sudah lebih dulu membungkukkan badan sesaat dan berbalik pergi. Ji Ah hanya bisa memperhatikan kepergian bocah itu dengan tatapan heran, sebelum kembali fokus pada antrian terakhir pelanggannya yang memesan kopi. Setelah pergantian shift, Ji Ah pergi ruang ganti pegawai, duduk untuk membuka buku yang tadi Jungkook berikan padanya, dan mendapati dirinya tersentak karena lembar-lembar buku itu dipenuhi oleh sketsa dirinya yang berdiri di balik konter kafe dengan gaya dan raut wajah yang berbeda-beda. Ji Ah melihat coretan kecil dengan pensil, pada sudut bawah lembar sketsa yang terakhir.
Jeon Jungkook.
Apa bocah ingusan dengan dua gigi kelincinya yang besar tadi itu, duduk di seberang jalan setiap hari untuk melakukan ini? Melukisnya… Apa bocah itu membolos sekolah?? Apa-apaan ini? Apa Jeon Jungkook menyukainya? Ji Ah tersenyum masam, dan berdiri untuk menyimpan buku itu di dalam lokernya. Tampaknya sejak Ji Ah pindah ke lingkungan sekitar sini, ia mengalami hal-hal yang cukup mengejutkan.
Tapi, ada satu yang Ji Ah ingat, dan sepertinya menarik perhatiannya. Tetangganya yang dipukuli semalam, yang Ji Ah kompres bawah mata kirinya dengan kantung es, yang tidak mengatakan apapun selain terima kasih dan pergi dengan misterius. Namja itu bahkan tidak tampak kesakitan atau meringis, tapi sorot matanya penuh dengan luka dan membuat Ji Ah tahu kalau namja itu hanya sedang berpura-pura tegar saja.
Ngomong-ngomong, siapa namanya? Apa lebam di bawah matanya itu masih terasa sakit?
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar