“ Jangan pikirkan apapun, dan makanlah dengan
lahap. ”
“ Iya, Hyung. Gomawo… ”
Kim Taehyung menurunkan tudung
jaket abu-abunya, meraih sendok yang berada di atas meja, lalu mulai menyuapkan
nasi ke dalam mulutnya dengan patuh seperti seorang anak kecil. Makin lama,
sikap tubuhnya makin santai dan Taehyung pun makan dengan sangat lahap hingga
membuat Seok Jin tersenyum senang.
Perasaan Seok Jin berubah lagi
menjadi kurang enak, saat ia melihat bekas lebam keunguan di bawah mata kiri
Taehyung.
“ Apa kau dipukul lagi? ”
“ Aku tidak akan pernah mengerti, kenapa
Noonaku mau berpacaran dengan orang seperti dia. ” Taehyung meletakkan
sendoknya, dan menatap Seok Jin dengan serius. “ Cinta seperti apa yang selalu
aku lihat itu? Benar-benar mengerikan. ”
Seok Jin tersenyum, untuk menenangkan Taehyung.
“ Noonamu pasti punya alasan yang kuat, bahkan kalau ia tetap bertahan di sisi
pacarnya itu bukan karena cinta. ”
Taehyung menunduk, untuk menyembunyikan raut
wajah sedihnya.
“ Semalam, ia memukul Noona lagi. Ia kehabisan
uang, untuk membeli Soju dan rokok. Aku tidak bisa melindunginya, seperti yang
mendiang kedua orang tuaku inginkan, Hyung. Aku tidak berguna. ”
“ Taehyung-ah… Kau harus tetap kuat untuk
Noonamu, kau mengerti?? Kau bisa melakukannya. Melindungi Noonamu sampai akhir.
Kalau aku saja percaya padamu, berarti kau juga harus percaya pada dirimu
sendiri. ”
Taehyung mendongak, menatap
Seok Jin dengan sedikit harapan di matanya bahwa pada akhirnya nanti semuanya
memang akan baik-baik saja. Seok Jin tersenyum lebar, dan mengangguk, seperti
bisa membaca pikiran bocah dua puluh tahun itu dengan tepat. Taehyung balas
tersenyum tipis, lalu kembali melanjutkan makan siangnya dengan lahap seperti
biasa saat ia memakan masakan Seok Jin. Taehyung merasa sedikit lebih baik.
***
“ Dia belum menelepon? ”
Park Jimin mendongak dengan
enggan, mengalihkan perhatiannya dari ujung sepatunya kepada Jung Hoseok, dan
menggeleng pelan dengan senyum dan sorot mata yang sedih. Hoseok menatapnya
tidak mengerti.
“ Apa terjadi sesuatu? Kenapa kau tidak
mengiriminya surat saja?? ”
Jimin melirik sekilas seorang
wanita paruh baya yang sedang berbicara, di dalam bilik telepon umum di samping
tempat ia dan Hoseok berdiri sekarang. Perasaannya bahkan menjadi jauh lebih
sedih lagi.
“ Dua minggu sekali, pada hari senin, pukul
lima sore, di nomor telepon umum yang aku gunakan untuk menghubunginya. Setelah
teleponnya yang pertama, aku tidak pernah mendapatkan kabar apapun, dan kemarin
semua surat yang aku kirim dikembalikan karena alamat penerima sudah diganti. ”
Hoseok tampak terkejut. “ Apa dia pindah?? Setidaknya,
seharusnya ia mengirimimu alamat barunya atau sekedar nomor telepon yang bisa
dihubungi. ”
Jimin mengangkat bahu. Fakta bahwa ia tidak
tahu apa-apa, membuatnya merasa sedikit marah. “ Begitu kata petugas posnya.
Jadi, yang bisa aku lakukan hanya berdiri di tempat ini setiap dua minggu
sekali, menunggu sambil berharap telepon itu akan berdering sendiri nantinya. Entah
kapan. ”
“ Kau pasti sangat mengkhawatirkan Yoon Seul. ”
“ Aku tidak bisa berhenti memikirkan dia,
Hyung. Aku merindukan Yoon Seul. ”
Hoseok hendak mengatakan
sesuatu, saat segerombolan remaja SMA lewat di depan mereka sambil tertawa dan
saling dorong. Hoseok seperti tercekat, dan ritme detakan jantungnya segera
berubah menjadi sangat cepat. Napasnya berat dan memburu dengan raut wajah yang
memucat, dan keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Jimin yang menyadari hal itu,
segera memegang pundak Hoseok, dan mendudukkan namja itu ke bangku besi panjang
yang tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri. Jimin segera merogoh-rogoh ke
dalam saku-saku mantel Hoseok, tapi tidak menemukan satupun benda yang
kira-kira adalah obat namja itu. Hoseok mencengkeram dadanya, dan berusaha
bernapas dengan lambat dan teratur hingga jantungnya tidak berdebar-debar
dengan kencang lagi.
“ Hyung, apa kau sudah merasa lebih baik?? ”
Hoseok menghela napas panjang,
dan bersandar lemas pada punggung bangku.
“ Kau mendapat serangan panikmu lagi?? ”
“ Tidak akan berhasil, Jimin-ah… ”
“ Apa, Hyung?? ”
“ Terapi, dan pil-pil itu. Tidak ada pengobatan
apapun lagi, yang akan berhasil padaku. ”
“ Hyung, kau pasti bisa sembuh dan hidup normal
lagi. Ayo, kita pergi menemui doktermu sekarang. ” Jimin berdiri menarik tangan
Hoseok, tapi namja itu balik menahannya.
Jimin duduk kembali, menatap
Hoseok dengan khawatir. Diantara semua keenam sahabat dan Hyungnya, ia paling
dekat dengan Jung Hoseok.
“ Tolong berjanji padaku, kau tidak akan
memberitahukan tentang hal ini kepada Seok Jin Hyung dan yang lainnya, Ne? ”
“ Hyung… ”
“ Aku tidak pernah memintamu melakukan sesuatu
untukku, kan?? Tolong, jangan biarkan orang-orang yang kita sayangi itu
mengkhawatirkanku. ”
Jimin terdiam, bergulat dengan
pemikirannya untuk berpura-pura berjanji atau benar-benar melakukannya untuk Hoseok.
Lalu, bagaimana Hoseok akan bertahan untuk menyelamatkan diri? Atau, apa
mungkin kali ini Hoseok hanya akan berdiam diri dan membiarkan dirinya
tenggelam sendirian?
Ah, kenapa dia jadi memikirkan
hal buruk yang tidak akan mungkin terjadi itu? Bersikap sentimental, seperti
bukan dirinya saja. Park Jimin bodoh.
***
Kim Nam Joon segera berlari
menghampiri gagang telepon, yang di letakkan terbalik agar sambungannya tidak
terputus di atas meja itu.
“ Mwoya? ”
“ Ya… Aku lebih tua darimu, bersikap sopanlah
sedikit. ” Omel Seok Jin di ujung telepon.
“ Aku sudah bilang, jangan menghubungiku di
nomor telepon kantor, Hyung. ”
“ Aku juga sudah bilang, belilah ponsel dengan
gajimu. Apa kau hanya akan mengisi paru-parumu dengan asap?? ”
“ Aku tidak merokok, Hyung. Setidaknya, tidak
untuk hari ini. ” Bantah Nam Joon kesal. “ Apa lagi yang bisa aku lakukan
dengan hidup yang membosankan ini?? Lagipula, bukankah gajiku selalu digunakan
untuk membelikan buku dan makanan untuk tiga anak kecil sialan itu?? Ponsel
apa… ”
“ Ya, Kim Nam Joon! Mereka adalah dongsaeng
kita, tahu. Jagalah ucapanmu. ” Seok Jin menggeleng heran, sambil memijit
keningnya. Apa Nam Joon akan selalu berbicara seperti itu? Dia tidak akan
pernah mendapatkan gadis yang mau menyukainya. “ Jam berapa pekerjaanmu
berakhir hari ini?? Apa kau akan mengambil shift
malam?? ”
“ Entahlah. ”
“ Pulanglah lebih awal. Malam ini kita akan
makan di apartemen Yoon Gi. Sudah seminggu ini kita bertujuh tidak berkumpul bersama
lagi, kan? Aku sudah melihat-lihat resep, dan sup kepiting sepertinya lezat,
atau mungkin ada yang ingin kalian makan… ”
Nam Joon terdiam sebentar, saat
mendengarkan nama Yoon Gi disebut. Hyungnya itu, apa dia baik-baik saja
sekarang? Mereka memang sudah seminggu ini tidak bertemu, jadi Nam Joon akhirnya
penasaran bagaimana keadaan Yoon Gi setelah pindah ke apartemen kecil dan kumuh
itu. Bulan ini tidak berjalan baik untuk
Yoon Gi. Setelah aset-aset keluarganya disita pihak kejaksaan karena ayahnya
terlibat skandal korupsi dan penyuapan di departemen keuangan, ibu Yoon Gi
meninggal, dan Yoon Gi memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen dengan uang
tabungannya yang tersisa dibandingkan tinggal dengan bibinya yang mata duitan
di Daegu.
Minggu lalu setelah pindah,
Yoon Gi seperti mengurung diri untuk memutus kontak dengan dunia luar, jadi
mereka berenam sengaja untuk memberikan Yoon Gi ruang dan waktu untuk bernapas
dan menyusun kembali perasaannnya yang berantakan. Kalau Seok Jin sudah mengatur
rencana makan malam, berarti keadaan sudah menjadi baik kembali. Bagaimanapun, ketika
Nam Joon merasa lelah, hanya enam orang berisik itu saja yang selalu menjadi
tempatnya untuk pulang. Mendapatkan semangat dan senyuman kembali, setelah
melihat candaan dan perdebatan mereka yang konyol.
Jika ada yang terluka, maka
yang lainnya juga pasti akan terluka dan merasakan sakit. Nam Joon tidak suka
saat itu terjadi, karena akhirnya sepanjang hari untuk jangka waktu yang entah
akan berakhir cepat atau menjadi lama, semuanya hanya akan tentang mendung dan
kesedihan.
Senyum tipis Nam Joon
tersungging.
“ Ani, Hyung. Sup kepiting sudah terdengar
cukup. Kau tahu, kan? Kita tidak pernah pilih-pilih dalam hal makanan… ”
“ Baiklah. Ngomong-ngomong, aku akan mampir ke tempat
kerjamu dalam perjalanan ke pasar, untuk membawakan makan siang, oke? ”
Nam Joon tidak menjawab, dan
hanya menutup telepon. Ia menghela napas lega, masih dengan senyum tipisnya.
Setelah memandangi gagang telepon selama beberapa detik, Nam Joon keluar
meninggalkan ruangan kantor pengisian bahan bakar itu, dan kembali bekerja.
Mungkin untuk hari ini, ia tidak jadi mati karena kebosanan bahkan kalau
atasannya memarahinya lagi karena keluhan para pelanggan yang terlalu manja itu.
***
PRAANGGG!!
“ SUDAH AKU BILANG AKU TIDAK PUNYA UANG!! ”
“ APA KAU PIKIR BISA MEMBODOHIKU?? ”
Langkah Jeon Jungkook terhenti
di depan pintu rumahnya, saat ia sadar lagi-lagi ia kembali menghadapi suara
yang sama. Apa adegan itu tidak akan berganti? Pertengkaran ayah tiri dan
ibunya… Kapan Jungkook akan disambut seperti anak normal lainnya saat mereka
pulang dari sekolah? Jungkook sudah tiba pada saat dimana ia tidak merasa
terkejut dan panik lagi, dan suara-suara teriakan itu hanya seperti sebuah lagu
dalam pemutar musik yang tidak pernah ia miliki. Jungkook memilih berbalik
pergi, meninggalkan tempat itu diam-diam, karena toh orang tuanya tidak akan
sadar ia belum berada di rumah kecuali mereka berniat meminta Jungkook untuk
pergi membeli bir, yang entah kapan saat mereka punya cukup uang untuk itu.
Dan, kemudian disinilah
Jungkook berakhir.
Di salah satu bangku panjang
tepat di seberang sebuah kafe kecil, duduk dan mencoret-coret buku sketsanya
dengan pensil. Hanya goresan ekspresi yang sama, tapi setidaknya hal itu bisa
memberikan Jungkook sedikit bagian dari dunia yang ia inginkan. Dimana semuanya
tampak menyenangkan, dan ia punya alasan untuk merasa bersyukur karena sudah
jatuh cinta.
Jungkook memberikan
polesan-polesan tipis pada sorot mata gambarnya dengan luwes, lalu berhenti
untuk membandingkannya dengan model sketsanya yang asli. Dengan beberapa menit
pengamatan, Jungkook berpikir kalau gambar yang ia buat tidak akan pernah
sebagus aslinya. Terlalu banyak perbedaan, untuk digambarkan hanya dengan
sebatang pensil.
Jungkook mengamati model
sketsanya sekali lagi, lalu tersenyum manis.
Berdiri di balik konter dalam kafe
kecil seberang jalan itu, tampak sosok Han Ji Ah yang sedang melayani dengan
ramah para pelanggan yang datang dan mengantri. Jungkook baru beberapa hari ini
menyukai Noona, yang tampak manis dan imut dengan kuncir ekor kuda tipisnya itu.
Tidak ada satupun Hyungnya yang tahu, karena Jungkook takut diejek. Ji Ah sendiri
memang baru beberapa hari bekerja di kafe itu, dan Jungkook bertemu dengan Ji
Ah saat ia membeli segelas Macchiato dengan uang sakunya yang tersisa, pada
hari pertama yeoja itu bekerja. Jungkook melihat Ji Ah yang tersenyum padanya,
dan sesederhana itu ia sudah jatuh cinta.
“ Kau mau
beli apa, Namhaksaeng?? ”
Jungkook menunduk
memperhatikan buku sketsanya yang ternyata sudah penuh, lalu kembali
memperhatikan sosok Han Ji Ah, dan memutuskan untuk masuk ke dalam kafe itu. Sambil
berdiri di antara deretan antrian yang mulai habis, mata Jungkook tidak pernah
lepas memperhatikan Ji Ah, dan senyum namja itu tersungging dengan sendirinya.
“ Kau mau pesan apa, Namhaksaeng?? ” Tanya Ji
Ah, saat tiba giliran bagi Jungkook dan bocah itu tidak juga mengatakan
apa-apa.
“ Ani, Noona. Aku tidak akan memesan apa-apa,
karena aku tidak punya uang sekarang. ” Jawab Jungkook dengan santai. “ Tapi,
ini… ” Jungkook menyodorkan buku sketsanya, dan meletakkan benda itu di atas
konter kayu yang dicat cokelat mengkilap itu. “ Sudah penuh, jadi Noona ambillah. Aku akan membeli satu
lagi yang baru, lalu kembali mulai mengisinya. ”
Sebelum Han Ji Ah sempat
mengatakan apa-apa, Jungkook sudah lebih dulu membungkukkan badan sesaat dan berbalik
pergi. Ji Ah hanya bisa memperhatikan kepergian bocah itu dengan tatapan heran,
sebelum kembali fokus pada antrian terakhir pelanggannya yang memesan kopi. Setelah
pergantian shift, Ji Ah pergi ruang ganti pegawai, duduk untuk membuka buku
yang tadi Jungkook berikan padanya, dan mendapati dirinya tersentak karena
lembar-lembar buku itu dipenuhi oleh sketsa dirinya yang berdiri di balik
konter kafe dengan gaya dan raut wajah yang berbeda-beda. Ji Ah melihat coretan
kecil dengan pensil, pada sudut bawah lembar sketsa yang terakhir.
Jeon
Jungkook.
Apa bocah ingusan dengan dua
gigi kelincinya yang besar tadi itu, duduk di seberang jalan setiap hari untuk
melakukan ini? Melukisnya… Apa bocah itu membolos sekolah?? Apa-apaan ini? Apa
Jeon Jungkook menyukainya? Ji Ah tersenyum masam, dan berdiri untuk menyimpan
buku itu di dalam lokernya. Tampaknya sejak Ji Ah pindah ke lingkungan sekitar
sini, ia mengalami hal-hal yang cukup mengejutkan.
Tapi, ada satu yang Ji Ah
ingat, dan sepertinya menarik perhatiannya. Tetangganya yang dipukuli semalam,
yang Ji Ah kompres bawah mata kirinya dengan kantung es, yang tidak mengatakan
apapun selain terima kasih dan pergi dengan misterius. Namja itu bahkan tidak
tampak kesakitan atau meringis, tapi sorot matanya penuh dengan luka dan membuat
Ji Ah tahu kalau namja itu hanya sedang berpura-pura tegar saja.
Ngomong-ngomong, siapa
namanya? Apa lebam di bawah matanya itu masih terasa sakit?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar