Main
Casts : Jung Hoseok (BTS), Kim Yoon Hee (OC). Other will be revealed during the
story
Genre
: Romance
Rate
: T
Length
: Oneshoot
Disclaimer : I Own The Story, Jung Hoseok Belongs to Park
Jimin (Uhuk), Bighit Ent., Bangtan, and Army.
A/N : Sangat tidak bertanggungjawab, masih ngutang chapter
lanjutan The Other Side of The Door-nya Min Yoongi, tahu-tahu muncul malah
publish ini kkkk. Hasil inspirasi dadakan, minjem Kim Yoon Hee yang identitas
aslinya dirahasiakan (Plaak), lahirlah tulisan sederhana yang masih banyak
kekurangan kiri kanan ini.
Semoga bisa menghibur, dan bikin yang baca bahagia.
.
.
.
.
Kenapa?
Setiap dia memejamkan mata, itu adalah kata pertama yang
selalu muncul dalam kepalanya.
Kenapa tidak bisa?
“Hentikan…”
Kim Yoon Hee benci pemilik suara itu berbicara dengan nada
lembut padanya. Dia juga benci tangan itu menarik paksa gelas minuman dari
genggamannya.
“Kau sudah minum terlalu banyak, Yoon Hee-ya.”
“Kau tidak pernah mengalami hidup sepayah aku, kan, Jung
Hoseok??”
“Kau mabuk.” Elak Hoseok. “Ayo, aku akan mengantarmu—”
“Tidak mau!!” Yoon Hee segera menepis tangan Hoseok yang
menyentuh bahunya. “Kau tidak pernah sepayah aku, kan?? Benar, kan??”
Jung Hoseok tidak menjawab.
Yoon Hee mendesis sinis, beralih pada bartender di balik
meja dan minta diberikan sebotol kecil gin.
Kenapa tidak bisa
membuatnya bahagia??
Terserah kalau dia bakal pingsan karena mabuk, Hoseok tidak
punya hak untuk mengurusinya. Kalau dia mau muntah-muntah sampai ususnya
keluar, Hoseok juga tidak perlu mempedulikannya. Hoseok adalah orang asing, dan
selamanya akan begitu.
“Aku ini payah sekali.” Yoon Hee bicara lagi, setelah
menegak habis gin-nya. “Aku
membiarkan diriku dirampok, Jung Hoseok. Aku dirampok sampai jatuh miskin.”
“Itu bukan salahmu.”
“Kau tahu apa!!???? Kau diam saja dan dengarkan aku…” Yoon
Hee kesal melihat botolnya kosong. “Apa yang orang-orang tahu tentang cinta?
Apa yang kau tahu tentang cinta?”
“Tidak ada.”
“Betul, kan??? Tidak ada! Mereka hanya jadi sok tahu dengan
mengatakan cinta itu indah, membahagiakan, bla, bla, bla…” Yoon Hee berdecak
kesal karena Hoseok menahan tangannya menjangkau gelas yang tadi Hoseok ambil. Dia
menatap Hoseok tajam dengan kesadarannya yang tinggal setengah itu. “Kau mau
tahu kebenarannya? Cinta itu sampah. Kotoran. Menjijikkan.”
Hoseok diam saja melihat mata sayu Kim Yoon Hee mulai
berkaca-kaca.
“Aku bodoh sekali berpura-pura cerdas seperti orang lain…
Aku ditipu seperti sebuah lelucon murahan, dan rasanya…” Air mata Yoon Hee
mulai menetes perlahan. “Seperti aku selalu ditertawai oleh setiap pasang mata
yang melihatku. Mereka mengejekku, hiks…”
“Kau bukan lelucon.”
Air mata Yoon Hee semakin deras, dan Hoseok segera
menyekanya dengan tisu yang disodorkan oleh si bartender. “Aku tidak ditertawai
saat jatuh karena menginjak kulit pisang… Huuuu… Hiks, hiks… Tapi aku malah
diejek karena aku dirampok… Huwaaaaaa… Hiks… Huuuu… Uuuu… Uuuu… Memangnya aku,
hiks, mau mengalami hal itu???”
“Ssshhh… Sudahlah. Tidak ada yang mengejekmu… Aku antar kau
pulang, oke?”
“Aku…” Yoon Hee menepuk-nepuk dadanya, sementara air
matanya masih menetes-netes. “Aku jatuh cinta, hiks, seperti seorang remaja
saat umurku sudah dua puluh lima tahu~un. Aku berdebar-debar karena tanganku
digandeng. Aku, hiks, aku menjerit-jerit saat ponselku berdering. Aku melakukan
semua kegilaan itu, Hoseok-a~ah. Huuuuu… Uuuuuu…”
Hoseok tahu dengan benar.
Memangnya, siapa yang tidak jadi gila saat jatuh cinta?
Tapi, Yoon Hee juga tidak perlu jadi gila saat putus cinta begini, karena
harapan wanita itu sudah patah bertahun-tahun yang lalu.
“Aku tulus, Hoseok-ah. Kau tahu, kan? Kau tahu, kan, Jung
Hoseok?? Jawab akuuu…”
“Iya. Aku tahu.” Hoseok kembali menyeka pipi Yoon Hee
perlahan.
“Aku memberikan seluruh hatiku, tapi… hiks, tapi aku,
hidupku malah direnggut… Sakit sekali. Mukaku dilempari sampah. Apa itu adil??
Setidaknya… Aku pantas mendengar terima kasih, kan??? Huuuuu…uuuuu…”
“Matamu bisa bengkak kalau kau menangis terus. Kita pulang,
ya?”
“Tidak mau!!” Yoon Hee meninju bahu Hoseok lemah. “Memangnya
kenapa kalau aku bersungguh-sungguh??? Apa itu adalah hal yang menakutkan???
Karena itu aku dicampakkan begini??? Karena tidak penting kalau aku yang
terluka???”
Ponsel Yoon Hee di atas meja bergetar, dan layarnya yang
menyala menunjukkan ada panggilan masuk.
Taehyung-ie.
Hoseok meringis samar.
Yoon Hee ikut memperhatikan layar ponselnya sebentar,
sebelum kembali beralih pada Hoseok dan mengambil tisu dari tangan pria itu
dengan kesal, menyeka sendiri air matanya sembarangan.
“Kau tidak tahu siapa itu yang menelepon, kan?”
Hoseok menggeleng. Pura-pura.
“Tentu saja kau tidak tahu!” Bentak Yoon Hee, lalu ia
menunduk sambil meremas ujung kain celana pendeknya. Kembali sesenggukan. “Mana
mungkin tahu, kalau sudah pergi sangat lama… Hiks… Mana mungkin bisa tahu,
kalau tidak merasa penasaran. Hiks, hiks, huuuu~uuu… Uuuuuhuuuuhuuuhuuuuuu…
Kenapa kau melakukan ini padaku???”
Jung Hoseok ragu-ragu untuk mengulurkan tangannya, dan
akhirnya dia hanya bisa diam saja melihat Yoon Hee yang begitu kacau karenanya.
Ya, dia si brengsek yang tidak tahu bagaimana melakukan satu hal saja di dunia
ini dengan benar. Si brengsek idiot yang tidak tahu bagaimana caranya
mengucapkan perpisahan dengan tepat, jadi Yoon Hee tidak perlu meratap seperti
ini.
Hoseok menebak jika itu karena dia masih terlalu muda saat
itu. Bertahun-tahun yang lalu itu. Sama kekanakannya seperti Kim Yoon Hee yang
jatuh cinta, Jung Hoseok juga dikendalikan oleh perasaannya yang terlalu besar.
Membuatnya jadi lengah, dan kepanikan segera mengambil alih dengan mudah.
Sudah terlalu terlambat untuk menyesal sekarang.
Kim Yoon Hee mendongak perlahan, menyeka pipinya dengan
punggung tangan.
“Kenapa kau harus muncul di hadapanku??”
Kenapa?
Mungkin Jung Hoseok ingin mencoba peruntungannya yang
terakhir, dan takdir membantunya dengan sedikit dorongan keberanian.
“Aku tidak bisa mengendalikannya, Yoon Hee-ya.”
Bagus sekali. Memangnya Hoseok pikir Yoon Hee bakal senang
melihatnya?
Ponsel Yoon Hee bergetar lagi, dan wanita itu menunggu
hingga senyap kembali sebelum mulai bicara lagi.
“Kau tahu siapa itu yang meneleponku?”
“Ya. Aku tahu.” Tidak ada gunanya berbohong.
Yoon Hee tersenyum sinis. “Aku akan menikah minggu depan,
Hoseok.”
Jung Hoseok tidak terkejut. Dia memang tahu kalau
keberuntungannya sudah habis. Tapi, apa harus Kim Yoon Hee? Walaupun dia sudah
tahu lebih dulu bahwa Yoon Hee akan segera menikah—alasan utamanya kenapa dia
mengambil penerbangan pertama dari London untuk kembali ke Seoul, Hoseok masih
ingin mencobanya.
“Kim Taehyung, dia sangat baik padaku. Kami bertemu saat
musim panas dua tahun yang lalu.”
Hoseok merasa hatinya perih.
“Karena kau sudah mencabut hidup bahagiaku, aku harus
mendapatkannya dari orang lain.” Yoon Hee menyodorkan uang tunai ke arah
bartender, lalu turun dari kursi sambil meraih ponselnya. “Apa yang aku tangisi
malam ini, hanya akan sampai disini. Tidak ada kali ketiga.”
Hoseok ikut turun dari kursi, dan perasaannya jauh lebih
kacau daripada sebelum ini. Dia kehilangan dua kali, dan semua memang karena
dia terlalu bodoh. Tidak berguna.
“Kau…” Yoon Hee cepat-cepat mengerjap agar dia tidak
menangis lagi. “Kau harus mendoakan agar aku bahagia, oke??”
Hoseok tersenyum pahit. Irisan di hatinya terasa semakin
lebar, dan hal itu membuat matanya yang gantian memerah. “Tentu.”
“Tapi jangan datang. Aku tidak mau mengundangmu.”
“Aku tidak akan datang.”
Yoon Hee mengangguk, dengan canggung menepuk-nepuk lengan
Hoseok lalu berbalik meninggalkan bar. Dia sempoyongan dan kelelahan, tapi masih
cukup kuat untuk tidak dibantu oleh Hoseok.
Hati Hoseok yang hancur tidak akan pernah sama lagi
bentuknya.
Kim Taehyung datang dengan mobilnya, tidak lama setelah
Yoon Hee menelepon balik.
Pria jangkung berwajah tampan itu segera berlari
menghampiri Yoon Hee yang sempoyongan, mencegah tubuh wanita itu ambruk ke beton
yang dingin.
Yoon Hee segera memeluk Taehyung erat-erat, lalu menangis
di dada pria itu sepuasnya.
Taehyung segera membalas pelukan Yoon Hee sambil
menepuk-nepuk punggung wanita itu pelan.
“Ada apa, hm?”
Yoon Hee menggeleng. Suaranya serak dan bergetar saat ia
bicara. “Aku mengalami hari yang sangat berat.”
“Tidak apa-apa.
Sudah berlalu. Besok harinya sudah berganti, Yoon Hee.”
“Bagaimana kalau kau tidak ada?”
“Apa maksudmu? Aku akan selalu ada…”
“Kalau kau mau pergi?”
Taehyung tersenyum mendengar pertanyaan Yoon Hee itu.
Jarang-jarang wanita itu mau membicarakan sesuatu yang serius, apalagi di
depan—ugh—sebuah bar.
“Kau mau ikut denganku?”
Yoon Hee mundur untuk mendongak menatap Taehyung, dan pria
itu menyeka sudut mata Yoon Hee lembut.
“Aku boleh ikut?”
“Tentu saja.”
Yoon Hee kembali menyandarkan kepalanya di dada Taehyung.
Kenapa tidak bisa
membuatnya bahagia dengan cinta pertamanya??
Mungkin, karena benang merah tidak mengikat mereka untuk
jadi satu.
Dan, ikatan seperti itu bukan Kim Yoon Hee yang bisa
mengendalikannya.
.
.
.
.
The End
Z komeeen :D
BalasHapusKata2 yg terakhir menohok ==> benang merah #cekikfirstlove --"
Keputusan yg tepat untuk tidak kembali sama si Hoseok, sudah 2kali diberi kesempatan tapi tidak diindahkan? So, kesempatan ke-3 itu tidak ada. Kenapa harus diberi ketika nanti hal yang sama akan terulang? Benang merah yaa..
Pesan moral: jangan sekali2 undang cinta pertamamu ke pesta pernikahanmu..haha :p
@Nurul Hikmah : Hahahahahahaha :D:D:D:D:D:D:P:P:P:P:P
BalasHapus