Senin, 29 Juni 2015

Hari Ini // Aku Marah Pada Cinta

2016, Februari Kosong Sepuluh.

Ini adalah surat pertama yang aku tuliskan, dibawah tekanan rasa rindu yang kau sumbat seperti tutup keran air.

Aku membencimu sampai ke tulang-tulangku.

Apa kabar?
Berapa jam perjalanan yang kau habiskan kemarin, untuk menghitung berapa kilometer perjuangan memisahkanmu dari hiruk pikuk kota yang runtuh itu?
Aku melihat mendung saat merasakan penyesalan itu menabrakku, tapi sudah cukup aku menjelaskan diriku sendiri sampai mulutku berbusa.
Tidak akan pernah ada pengertian itu, bahkan sekalipun kamu memaksakannya.

Aku mengutukmu sampai ke sel-sel tubuhku.

Rindu ini adalah nanah dari luka, saat aku menikam kita dengan emosi kekanakan yang meraja. Kenapa tidak memilih orang lain untuk kau buat jatuh cinta? Sebelum kau hempas dengan pilihan lain yang lebih indah.

Aku, ah, aku ingin sekali memakimu diantara kekhawatiranku yang selalu menggunung.

Aku ingin mencekikmu, agar kamu kehabisan napas, sama sepertiku setiap malam.

Tapi, kalau aku semakin membencimu, aku akan semakin mencintaimu. Lebih baik membiarkan luka ini terparut habis sendiri, sampai aku tidak merasa penasaran lagi.

Jarak kilometer yang belasan itu bukan urusanku. Kau kembali bulan depan juga bukan, karena bisnis perasaanku sudah selesai sembari aku menghapus setiap spasi percakapan itu hingga lenyap.

Kita bukan apa-apa.

Rabu, 10 Juni 2015

Letter From 2015, June 5th - Coincidence and Its Story

Ada orang yang suka sama kebetulan, dan ada juga yang nggak. Buat cewek yang suka nonton drama korea, mereka pasti mengharapkan ada kebetulan dimana pada saat itu kebetulannya akan berujung takdir menjadi ketemu dengan Mr. Right mereka. Keluar dari swalayan pada hari berhujan, lalu ada cowok yang menawarkan payung sambil tersenyum manis dengan poni yang terbang tertiup angin. Siapa yang nggak mau?

Oh, ada kok. Cewek yang suka nonton drama, tapi tahu kalau mereka nggak akan pernah beruntung jadi nggak pernah mengharapkan hal yang aneh-aneh.

Gua tumbuh menjadi pecinta drama-drama lebay itu, dan berdiri diantara suka sama adanya kebetulan dan sekaligus benci hal itu. Gue nggak pernah beruntung dengan kebetulan, karena gue jelek dan nggak bakal lolos casting untuk adegan romantis, tapi gue suka karena gue itu cewek normal yang nggak mungkin menolak cowok tampan dengan kibasan poninya (LOL) apalagi kalau dia mirip atau sekalian benar-benar Cha Taehyun. Dan, tanpa sadar gue selalu berharap ada salah satu dari kebetulan-kebetulan romantis itu yang datang ke gue.

Dan, disinilah gue malam ini. Terjebak dengan sisa-sisa kebetulan tadi sore yang mungkin bakal terbawa sampai ke mimpi gue bermalam-malam selanjutnya.

Hari ini gue kalang kabut ketika ponsel bongkar pasang 5320 gue berdering, dan itu adalah telepon dari dosen merangkap sepupu gue yang butuh jasa gratis buat jagain anaknya. Kebetulan juga gue mau ke kampus buat mengurus SK ujian, jadi sekalian aja gue iyain. Well, today was really a something. Apalagi, ketika gue berhasil menidurkan baby itu dalam gendongan, dan dosen-dosen lain nyeletuk bahwa gue udah BISA. Whatever. Gue tetap masih harus nyari calon bapaknya, karena nggak mungkin gue mau ijab Kabul buat diri gue sendiri nanti.
Setelah selesai dengan misi baby sitter itu entah untuk berapa jam, gue segera cabut ambil sepatu dan bersiap-siap menebeng ke tempat kerja sama senior gue. Dan, ternyata, dari sudut kota yang lain, ‘kebetulan’ gue sedang bergerak mendekati koordinat.

Gue udah lama tahu dia udah punya pacar lagi, jauh lebih cantik dan feminim. Kata para teman-temannya, junior gue tapi mereka sendiri juga nggak yakin. Gue lebih-lebih nggak yakin lagi, apa harus percaya pada sugesti kalau cewek itu cuma pelampiasan ketidaktulusannya dia—let’s assume that he didn’t choose me because he knew that I was serious with my feeling and he was a sh*t that played with it, atau percaya pada fakta bahwa kita memang nggak bisa mendapat happy ending seperti dalam drama. Seiring berjalannya waktu, gue akhirnya memang memutuskan untuk let go of everything. Kalaupun gue masih punya perasaan cinta jauh di dalam lubuk hati gue, cukup segitu aja. Karena cinta pertama harus diingat karena itu indah dan membahagiakan, dan gue nggak mau merusak visi itu dengan menyakiti perasaan gue sendiri.

Gue naik ke motor senior dengan penuh percaya diri, karena slot jackpot udah bukan tentang gue lagi, jadi berapa persen kemungkinannya kita bisa ketemu? Oh, gue salah. Gue melihat ke depan, dan gue lihat helm hitam itu. And, damn. I recognized him even before I looked at those eyes, and yeah, I heard that my heart fell with noisy sound that it was broken into pieces again.

Bagian terbaiknya adalah, dia nggak sendirian. Dia bareng pacarnya, dan gue lihat kok dua tangan kurus itu melingkar di pinggangnya. Hal yang nggak pernah gue lakukan saat kita jalan bareng dulu.

Gue kaget, dan gue khawatir kalau hari gue nggak akan berjalan dengan baik lagi. Tapi, setelah menghabiskan semenit untuk meraba-raba, ah, nggak kok. Pikir gue sambil tersenyum lega. Gue sekarang percaya kalau waktu memang bisa menyembuhkan luka, bahkan kalaupun lukanya nggak benar-benar sembuh dan berbekas. Gue benar tentang memutuskan untuk let go sambil menjalani terapi waktu, karena faktanya dia memang sudah berubah sebagai kenangan dan kebetulan. Terapi waktu juga mengajarkan gue untuk terbiasa dengan rasa sakit, jadi gue kehilangan perasaan berdebar-debar yang konyol itu. Gue nggak terluka, dan gue bisa tersenyum.

Kekagetan gue menguap sebagai kekagetan aja, nggak ada perasaan kosong lagi disana. Dan, gue jadi penasaran kemana kebetulan gue yang selanjutnya lagi datang?

Selasa, 09 Juni 2015

Letter From 2015, May 10th

Malam ini gue melewati fase dimana orang menyebutnya teringat pada sang mantan. Gue tiba-tiba kepikiran dia, dan setelah itu gue kirimin dia sms. Ternyata, kita berantem lagi, seperti masa lalu. Lalu, gue tiba di satu fase lagi, dimana orang menyebutnya menyesali masa lalu. Gue teringat kenapa kita berantem, alasan-alasan kenapa gue mutusin dia, kenapa gue bilang nggak bakal bisa balikan lagi sama dia. Dan, kesimpulannya adalah gue sangat brengsek pada masa itu, karena ternyata kemudian gue tiba ke fase lainnya yang dibilang orang adalah menyesali kesalahan.
Apa gue bisa minta pengampunan dari mantan gue itu?
Ada satu saat dimana Gue ngebayangin dia bakal minta balikan, dan gue dengan menahan otak gue untuk mengirimkan kata iya ke lidah gue, menghela napas dengan berat hati dan berkata : I don’t think that we can make it, because I am really messed up and you deserve better.
Tapi, lucu juga kan kalau seseorang dengan sengaja minta rasa sakit yang pernah dia alami itu untuk siap-siap datang sekali lagi? Gue bukan mantan ataupun pacar yang baik, dan dia udah pasti nggak terkesan sama sekali dengan apa yang udah kita lewati.
Gue yang kekanakan, nggak punya pendirian yang tetap. Gue nggak bisa tegas terhadap keadaan gue, apalagi dengan berpikir jernih. Tadinya gue punya banyak hal buat ditulis, sekarang gue kehilangan kata-kata.
Gue akan tiba di fase yang mana lagi? 
Oh, iya. Fase dimana gue berharap gue bisa mengulang waktu dan jadi pacar yang baik buat dia, atau, setidaknya kita bisa beneran balikan.