Kamis, 15 September 2016

Ujian atau Pesan?

September, 2016.

Ini masih pergulatan yang sama sejak waktu memasuki bulan Mei. Namanya juga cita-cita, menolak untuk dipikirpun tetap masih akan terbayang-bayang hingga ke alam mimpi.

Cita-cita yang sudah dipupuk sejak belum bisa mengenal angka, bahwa suatu hari nanti harus jadi penulis, bisa pergi ke luar negeri, Eropa mungkin, keliling dunia, duduk di teras kafe tepi sungai di Belanda, dan menikmati bias tembaga matahari yang terbenam perlahan.

Tapi namanya juga manusia yang membuat impian, beda jika sudah Tuhan yang buat rencana. Kun Fayakun.

Manusia tidak akan pernah tahu kenapa dia harus diuji ketika hendak menjajal mimpinya dijadikan nyata. Manusia tidak akan pernah tahu, kenapa harus ketidakmampuan rizki yang menghalangi paling depan. Apakah ujian untuk tahu seberapa kuat dan sungguh-sungguhnya kita hendak memetik bintang, ataukah pesan bahwa Tuhan mau kita berhenti.

Sama tidak tahunya seperti ketika Tuhan menambahkan Orang Tua bersama dengan hambatan Rizki itu.

Kalau sudah begitu, seberapa kuat menahan sakit?

Ibu...

Kenapa ibu yang harus menahan dan mengempiskan cita-cita itu?

Kalau sudah begini, apakah harus melawan tembok atau menyerah?

Lagi-lagi, karena tidak tahu apakah sakit batin adalah ujian atau pesan Tuhan agar berhenti.


-Belum Selesai