2016, Februari Kosong Sepuluh.
Ini adalah surat pertama yang aku tuliskan, dibawah tekanan rasa rindu yang kau sumbat seperti tutup keran air.
Aku membencimu sampai ke tulang-tulangku.
Apa kabar?
Berapa jam perjalanan yang kau habiskan kemarin, untuk menghitung berapa kilometer perjuangan memisahkanmu dari hiruk pikuk kota yang runtuh itu?
Aku melihat mendung saat merasakan penyesalan itu menabrakku, tapi sudah cukup aku menjelaskan diriku sendiri sampai mulutku berbusa.
Tidak akan pernah ada pengertian itu, bahkan sekalipun kamu memaksakannya.
Aku mengutukmu sampai ke sel-sel tubuhku.
Rindu ini adalah nanah dari luka, saat aku menikam kita dengan emosi kekanakan yang meraja. Kenapa tidak memilih orang lain untuk kau buat jatuh cinta? Sebelum kau hempas dengan pilihan lain yang lebih indah.
Aku, ah, aku ingin sekali memakimu diantara kekhawatiranku yang selalu menggunung.
Aku ingin mencekikmu, agar kamu kehabisan napas, sama sepertiku setiap malam.
Tapi, kalau aku semakin membencimu, aku akan semakin mencintaimu. Lebih baik membiarkan luka ini terparut habis sendiri, sampai aku tidak merasa penasaran lagi.
Jarak kilometer yang belasan itu bukan urusanku. Kau kembali bulan depan juga bukan, karena bisnis perasaanku sudah selesai sembari aku menghapus setiap spasi percakapan itu hingga lenyap.
Kita bukan apa-apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar