Rabu, 29 April 2015

Luka Pertama, 2013


Jalanan itu selalu sama, basah dan tergenang setelah hujan deras tumpah dari langit pada malam sebelumnya. Anak-anak kecil itu pun, masih tetap melaluinya seperti biasa. Tidak khawatir celana mereka akan basah terciprat air, atau mereka bisa saja terjatuh ke dalam genangan air itu.

Tidak pernah ada yang berbeda, kecuali fakta bahwa aku hanya berjalan sendirian dan hal itu memberikan perasaan yang berbeda, dibandingkan dengan saat terakhir kali aku melewatinya. Dan, disinilah aku mulai kembali mengenang. Memangnya, siapa yang tahu kapan ingatan itu akan datang dan memeluk kita dari belakang dengan dingin?

Luka yang aku sebut cinta.
Luka yang semua orang sebut cinta. Musim semi dan bunga matahari, bukanlah frasa kata benda yang menggambarkan kita dengan tepat. Frasa kita berbeda. Maksudku berbeda.
Aku tidak tahu awal semuanya adalah ketika aku harus berkutat dengan secarik lembar ujian dan pensil 2B yang ingin kubuang saja keluar jendela pagi itu. Ah, aku lelah dengan ujian, dan segala aturannya. Aku habiskan dua belas tahun, bukan untuk menghadapi satu ujian lagi dan memaksa otakku bekerja.

Kenapa saat itu aku harus mendongak? kenapa kamu harus melintas di depanku? Kenapa hal yang kita sebut takdir itu, menempatkanmu di deretan tempat duduk yang sama denganku? Karena itulah, ia disebut takdir. Aku tersenyum sendiri, tanpa sadar apa yang sedang menungguku di kemudian harinya. Sesederhana itu, aku sudah jatuh cinta.
Aku kelewat ingat rambut hitam lebat berpotongan seperti jamur saat itu, sehingga lupa bahwa orang berambut cepak yang selalu menyapaku di kelas setiap pagi berbulan-bulan setelahnya adalah kamu. Kapan kamu mengubah gaya rambutmu?

Aku kesal mengetahui, bahwa aku agak terlambat menyadari saat itu kamu sedang memperbaiki sebelah hatimu untuk orang lain. Aku menyembunyikan kesedihanku sendirian saja, dan membiarkan semuanya berjalan normal saat kamu mendekat. Aku cukup pandai berakting, bukan?? Aku masih tidak percaya kita bisa saling berbagi senyuman, lelucon, bahkan kemarahan terbesar kita. Seperti anak-anak, yang akan berbaikan dengan sendirinya lalu bermain bersama lagi. Kita habiskan berjam-jam duduk di teras rumahku bercerita tentang hal sepele dan tertawa, seperti itu adalah hal terkonyol yang pernah kita dengar.

Aku ingat bagaimana aku menangis cukup lama seperti seorang anak kecil, saat kamu marah karena aku tidak mengenali suaramu di telepon. Salah siapa kamu tidak memakai nomor ponselmu sendiri? Aku tertawa setelah kamu menelepon kembali dan mengomel. Kamu tahu apa film Korea yang akan selalu aku sukai?? Hello Ghost. Apa kamu menontonnya juga? Jika ingatanku benar, kamu bilang bahwa kamu memang menontonnya juga, pada malam saat kamu memberiku flashdisk berisi film itu dan menyuruhku menontonnya. Aku menangis, saat filmnya akan berakhir.

Aku juga akan selalu menyukai biskuit Oreo Cokelat, seperti aku menyukaimu. Hal yang paling aku tunggu adalah ketika kamu mengetuk pintu, dan muncul sambil menenteng sekotak martabak atau pura-pura mengomeli sakit gigiku tapi malah menyimpan sebungkus Oreo dalam tasmu.

Tidak pernah ada ikatan bernama persahabatan, antara pria dan wanita. Tapi, aku berpikir kamu mungkin percaya hal itu, mengingat bagaimana kamu memperhatikanku tapi tidak pernah menyinggung tentang perasaan. Setelah semdirian, aku berpikir betapa aku menyukai kamu dan kamu malah membutuhkanku sebagai seorang teman. Mungkin karena aku yang kelewat baik?? Aku tidak berani menarik kesimpulan bahwa kita merasakan debaran cepat yang sama, jadi lagi-lagi aku memilih diam dan membiarkan waktu saja terus berjalan. Tapi, siapa yang bisa menjamin aku tidak menjadi egois seiring waktu? Semakin ingin dekat, semakin ingin, dan semakin ingin.

Aku tersadar, ternyata kamu bertindak melampaui posisimu sebagai seorang teman. Kamu tahu bagaimana rasanya diperlakukan istimewa oleh seseorang yang disukai?? Gaji pertama, morning call, bahkan goodnight message. Terlalu menyenangkan. Kamu tahu bagaimana rasanya jika orang yang kita sukai bahkan tidak pernah mengatakan apa-apa tentang itu?? Menyedihkan. Lebih buruk, daripada merasa dicekik. Aku bahkan lebih sulit bernapas, daripada seorang penderita asma. Kamu kemudian pergi karena kita terus berbeda pendapat, dan aku melanjutkan berjalan di jalanku sendirian. Aku menahan tangisanku, dan berpikir apa kamu tahu luka seperti apa yang sudah kamu buat untuk kurasakan sepanjang hidupku?? Kenapa kamu masih ingin tahu, aku dekat dengan siapa?? Siapa pacarku? Atau, bagaimana kabarku?

Kenangan tidak selamanya indah, dan mencekik seperti mimpi buruk. Belajar mencintai jauh lebih mudah bagiku, daripada belajar untuk melupakan. Pada malam saat aku sangat merindukanmu, aku berpikir untuk mengirimimu pesan singkat dan secara mengejutkan kamu sudah mengirimiku pesan singkat lebih dulu. Ada apa dengan kita? Aku tidak tahu berapa lama waktu yang terlewatkan, hingga aku jatuh cinta lagi. Aku tidak ingat dengan jelas, apakah rasanya sama seperti ketika aku selalu gugup di dekatmu atau tidak. Tapi, aku akhirnya bisa membuktikan, bahwa sudah cukup mudah bagiku untuk mengenangmu sambil tersenyum.

Aku berada di jalan yang lurus, menuju masa depanku. Aku pikir apa yang tertinggal di belakang, itulah yang telah tertinggal selamanya. Tapi, aku keliru. Kamu membuat ponselku berdering lebih awal pada suatu hari, dan pagiku mendadak berduka. Aku jelas tidak percaya mendengar apa yang kamu katakan di ujung telepon, dan marah karena kita ternyata berada dalam situasi yang tidak aku inginkan seperti itu. Aku mendengar pengakuan mendalam yang manis itu dengan suara paraumu yang tidak biasa, dan juga tentang penyesalanmu karena kamu bukanlah orang pertama yang menggenggam tanganku. Aku tahu pipiku basah dengan segera, dan itu adalah respon pertama yang paling masuk akal sebelum akhirnya kemarahanku muncul. Secuil kemarahan yang lembut. Kenapa kamu baru mengakuinya? Kenapa kamu mengujiku dengan membuatku menunggu? Kenapa kamu ragu untuk mencoba denganku sebelum ini? Kamu memiliki luka masa lalumu sendiri, tapi itu bukan jawaban yang ingin aku dengar atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Ketika aku menekan tombol merah ponselku dan mengakhiri dialog kita, aku tahu aku harus menahan luapan perasaan yang aku pikir sudah kukuburkan dengan tenang itu untuk bangkit kembali. Aku sudah berada di jalanku sendiri yang lurus dan benar dengan debaran jantung untuk orang lain, dan tidak masuk akal jika aku harus berbalik kembali hanya untuk menyambutmu yang tertinggal jauh di belakangku. Kita tidak boleh melanggar aturan lagi, atau kita pasti akan terluka dua kali. Hidup hanyalah sesederhana keputusan-keputusan berat yang kita buat, sayang. Aku memutuskan untuk tidak menoleh kebelakang, walaupun kita punya kelewat banyak hal untuk dikenang. Jangan khawatir, aku akan selalu menyukai Hello Ghost dan semua hal yang aku sukai karenamu. Tidak ada rasa sakit, saat aku bersentuhan dengan itu semua. Aku juga masih suka mendengarkan Payphone, seperti saat aku mendengarkan lagu itu sambil menunggumu datang pada malam-malam yang kamu janjikan.

“ Apa kamu tidak bisa mengerti sinyal yang aku kirimkan?? ”

“ Aku lebih percaya, apa yang akan kamu katakan secara langsung. Kamu bahkan tidak pernah menyinggungnya. ”

“ Meskipun aku tidak mengatakannya, kamu seharusnya tetap mengerti. ”

“ Aku sangat mengerti, tapi aku takut jika itu hanya khayalanku saja. Bahwa kamu juga menyukaiku. Bagaimana mungkin, kita bahagia untuk sesuatu yang tidak jelas?? ”

“ Ternyata, batas kesabaranmu hanya seperti itu. Kamu tidak bisa menunggu. ”

“ Kamu tidak akan pernah mendapatkan wanita, yang mau menunggumu sangat lama sepertiku. ”

Dan, disitulah ingatan terbaikku tentang kamu berakhir.
Kita hanya akan terus saling mengenang, seperti dedaunan gugur yang tidak akan kembali tumbuh di tempat yang sama...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar