Senin, 04 Mei 2015

Flashback, When There Is Nothing To Look At.


Kamu tahu, hal apa yang membuatku tertawa hari ini?
Kita duduk disini, menunjuk ke langit seolah-olah kita bisa untuk mencapainya, membicarakan tentang sajak burung-burung yang pulang ke sarangnya saat senja tiba, lalu kemudian lukisan tentang masa depan itu seperti terpampang begitu saja di depan kita...

Ah, kita masih sangat muda waktu itu, sehingga aku pikir tidak apa-apa jika membelakangimu sebentar saja, atau berpindah ke bawah langit yang lain untuk semenit saja. Ternyata, kabut kemudian mengaburkan jejak-jejak kemana kita harus kembali bertemu, jadi aku hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya...
Agar kamu bisa meraihku. Lalu, aku mulai menyusuri jalan setapak itu, sambil mengenang kembali luka yang kedua.

Crooked
2013 , Desember – 2014 , Februari
“ …putus, setelah berpacaran selama dua tahun. ”
Itu apa yang aku dengar, pada suatu sore saat aku dan beberapa senior kampus sedang berkumpul dan mengobrol. Aku terdiam, tidak menanggapi.
 
Aku tidak pernah mengerti, kenapa setiap pasangan yang sudah menghabiskan tahun-tahun mereka bersama akhirnya harus berpisah. Bukankah jika si wanita dan si pria baik-baik saja, maka semuanya pasti akan baik-baik saja? Tidak peduli berapa lama mereka larut dalam sebuah kemarahan, mereka pasti akan kembali menjadi baik-baik saja. Semakin lama waktu dihabiskan bersama, maka pasti akan menjadi semakin dekat. Aku habiskan sepanjang malam untuk berpikir mengenai itu, dan menyimpulkan bahwa hanya aku dan hubungan yang akan aku jalani suatu saat nanti yang pasti akan baik-baik saja. Seburuk apapun seseorang itu, aku akan tetap menerimanya karena aku tidak biasa mengucapkan perpisahan. Ini bukan suatu bentuk pembodohan diri karena tidak bisa pergi jika keadaan memburuk dan menyiksaku, tapi aku meyakini apa yang orang katakan akan indah pada waktunya dan selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik. Aku akhirnya bisa mendapatkan jawabannya, dengan cara yang menyedihkan darimu. Aku sudah meyakini hal yang salah selama ini.
 
Aku mengagumimu dengan tersenyum, saat kamu juga tersenyum. Tertawa, saat kamu juga tertawa. Lalu, aku berubah menjadi seorang penguntit. Tidak. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak mengikutimu saat kamu pulang, tapi aku mengintai akun jejaring sosialmu setiap malam. Ini terdengar sangat memalukan karena terlalu jujur, tapi bagaimana aku bisa tahu apa yang sedang kamu pikirkan, sementara aku terlalu malu untuk bicara denganmu?? Aku tahu, orang-orang pasti sudah sering mengatakan bahwa kamu manis. Aku menyebutmu bodoh di depanmu, dan ikut mengatakan kamu memang manis di belakangmu. Di malam kita mendaki bukit beramai-ramai, aku menahan gugup dan meminjamkan jaketku padamu. Sebenarnya, sejak kapan aku merasa begitu??
 
Saat pagi berkabut datang setelah separuh malam tanpa menutup mata, kita berputar-putar berdua, bernyanyi seperti anak kecil diantara orang-orang. Aku nyaris menjerit senang. Aku tidak pernah bernyanyi bersama seseorang, sebelum ini. Aku kelewat senang, karena kita kemudian menjadi lebih sering menghabiskan waktu berdua. Menyukai hal yang sama, mendengarkan lagu yang sama, menonton film yang sama, dan memainkan game yang sama. Lagu kesukaanku, berubah menjadi apa yang kamu dengar. Aku cemburu kamu menyukai penyanyinya yang cantik, tapi aku selalu tersenyum sendiri saat lagunya kumainkan di pemutar musikku setiap malam. Friday juga kadang ikut terdengar, saat kita duduk berdua. Liriknya sederhana dan manis. Kamu tertawa saat menonton para minion, dan aku tertawa melihat kamu tertawa. Kamu menjanjikan kita akan pergi makan es krim berdua, dan kamu memberiku pengakuan itu. Apa kamu tahu, betapa aku merasa kelewat bahagia sampai nyaris menjerit?? Ah, aku merasa kosong, saat menulis ini. Aku merindukanmu. Aku dengar, sekarang kamu memakai kacamata. Apa kamu baik-baik saja?? Tolong, jangan jatuh sakit.
 
Aku tidak tahu, ternyata kita lebih cepat berubah dibandingkan orang lain. Bagian mana dari seorang wanita, yang kamu tidak mengerti? Bagian mana dari seorang pria, yang tidak aku mengerti? Aku belajar menerima sisi dirimu yang ingin sendiri, tapi semakin lama malah menjadi semakin putus asa. Kamu memberiku alasan-alasan yang masuk akal untuk bertahan, padahal aku tahu pasti kamu hanya punya satu alasan yang jujur bahwa kamu bosan dengan situasi kita. Kamu tidak punya sedikitpun perasaan yang tersisa. Tapi, dengan bodohnya aku berharap dan percaya bahwa alasan-alasan yang aku dengar itu memang sungguh-sungguh. Aku larut dalam kekesalan-kekesalanku yang sederhana, sesederhana hilangnya pesan-pesan singkat darimu setiap hari. Kita menjadi seperti orang asing, dan dengan bodohnya aku tetap merindukanmu. Kapan terakhir kali kamu mengatakan selamat pagi sayang, selamat tidur sayang, atau love you?? Apa kamu masih bisa mengingatnya?? Kepalaku nyaris pecah, karena memohon-mohon pada Tuhan agar Ia mau mengembalikan kamu yang dulu. Tapi kamu sudah terlanjur berjalan mundur langkah demi langkah, membuangku tanpa kesepakatan, dan aku tidak tahu siapa yang harus disalahkan.
 
Mungkin aku adalah penjahatnya. Aku kekanakan sejak awal, dan kamu tidak siap dengan itu. Saat aku mau memperbaiki keadaan, kamu sudah memutuskan pergi. Kenapa kamu tidak mau memberi dirimu ruang untuk mengerti?? Aku selalu memberi diriku ruang untuk mengerti, tapi aku mungkin akan selalu menjadi kekananakan jika denganmu. Tidak akan berhasil. Aku berpikir kamu akan mau terus membujuk saat aku marah, dan aku lupa kita dibedakan oleh angka-angka tahun dan bulan. Posisi kita terbalik. Kamu bingung dengan perasaanmu sendiri? Kamu ingin memutar waktu? Kamu menyesal? Apa aku terlalu membebanimu dengan perasaanku? Mendadak, aku merasa asing dengan cinta.
 
Sejauh mana ia mampu untuk menyesatkan seseorang? Atau kita yang mungkin terlalu menjauhkan diri? Bagaimanapun, cinta itu sudah berkabut terlalu tebal sementara aku selalu mencari peluang bahwa semuanya bisa membaik asal kita masih saling memiliki rasa. Kita tidak harus mulai lagi dari nol, sebagai orang asing. Tapi, kamu sendiri bahkan tidak tahu apa harus melakukan apa. Kamu menyerahkan kejelasannya padaku, sementara aku adalah orang yang sedang mencari kejelasan itu. Bagaimana hal yang kita sebut cinta itu, bisa berubah sejauh ini? Aku sampai pada akhir, dimana aku berpikir kamu tidak memandangku lagi sama sekali. Senyuman itu sudah pergi.
 
Kamu akhirnya benar-benar mendorongku, dengan luka dan rasa sakit. Kita sudah berakhir. Aku terus mengulang kalimat itu dalam kepalaku hingga ratusan kali, sampai aku tidak merasa yakin lagi apa yang aku rasakan. Apakah aku merasa lega, sedih, atau malah mati rasa?? Lagu kesukaanku, segera berubah menjadi apa yang tidak pernah kita dengar atau nyanyikan bersama. Aku tidak ingat, kapan terakhir kali aku mendengarkan Friday. Aku terjaga sepanjang malam, dan berganti mendengarkan Crooked hingga tertidur saat malam sudah lewat seperduanya menuju pagi. More Than This adalah gambaran yang tepat, dalam versi nada yang lebih sedih daripada Breakeven atau Blue. Aku berhenti tertawa saat melihat minion, karena aku merasa seperti melihatmu sedang tertawa di hadapanku. Kamu dalam gambaran yang jauh lebih manis. Aku bahkan tidak menyukai minion lagi.
 
Aku menghapus semua tempat, dimana kamu pernah membuat jejak. Aku memilih untuk menutup telinga, menghindar saat ada yang menyebut namamu. Aku memilih untuk segera berlari seperti pengecut, menghindari tempat dimana kamu ada dan tertawa. Aku takut akan segera melompat memelukmu, jika kita bertemu. Apa aku terlalu ekspresif?? Inilah apa yang sering kudengar dengan rasa cinta, yang membuat orang yang dicintai menjadi terbebani. Aku egois, karena tidak bisa melepaskanmu. Kita berada di bawah langit yang sama, dan itu membuat segalanya menjadi lebih sulit. Kamu bahkan membenciku sekarang. Beri aku waktu sedikit lebih lama untuk melakukannya, dan aku berjanji akan melupakanmu hingga pada detail-detail terkecil sekalipun. Ada kelompok manusia yang tidak begitu mendalami perasaannya kepada seseorang, dan aku berada dalam kelompok manusia yang terlalu mencintai hingga malah terlihat menyedihkan. Aku tidak peduli, karena aku bahkan bukan apa-apa di matamu. Tapi, kamu tetap kebanggaanku. Kamu mengajarkan aku, untuk tidak percaya pada siapapun atau apapun. Aku sudah tidak percaya lagi, pada perasaan seseorang atau luka yang orang-orang sebut cinta.
 
Aku kembali pada kesimpulan, bahwa teoriku di awal itu meleset. Hubungan dengan penerimaan penuh, tidak akan berhasil jika tidak berbalas. Tidak ada yang baik-baik saja di dunia ini. Ada titik jenuh, ada titik kesabaran. Cinta, bahkan bisa berubah dengan cepat, jika dia mau seperti itu. Entah sebulan kemudian, atau sepuluh tahun kemudian. Aku akan terus ingat, untuk berhenti mempercayai apapun dan siapapun.
 
Nothing ever lasts forever
 
In the end, you changed.
 
There is no reason, no sincerity. Take away such thing as love.
 
Tonight, I’ll be crooked.

 
The main characters of the movie called this world, is you and me.

 
I used to believe in you. Alone, and I was happy.
 
But like a joke, I am left alone.
 
You used to promise me, with your pinky finger.

(G-Dragon, Crooked)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar