Ada
orang yang suka sama kebetulan, dan ada juga yang nggak. Buat cewek yang suka
nonton drama korea, mereka pasti mengharapkan ada kebetulan dimana pada
saat itu kebetulannya akan berujung takdir menjadi ketemu dengan Mr. Right
mereka. Keluar dari swalayan pada hari berhujan, lalu ada cowok yang menawarkan
payung sambil tersenyum manis dengan poni yang terbang tertiup angin. Siapa
yang nggak mau?
Oh, ada
kok. Cewek yang suka nonton drama, tapi tahu kalau mereka nggak akan pernah
beruntung jadi nggak pernah mengharapkan hal yang aneh-aneh.
Gua
tumbuh menjadi pecinta drama-drama lebay itu, dan berdiri diantara suka sama adanya
kebetulan dan sekaligus benci hal itu. Gue nggak pernah beruntung dengan
kebetulan, karena gue jelek dan nggak bakal lolos casting untuk adegan
romantis, tapi gue suka karena gue itu cewek normal yang nggak mungkin menolak
cowok tampan dengan kibasan poninya (LOL) apalagi kalau dia mirip atau sekalian
benar-benar Cha Taehyun. Dan, tanpa sadar gue selalu berharap ada salah satu
dari kebetulan-kebetulan romantis itu yang datang ke gue.
Dan,
disinilah gue malam ini. Terjebak dengan sisa-sisa kebetulan tadi sore yang
mungkin bakal terbawa sampai ke mimpi gue bermalam-malam selanjutnya.
Hari
ini gue kalang kabut ketika ponsel bongkar pasang 5320 gue berdering, dan itu
adalah telepon dari dosen merangkap sepupu gue yang butuh jasa gratis buat
jagain anaknya. Kebetulan juga gue mau ke kampus buat mengurus SK ujian, jadi
sekalian aja gue iyain. Well, today was really a something. Apalagi, ketika gue
berhasil menidurkan baby itu dalam gendongan, dan dosen-dosen lain nyeletuk
bahwa gue udah BISA. Whatever. Gue tetap masih harus nyari calon bapaknya,
karena nggak mungkin gue mau ijab Kabul buat diri gue sendiri nanti.
Setelah
selesai dengan misi baby sitter itu entah untuk berapa jam, gue segera cabut
ambil sepatu dan bersiap-siap menebeng ke tempat kerja sama senior gue. Dan,
ternyata, dari sudut kota yang lain, ‘kebetulan’ gue sedang bergerak mendekati
koordinat.
Gue udah lama tahu dia udah punya pacar lagi, jauh lebih cantik dan feminim. Kata para teman-temannya, junior gue tapi mereka sendiri juga nggak yakin. Gue lebih-lebih nggak yakin lagi, apa harus percaya pada sugesti kalau cewek itu cuma pelampiasan ketidaktulusannya dia—let’s assume that he didn’t choose me because he knew that I was serious with my feeling and he was a sh*t that played with it, atau percaya pada fakta bahwa kita memang nggak bisa mendapat happy ending seperti dalam drama. Seiring berjalannya waktu, gue akhirnya memang memutuskan untuk let go of everything. Kalaupun gue masih punya perasaan cinta jauh di dalam lubuk hati gue, cukup segitu aja. Karena cinta pertama harus diingat karena itu indah dan membahagiakan, dan gue nggak mau merusak visi itu dengan menyakiti perasaan gue sendiri.
Gue
naik ke motor senior dengan penuh percaya diri, karena slot jackpot udah bukan
tentang gue lagi, jadi berapa persen kemungkinannya kita bisa ketemu? Oh, gue
salah. Gue melihat ke depan, dan gue lihat helm hitam itu. And, damn. I recognized
him even before I looked at those eyes, and yeah, I heard that my heart fell
with noisy sound that it was broken into pieces again.
Bagian terbaiknya
adalah, dia nggak sendirian. Dia bareng pacarnya, dan gue lihat kok dua tangan
kurus itu melingkar di pinggangnya. Hal yang nggak pernah gue lakukan saat kita
jalan bareng dulu.
Gue kaget,
dan gue khawatir kalau hari gue nggak akan berjalan dengan baik lagi. Tapi,
setelah menghabiskan semenit untuk meraba-raba, ah, nggak kok. Pikir gue sambil
tersenyum lega. Gue sekarang percaya kalau waktu memang bisa menyembuhkan luka,
bahkan kalaupun lukanya nggak benar-benar sembuh dan berbekas. Gue benar
tentang memutuskan untuk let go sambil menjalani terapi waktu, karena faktanya
dia memang sudah berubah sebagai kenangan dan kebetulan. Terapi waktu juga
mengajarkan gue untuk terbiasa dengan rasa sakit, jadi gue kehilangan perasaan
berdebar-debar yang konyol itu. Gue nggak terluka, dan gue bisa tersenyum.
Kekagetan
gue menguap sebagai kekagetan aja, nggak ada perasaan kosong lagi disana. Dan,
gue jadi penasaran kemana kebetulan gue yang selanjutnya lagi datang?
Waktu z baca nie (lama mhe, cuman bru smpat komen xD), z terka2 spa yg qo mksud, tp jalan buntu yg d'dapat :p
BalasHapus