CANVAS
.
Min
Yoongi
Son
Hyunee (OC)
.
Romance
.
T
.
Oneshoot
.
Disclaimer
: I Own The Story, Son Hyunee belongs to the owner of the name, Min Yoongi
belongs to BigHit Ent., Bangtan, And Army.
.
.
.
Di atas sehelai kanvas itu,
Son Hyunee si mahasiswi jurusan seni lukis menuangkan semuanya, imajinasinya
yang paling sempurna dalam campuran seluruh gradasi warna menjadi bentuk sebuah
wajah. Dia ingin memenangkan kompetisi nasional itu, tapi bagaimana jadinya
ketika dia sudah terlambat?
.
.
.
01.30.
Begitu yang terakhir Son Hyunee lihat di layar ponselnya,
dan ‘terakhir’ itu sudah lama sekali. Seperti berjam-jam yang lalu. Wanita
dengan kuncir kudanya yang sudah berantakan itu memang terlalu fokus dengan
sisa energinya yang terakhir, tidak peduli kalau rasanya seperti ada batu
seberat dua ton digantung di kedua kelopak matanya, dan seluruh sendi-sendi
badannya yang sudah remuk terus membunyikan sirine tanda bahaya. Bahwa Son
Hyunee sudah seharusnya sedang tidur sekarang, setelah melakukan duduk marathon
selama nyaris tujuh puluh dua jam di dalam sudut studio lukis akademi.
Menjalani hidupnya yang sekarang adalah memang keinginan
Hyunee, karena dia adalah si pecinta keindahan sebuah gambar dari yang paling
konkret hingga terabstrak sekalipun, dan melukis bukannya pekerjaan yang sulit
sama sekali kalau boleh menyombongkan diri.
Hanya saja, untuk sebuah kompetisi nasional, Son Hyunee
tidak mau setengah-setengah dan mengacau. Dia harus menuangkan gambaran
sempurnanya secara penuh tepat seperti yang ia lihat di dalam kepalanya.
Sebuah wajah. Kulitnya seputih porselen, kekuningan
tertimpa cahaya matahari, rambutnya kusut berantakan tertiup angin, hijau mint, hidungnya samar kemerahan seperti
bibir tipisnya yang sempurna, bulu mata tipis memayungi bola mata cokelat yang
bersorot layu, dan sebuah senyum tipis yang nyaris tidak kentara.
Son Hyunee ingin menggambarkan macam-macam ekspresi itu
dengan tepat, dan hal tersebut menjelaskan kenapa dia mau menyiksa dirinya
seperti ini dan sudah berkali-kali merobek kanvasnya sendiri saat tiba pada
titik dimana dia lagi-lagi mengerang kesal karena tidak puas dan harus memulai
semuanya kembali dari awal.
Deadline pengiriman lukisan adalah besok pagi pukul delapan
di bagian kantor layanan umum akademi.
Son Hyunee berhenti saat dia sudah akan menggambar bola
mata wajah lukisannya, karena itu adalah bagian yang selalu membuatnya gagal
karena penggambarannya tidak pernah tepat. Dia memutuskan untuk lebih baik
berhati-hati kali ini, dan mengambil jeda sejenak selagi mengembalikan moodnya
agar kuasnya bisa diarahkan seperti apa yang otaknya mau.
Satu-satunya hal yang bisa membantu Hyunee melakukannya
adalah sekaleng kopi dari kulkas mini di dalam studio dan sedikit hembusan
angin di atap gedung tiga lantai tersebut. Langit tampak sepekat kopi Hyunee, tapi
hembusan angin dinginnya menyegarkan sesuai harapan dan Hyunee terhibur dengan
lampu-lampu bangunan yang bisa terlihat dari tempatnya.
Tapi kesenangan Hyunee juga harus mengalami jeda bahkan sebelum
sempat dimulai secara penuh, saat wanita itu melihat siapa yang sedang tidur
terlentang sekarang di atas satu-satunya bangku besi panjang yang ada di atap
itu dengan satu tangan melintang menutupi mata.
Hyunee menelan ludah, terpaku di tempatnya dengan pandangan
yang tidak bisa dialihkan ke tempat lain.
Kebetulan yang tidak pernah
dia pikirkan…
Tangannya jadi lebih kuat memegang kaleng kopi.
Selama lebih dari setahun ini, debaran jantungnya masih
sama. Membuat panik dan kelewat bersemangat. Sama seperti mimpi dan
kecintaannya pada warna dan cat, Hyunee juga memiliki perhatian penuh dan
kegugupannya pada satu hal lain. Seseorang.
Seniornya di akademi seni, yang selalu hidup dalam dunianya
sendiri dan tidak pernah bisa Son Hyunee pahami selain dia hanya sesekali saja
tersenyum dan ternyata memiliki deretan gigi kecil lucu yang akan terlihat
jelas saat tertawa.
Ah, dia paling manis saat tertawa, dan Hyunee merasa sayang
sekali karena pernah melihatnya hanya satu kali saja.
Hyunee memutuskan dia tidak punya rencana menetap di atap
lebih lama lagi, terutama dengan keberadaan si cinta diam-diam-nya disana, jadi Hyunee segera berbalik dan dengan
hati-hati melangkah pergi tanpa menimbulkan suara apapun, tidak seperti saat
kedatangannya tadi.
“Tidak usah pergi.”
Son Hyunee segera membeku saat suara mengantuk itu
menahannya.
Apa pria itu baru
saja bicara padanya? Si cinta diam-diam?
Son Hyunee menghitung sampai tiga, lalu berbalik sambil
berusaha tampak normal dengan segala hal ekspresi wajah dan gestur tubuhnya.
Dia tidak mau terlihat aneh, bahkan pada saat dimana dia merasa paling gugup,
jauh melebihi saat dia pertama kali bertemu dokter gigi di usia tujuh tahun
bersama mendiang neneknya.
“Maaf.” Hyunee berharap dia terdengar rileks. “Aku tidak
bermaksud mengganggu Sunbae.”
Min Yoongi yang sudah bangkit itu menggusak poninya malas, menurunkan
kaki dan memperbaiki posisi duduknya agar ada lebih banyak ruang kosong pada
bangku yang tersisa. “Ini tempat umum.”
Hyunee merasa seperti Min Yoongi mempersilahkannya
mendekat, dan Hyunee melangkahkan kakinya dengan mengandalkan pemikiran itu,
mengambil satu tempat di ujung bangku dan berusaha tidak tampak setegang robot.
Dari jarak sedekat ini, Min Yoongi bahkan jauh lebih
sempurna dari penggambaran Hyunee yang sebelum-sebelumnya.
Kulitnya benar-benar seputih porselen, sewarna tembaga
tertimpa bias lampu atap, hidung dan bibir tipisnya yang sempurna tidak tampak
kemerahan dalam keremangan ini, bulu mata tipis itu memayungi bola mata cokelatnya
yang masih bersorot layu, dan wajahnya tanpa sebuah senyum tipis nyaris tidak
kentara yang khas.
Rambut Min Yoongi kusut berantakan tertiup angin, hijau mint.
“Ada yang salah?”
Hyunee tertegun malu, cepat-cepat mengalihkan pandangannya
lurus ke depan. Dia lupa soal pengendalian dirinya, begitu sudah dapat
kesempatan untuk merekam segala hal baik—semuanya—yang
bisa dia lihat.
“M-Maaf.”
“Kau mengatakannya dua kali.” Yoongi menguap sebentar. “Aku
tidak tahu untuk apa.”
Hyunee tersenyum malu. Mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada
kaleng kopi. “Kenapa Sunbae ada disini?”
“Ini tempat umum.”
“Ah, b-benar. Sunbae sudah mengatakannya tadi.”
Tanpa disangka-sangka, Min Yoongi tertawa. Bukan tawa
nyaring penuh energi seperti yang bisa dibayangkan. Suara tawa Min Yoongi hanya
sebuah ekspresi kecil atas kelucuan karena Hyunee mudah sekali dikerjai.
Ringan, lembut, nyaris tidak terdengar. Tapi, wajah Hyunee bisa sampai memanas
karena dia merasa senang dan semakin malu.
“Mungkin kau terlalu banyak minum kopi.” Yoongi melirik
sebentar ke arah kaleng yang masih Hyunee pegang. “Apa yang sedang kau
kerjakan?”
“A-Aku?” Hyunee memberanikan diri untuk menatap Yoongi
lagi. “Sebuah gambar. Sunbae lihat poster kompetisi di majalah dinding itu,
kan? Aku, eh, mengikutinya.”
Yoongi ingat poster warna-warni dengan gambar abstrak
sebuah wajah tersenyum, tulisan-tulisan kecil tentang keterangan lomba dan tema
yang dicetak dalam kapital balok putih besar-besar bertuliskan : Ketulusan yang paling sempurna dan alami,
ada dalam imajinasi paling sederhana. Dan kalau tidak salah ingat,
hadiahnya adalah beasiswa selama dua tahun di akademi seni Paris. Cukup pantas.
“Bagus.” Yoongi merapatkan jaketnya. “Setidaknya kau punya
hal untuk dikejar. Aku hanya bisa terjebak disini karena orang tuaku yang
meminta.”
“Apa maksud Sunbae?”
Yoongi menggaruk-garuk keningnya dengan satu telunjuk, berpikir
sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada Hyunee. “Ayahku punya beberapa
galeri di Seoul. Dia mau aku mewarisinya—saat dia meninggal nanti, tentu saja,
atau saat aku sudah cukup matang dengan pengetahuanku. Dan, hal yang paling
bisa membantunya adalah jika aku bisa belajar di akademi ini.”
“Menjadi pelukis bukan keinginan Sunbae?”
Kening Yoongi sedikit mengkerut. “Kau terdengar terkejut.”
Hyunee tergagap lagi, tapi dia tidak mau menyangkalnya
karena Yoongi benar. Siapa yang bisa memberikan Hyunee percakapan paling penuh ketertarikan
untuknya seperti sekarang? Dengan Min Yoongi.
“Bagaimana dengan semua lukisan
potret saat festival musim panas itu? Cat minyak dan semua gradasi warna yang
Sunbae tuangkan, bagaimana Sunbae mencampur semuanya, bagaimana setiap detail
kecil tampak hidup… Nam Joon Sunbaenim bilang kalau Sunbae adalah orang yang
paling punya masa depan cerah di akademi ini.”
Yoongi tersenyum tipis dalam kerutan tercengangnya. “Kau sepertinya
tahu banyak.”
“Uh, eh… Soal itu, aku…”
Yoongi memiringkan duduknya, bersandar di telapak tangan
dengan lengan menopang kepalanya di atas punggung kursi. Tertarik. “Aku ingat kau… Kau yang terus memperhatikan aku di
sepanjang tahun lalu.”
Wajah Hyunee memerah lagi, dan dia bersyukur karena itu
terjadi pada malam hari jadi Yoongi tidak bisa melihatnya dengan jelas.
“M-Maaf…”
“Tiga kali.” Kali ini senyum Yoongi jadi lebih jelas. “Aku
tidak marah. Hanya saja rasanya sedikit aneh.”
Hyunee balas tersenyum masam.
“Ibuku adalah seorang pelukis kontemporer terkenal di
masanya dulu—masa kejayaan yang masih terus diungkit hingga sekarang, dan
ayahku sudah lama terobsesi dengan pemikiran bahwa dia adalah pengikut Salvador
Dali paling hebat atau sejenisnya. Darah itu diturunkan padaku dalam hal yang
syukurnya baik, dan aku benar-benar menyesal karena tidak mensyukurinya, bahwa
aku mudah bekerja dengan kuas dan kanvas.”
Hyunee ikut memiringkan posisi tubuhnya menghadap Yoongi. “Jadi,
akhir-akhir ini Sunbae sering kemari karena membutuhkan waktu untuk diri Sunbae
sendiri?”
“Kurang lebih, ya. Tapi, ternyata disini dingin sekali.”
Hyunee terkekeh geli.
“Aku ingin jadi produser musik.” Ujar Yoongi lagi,
tatapannya menerawang sebentar. “Aku paling bahagia dan bersemangat, saat sudah
bekerja dengan MK2 yang kubeli dengan uang sendiri bertahun-tahun lalu.”
“Ayah Sunbae menyitanya?”
“Membakarnya—tapi tebakanmu bagus. Jadi, pada dasarnya,
impianku sudah jadi abu.”
Hyunee merasa sorot mata Yoongi yang menembusnya itu
membuat debaran jantungnya makin tidak bisa tenang kembali. “Jangan menyerah. Sunbae
bisa membangunnya kembali setelah lulus dari sini.”
“Tidak. Tapi aku berencana untuk tinggal dulu selama
mungkin, dan membuat ayahku frustasi.”
Hyunee terkekeh lagi, merapikan helaian rambutnya di balik
telinga. “Sedikit pembalasan dapat diterima. Aku ingin tahu bagaimana hasil
dari rencana itu nanti.”
“Pasti akan kuberitahu.”
Keduanya sama-sama tersenyum.
Terlalu menarik. Min
Yoongi dan percakapannya, dan pesonanya… Son Hyunee sampai harus
memperbaiki posisi duduknya lebih dulu, karena mereka berdua tanpa sadar sudah
saling mencondongkan diri sebab semakin menikmati percapakan singkat yang hangat
itu. Dan, kata singkat membuat Hyunee sadar kalau dia harus segera kembali ke
studio untuk bekerja lagi dengan lukisannya.
“Senang bisa bicara dengan Sunbae.” Hyunee berdiri sambil
menyodorkan kaleng kopinya pada Yoongi. “Sampai besok.”
“Ya. Semoga beruntung dengan kompetisimu, Son Hyunee.”
Yoongi tahu namanya?
“T-Terima kasih.” Hyunee menggigit bibir, hanya untuk
menahan diri tidak tersenyum hingga dia meninggalkan atap. “Dah…”
“Sampai besok.” Gumam Yoongi pada dirinya sendiri, lalu
menunduk untuk memperhatikan kaleng kopi dalam genggamannya.
Son Hyunee…
.
.
.
08.30.
Begitu yang baru saja Son Hyunee lihat di layar ponselnya,
dan empat karakter angka itu sudah cukup membuat Hyunee berlari kalang kabut menuju
ke loket kantor layanan umum akademi untuk berakhir dengan kekecewaan karena
deadline pengiriman lukisan sudah lewat jauh dan peluangnya untuk mendapatkan
beasiswa ke Paris sudah menguap seperti embun tadi pagi.
Apa Hyunee bahkan tidak akan dapat sedikit saja kredit
untuk semua usaha yang sudah dia lakukan selama ini?
Ditatapinya lukisan yang sudah dibungkus rapi dengan kertas
berwarna cokelat itu, dan tangisannya kemudian lepas begitu saja bersamaan
dengan tubuhnya yang merosot pelan terduduk di lantai.
Tidak peduli kalau beberapa mahasiswa memperhatikannya
dengan berbagai macam ekspresi. Hyunee kelelahan, mual, dan tidak ada satupun
hal yang bisa membuatnya terhibur saat ini. Impiannya masih harus menunggu
karena dengan cerobohnya dia malah tertidur, dan mengingat hal tersebut membuat
tangisan Hyunee jadi makin kencang saat wanita itu membenamkan wajah di atas
lututnya.
Bagaimana ini…
.
.
.
Min Yoongi berlari.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Min Yoongi
berlari lagi hingga paru-parunya menyempit karena kekurangan pasokan oksigen.
Min Yoongi bukan berlari untuk menghindari satu lagi
pukulan kemarahan dari ayahnya. Tidak. Ayahnya hanya melakukan itu dulu, saat
Yoongi masih belasan tahun dan tampak masih terlalu muda untuk berani melawannya.
Kali ini Min Yoongi berlari karena dia terlalu senang,
makanya dia terus menyunggingkan senyum dan tanpa sempat memikirkan apa-apa menerobos
masuk menjeda penjelasan salah seorang pengajar di depan kelas itu.
“Son Hyunee…”
Hyunee membelalak kaget dan refleks segera berdiri dari
kursinya, sementara para mahasiswa lain mendengungkan keheranan mereka di latar
belakang.
Yoongi menghampiri Hyunee, menarik tangan wanita itu dan
gantian mereka berdua yang berlari meninggalkan area akademi menuju satu tempat
yang ingin Yoongi tunjukkan pada Hyunee di blok seberang. Well, isi tempatnya.
.
.
.
Sebuah wajah yang sempurna. Sorot layu dari bola
kecokelatan itu, alis tebalnya, bulu mata lentiknya, hidung kemerahannya, bibir
tipis yang sempurna, hingga rona merah samar pada pipi yang digoreskan begitu
tepat di atas kulit yang seputih porselen dan sedingin bunga es pada musim dingin
itu. Lebih dari semuanya, helaian kusut tertiup angin itu tampak tersapu indah.
Hijau mint.
Sudah sebulan sejak terakhir Son Hyunee mendapatkan
jackpotnya untuk bicara dengan Min Yoongi di atap, dan tentu saja dia butuh
penjelasan kenapa Yoongi bisa lebih tahu soal lukisannya yang berakhir terpajang
di dinding galeri L’Artist Korea itu ketimbang
dirinya sendiri.
“Saat pertama kali melihatnya—dengan bola mata yang belum
selesai, aku langsung tahu kalau apa yang kau kerjakan tidak sesederhana seperti
kedengarannya.”
Bola matanya belum selesai… Hyunee menggeleng pelan, sibuk
mencerna banyak hal yang memenuhi otaknya dalam sekali serang. Benar juga. Lalu, saat terbangun pagi
itu, lukisannya sudah dibungkus kertas cokelat dengan rapi. Kenapa Hyunee tidak
cepat menyadarinya?
“Sunbae datang ke studio?” Hyunee menoleh ke arah Yoongi di
sampingnya.
“Kau sudah tertidur saat aku masuk.” Yoongi meredam
senyumannya sedikit saat balas menatap wanita itu. “Aku minta maaf. Saat itu
aku hanya berpikir, kalau kau… tidak boleh gagal. Dan, aku benar. Kau tidak
gagal.”
Hyunee terperangah sendiri, dan dia tidak yakin wajahnya
terlihat seperti apa sekarang. Terlalu banyak perasaan yang berkecamuk di dalam
dadanya dan tidak tahu hal apa yang lebih mendominasi.
Yoongi kembali memperhatikan lukisan Hyunee dengan sorot
bangga dalam matanya. “Aku tahu kau benar-benar berbakat, tidak sepertiku, jadi
aku segera membantu menyelesaikan sentuhan akhirnya. Aku tidak bermaksud
membuatmu marah dengan bersikap lancang.”
“Tapi…” Hyunee menggeleng lagi. “Aku melewatkan batas
akhirnya. Aku tidak pernah mengirimkan lukisan itu.”
“Karena aku sudah melakukannya untukmu, Hyunee-ya. Pihak
panitia lomba akan menghubungimu nanti siang.”
Benar. Jelas sekali, melihat sapuan warna dalam bentuk
wajah Min Yoongi ada di hadapan mereka sekarang. Kecuali ada salinannya, sudah
pasti lukisan itu adalah milik Hyunee.
Hyunee semakin pusing. “Lalu, apa yang ada di balik kertas
cokelat yang kubawa-bawa itu?”
Yoongi menoleh pada Hyunee lagi, mengacak-acak rambut wanita
itu ringan dengan senyum selebar yang pertama. “Buka saja nanti saat kau sudah
kembali dari Paris. Anggap saja hadiah kecil untuk keberhasilanmu dua tahun
kemudian.”
Terlalu membingungkan. Semua
perkataan Min Yoongi, dan pesonanya…
“Tunggu… A-Aku dapat beasiswanya?”
“Tsk! Kau lambat sekali mengerti, eoh?”
Beasiswa impiannya…
Hyunee menggeleng sekali lagi, kali ini dengan genangan
yang siap pecah turun dari sudut matanya. Dia berhasil? Benar-benar bukan
mimpi? Terasa seperti mimpi, karena Min Yoongi yang membantu mewujudkannya.
Bagaimana dia akan membalas pria itu?
Min Yoongi berdecak kesal lagi, karena dia tidak tahu
bagaimana menghadapi seorang wanita yang mau menangis. Melihat Hyunee yang
menangis sesenggukan di depan kantor layanan umum mahasiswa pagi itu saja sudah
tampak cukup buruk untuknya.
“Kenapa tidak bilang dari dulu? Aku tidak akan perlu
melewati hari dengan menjadi pemurung dadakan…”
“Maaf.” Yoongi mengangkat bahu. “Karena kau menang, kau
jadi tidak marah padaku karena sudah mengambil tindakan sendiri, kan?”
Hyunee tertawa pelan. “Itu konyol sekali, Sunbae. Tapi,
terima kasih.”
Yoongi kembali mengacak-acak rambut Hyunee ringan, dan
sentuhannya kali ini mengirimkan gelombang kejut listrik ke jantungnya, membuat
Hyunee kembali tersadar bahwa hari ini dia terlibat lagi dengan Min Yoongi.
Cinta diam-diamnya
yang entah bagaimana tampak tidak sejauh yang lalu-lalu. Dia sering tersenyum
dan bicara pada Hyunee.
Lebih dari apapun, Min Yoongi tahu kalau Hyunee bekerja
keras menciptakan Min Yoongi dengan
kuasnya. Memalukan sekali. Hyunee
tidak tahu ini sempat terlihat seperti apa di mata Yoongi, sebelum pria itu
tersenyum senang seperti sekarang.
“Ngomong-ngomong soal wajahku…”
Mampus.
Wajah Hyunee segera memerah dengan cepat, karena Yoongi akhirnya benar-benar
menyinggung soal itu sekarang. Dengan banyak keberaniannya yang menguap pergi,
Hyunee coba membalas sorot mata Min Yoongi sekuatnya.
“Tatapanku seperti apa yang paling ingin kau gambarkan
sampai kau harus gagal berkali-kali?”
Tatapan seperti bagaimana Yoongi melihatnya saat ini…
“Terima kasih.” Gumam Yoongi sebelum Hyunee menanggapi,
terlalu lembut dan manis. “Setelah malam itu, dan hari ini, aku jadi melihat
banyak hal lain yang lebih menyenangkan.”
Hyunee masih belum bisa membuka mulut, karena dia sibuk
dengan rasa gugup dan wajahnya yang semerah tomat.
“Ternyata…” Yoongi tersenyum jahil kali ini. “Kau paling
menggemaskan saat sedang tidur.”
“A-Apa!?”
Tapi, Hyunee tidak dapat penjelasan apa-apa karena Min
Yoongi sudah berjalan meninggalkan galeri lebih dulu. Pria manis itu… Hyunee
segera berlari menyusul Yoongi yang sudah menyusuri trotoar jalan.
“T-Tadi itu, yang tadi itu apa?”
“Yang tadi mana?”
“Sunbae!”
“Aku tidak mengerti.”
“Min Yoongi!”
“Apa katamu? Tidak sopan.”
“Di galeri… Apa tadi kau baru saja merayuku?”
“Kapan aku melakukannya?” Min Yoongi tertawa. “Delusional.”
“Tidak!”
“Ya, kau yang menyukaiku.”
“A-Aku ti-dak—Ya! Kau curang!”
Min Yoongi tertawa lagi, memamerkan deretan gigi kecil
manisnya yang paling Hyunee sukai.
“Lagipula, aku mengejekmu. Bukan merayu. Kau bukan tipeku,
Son Hyunee. Kalau kau tidak bergaya seperti gadis Paris, aku tidak akan
menyukaimu.”
“Kau licik.”
“Kau delusional. Aku tidak merayu siapa-siapa.”
“Dasar menyebalkan!”
Min Yoongi tertawa lagi, untuk pertama kalinya setelah
bertahun-tahun menikmati sebuah perdebatan dengan perasaannya yang paling
ringan dan hangat. Dan, Son Hyunee pikir tidak ada lagi cinta diam-diam hari
itu.
Warna-warna dan sebuah kanvas sudah membantunya dengan
begitu sempurna.
.
.
.
THE
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar