MISSING
Jeon
Jungkook
Kim
Taehyung
Nam
Ji Ah (OC)
T
Romance,
Sad
Oneshoot
Disclaimer
: Ide cerita diambil dari MV Teen Top – Missing, dengan banyak perubahan
seperlunya berdasarkan ide saya sendiri. Casts milik Bangtan, Bighit, dan Army.
A/N
: Please Enjoy This As Your Heart Meal Too. Karena ini Oneshoot dan kurang dari
2k, ceritanya sengaja dibuat sangat sederhana. Boleh dibaca sambil dengerin
House Of Cards Full Length Edition.
Happy
Reading #HearteuSign
.
.
.
.
Sebelum kenal Kim Taehyung, gadis itu adalah
sinar matahari.
Nam Ji Ah.
Jeon Jungkook tidak pernah merasa ada kabut atau
mendung, bahkan pada saat situasi itu benar-benar terjadi di hari-harinya.
Karena Nam Ji Ah hanya perlu tersenyum, lalu dia jadi sinar matahari untuknya.
Hari ini hujan turun dengan lebat.
Sudah sejam sejak Jungkook terjebak di Felipe’s, sebuah coffee shop langganan
dekat rumahnya yang sering dia kunjungi. Rutinitas hari minggu yang biasa.
Bersepeda pagi-pagi sekali di taman dekat sungai Han, lalu mampir di perjalanan
pulangnya untuk membeli segelas Cinnamon
Latte.
Jungkook tidak minum kopi karena dia sangat
peduli soal kesehatan, tapi segelas pahit manis yang masih panas itu adalah
pesanan Noonanya yang begadang karena
harus menyelesaikan deadline lanjutan cerita webtoon yang dia kerjakan, dan
gadis dua puluh enam tahun itu butuh sedikit kafein untuk menopang matanya
sampai pukul sembilan.
Tapi sekarang Jungkook malah harus duduk sabar menatap
keluar jendela, dengan segelas kopi yang sudah mulai dingin di atas meja dan
bayangan kekesalan Jeon Junghee atas keterlambatannya yang menunggu di depan.
Biar saja. Jungkook lebih pilih diomeli dibandingkan harus jatuh sakit karena
nekat menerobos hujan. Dia sudah kelas tiga SMA, dan dia harus mengikuti setiap
kegiatan pembelajaran gila-gilaan yang sudah biasa menjelang ujian kelulusan
nanti.
Jungkook mendesah pelan.
Kapan hujannya akan berhenti? Dia tidak suka
merasa gelisah karena menunggu saat itu.
Tatapan Jungkook kemudian tertuju pada sepedanya
yang terparkir di depan pagar kafe dan basah kuyup. Sebuah sepeda lipat, warnanya merah dan hitam. Jungkook
memilikinya sejak dua tahun yang lalu, tapi kondisinya masih bagus dan
mengkilap seperti baru. Nam Ji Ah juga punya satu, warnanya merah muda dan ada
keranjangnya. City bike.
Selama libur musim panas mereka sering bersepeda
di jalur sepanjang tepi sungai Han, menghitung camar, mengerjakan PR—kebanyakan
tugas jangka panjang lab Ji Ah di kampus dan Jungkook membantunya menggambar, lalu
tahu-tahu matahari sudah terbenam saja sedangkan Ji Ah kemudian masih asyik
tertidur di bawah pepohonan yang rimbun.
Kemarin sore, Jungkook melihat gadis itu naik
motor bersama Kim Taehyung dan anggota gengnya di bawah jembatan sungai Han. Berputar-putar
sambil menyalakan gas tinggi-tinggi hingga motor-motor mereka meraung
menyakitkan, lalu Ji Ah akan menjerit senang sambil merentangkan kedua
tangannya sebelum memeluk pinggang Kim Taehyung erat-erat.
Nam Ji Ah sudah tidak memakai sepedanya lagi dan
jadi gadis manis dengan rok dan sandal jepit seperti yang Jungkook ingat.
Kausnya tanpa lengan, dan celana jinsnya robek-robek. Rambut cokelat panjangnya
yang halus, sudah dipotong sebahu dan warnanya sudah berubah jadi merah gelap.
Saat itu, Jungkook segera membuang muka dan
berlalu dengan sepedanya seperti daun yang pasrah ditiup jatuh oleh angin,
karena walaupun dia marah dan terluka, dia sudah kehilangan mataharinya. Dia sendirian,
patah hati, gelap dan layu.
Apa hebatnya Kim Taehyung itu? Dia tidak pernah
pergi ke sekolah sejak bertahun-tahun yang lalu, suka merokok, badannya penuh
tato, dan dia juga suka memukuli orang-orang tanpa sebab. Kenapa Nam Ji Ah bisa
jatuh cinta pada orang seburuk itu?
“Aku
menyukaimu, Jeon Jungkook. Saaaaangat menyukaimu.”
Kenapa berubah?
Kenapa harus pergi?
Drrrt… Drrrrtt…
Lamunan Jungkook buyar. Dia mendesah pelan saat
mengeluarkan ponselnya dari saku celana, dan matanya dengan teliti membaca
pesan singkat yang baru masuk itu.
Jungkook-ah,
kau dimana sekarang? Aku membutuhkanmu.
Drrrt… Drrrrtt…
Belum sampai dua detik, pesan berikutnya menyusul
masuk.
Aku
tertidur di dalam bathub. Badanku sakit semua, dan aku ingin keluar.
Drrrt… drrrtt…
Aku
bertengkar dengan Taehyung semalam. Dia memukuliku lagi.
Kali ini Jungkook menghela napas berat, memilih
untuk kembali memperhatikan sepedanya.
Hujannya semakin deras.
Kenapa Nam Ji Ah bahkan sampai mau bertahan
disana?
Nam Ji Ah pernah meneleponnya pada satu tengah
malam di musim gugur yang dingin, suaranya serak dan bergetar. Gadis itu hanya
mengatakan halo, tapi Jungkook
seperti sudah tahu keseluruhan ceritanya dengan baik. Tanpa berpikir panjang—tanpa
ingat untuk memakai jaket dan alas kaki—Jungkook segera berlari ke apartemen
kecil Ji Ah.
Pintu apartemen Ji Ah terkunci, dan suara jeritan
histeris saling menyusul dengan suara barang-barang yang dibanting hancur ke
lantai. Dia tidak akan pernah lupa bagaimana rasa panik itu membesar sampai
nyaris meledakkan dadanya sendiri, dan membuatnya cukup berani untuk mendobrak
masuk.
.
.
.
.
“Kenapa
tidak lapor polisi, Noona?” Tanya Jeon Jungkook pelan.
Matanya
merah dan berkaca-kaca.
Di
dalam bathub, Nam Ji Ah duduk basah kuyup dengan kemeja dan celana pendeknya
dalam diam, membiarkan Jungkook berlutut di sisi luar dan mengguyurinya lembut dengan
air hangat dari selang yang berada di dekat bathub.
Dia
baru sadar, kalau hidupnya terlalu menyedihkan sampai butuh orang lain untuk
membersihkan darah dan mengobati luka-lukanya.
Kalau
tidak ada Jeon Jungkook, bagaimana Ji Ah bisa melewati ini?
“Dia
pacarku, Jungkook-ah.” Air mata Ji Ah menetes lagi saat dia bicara dengan
suaranya yang serak. “Aku mau lapor apa?”
“Lalu,
dia tidak boleh jadi penjahat?!”
Nam
Ji Ah tidak menanggapi.
Air
mata Jungkook ikut jatuh juga.
Itu
yang tidak pernah bisa Jungkook pahami dari Nam Ji Ah, ataupun dari orang lain.
Kenapa jatuh cinta menghalangi seseorang untuk melihat sesuatu dengan cara yang
benar? Yang berdasarkan kenyataan. Dan, lebih penting lagi, kenapa Nam Ji Ah
tidak bisa mendengarkannya? Dia tidak akan baik-baik saja dengan semua siksaan
dari Taehyung, dan dia harus menyadari hal itu.
Jungkook
tidak mau melindungi Nam Ji Ah, kalau itu hanya sekedar untuk ada di setiap
rasa sakitnya saja. Tapi, Jungkook tidak bisa melakukan itu, kalau Ji Ah
sendiri tidak mau untuk dia lindungi.
Mana
yang lebih sakit sekarang?
Perasaannya
yang dipatah dua oleh Ji Ah, atau oleh berubahnya gadis itu menjadi kegelapan?
Jungkook
melepaskan selangnya di lantai, dan membelakangi Ji Ah duduk bersandar ke sisi
bathub. Kepalanya terkulai, karena dia mulai benar-benar menangis sekarang.
“Noona…tidak
akan meninggalkannya?”
Ji
Ah ingin menatap ke dalam mata Jungkook, tapi apa yang mau dia cari disana? “Aku
mencintai Kim Taehyung.”
Ah…
Jungkook
sudah pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, dan efek menyakitkannya masih
tetap sama. Hanya saja, mendengarnya malam ini membuat perbedaan untuk
Jungkook. Seperti sugesti untuk kesadarannya, dan itu perih.
Bahwa,
dia sudah harus berhenti berusaha terlalu keras.
“Bagaimana
kalau aku yang pergi?” Jungkook meringis, saat memaksakan diri untuk mengatakannya.
“T-Tidak…”
Ji Ah menggeleng cepat, sementara tangannya mencengkeram lengan kemeja Jungkook
kuat-kuat, membuat laki-laki itu bisa merasakan kepanikannya yang besar.
Pelupuk matanya segera basah tergenang lagi, membuat pandangannya jadi mengabur.
“Jangan pergi. Kumohon. Tidak… Jangan kemana-mana. Tidak boleh kemana-mana…
Hiks…”
“Aku
juga tidak bisa terus tinggal, Noona.” Jungkook memijat keningnya sendiri,
sementara wajahnya terus basah oleh kesedihan.
“Aku
bilang jangan pergi!!!”
“Noona
tidak boleh egois…”
“Bagaimana
kau bisa, hiks, melakukan ini? Kau jahat, Jungkook-ah… Hiks… Kau pernah
berjanji akan selalu ada kapanpun aku membutuhkanmu! Aku tidak punya
siapa-siapa. Aku selalu membutuhkanmu…”
Jungkook
menggeleng lemah, melepaskan tangan Ji Ah darinya tanpa menatap gadis itu.
“Noona
lebih butuh Kim Taehyung…”
“T-Tidak!
Tidak! Jangan begini, Jeon Jungkook… Kumohon… Hiks… Kau tidak boleh menyakitiku
seperti ini…”
Jungkook
menggeleng lagi, mengusap wajahnya yang basah dan berbalik untuk memeluk Ji Ah
seerat mungkin, mengingat segala hal tentang gadis itu untuk yang terakhir kali
sebelum dia akhirnya berdiri.
“Kau
mau kemana? Jawab aku… Kau mau kemana?!”
“Aku…”
Jungkook menghela napas berat. “Aku tidak akan pernah datang lagi, Noona.”
“Tidak
boleh… Jeon Jungkook! Jangan…”
Tapi,
Jungkook tetap menyeret kedua kakinya untuk pergi sambil menginjak-injak
hatinya sendiri, dan suara erangan marah bercampur sedih Nam Ji Ah adalah suara
terakhir yang dia dengar sebelum menutup pintu. Suara yang sudah pasti akan
terus menghantuinya setiap malam.
.
.
.
.
Jungkook mengaburkan ingatannya sendiri, untuk
kembali memperhatikan ponselnya. Membaca ulang pesan-pesan yang Nam Ji Ah
kirimkan, seperti banyak pesan yang juga gadis itu selalu kirimkan kemarin, dua
hari yang lalu, tiga hari yang lalu, seminggu yang lalu, setiap saat. Ji Ah
tidak peduli kalau Jungkook masih sedang berusaha melupakannya, dia tetap akan
menghubungi Jungkook.
Egonya selalu lebih penting.
Sekarang Nam Ji Ah memang masih membutuhkannya.
Jungkook tahu itu.
Tapi, sama seperti city bike yang sudah lama tidak Ji Ah gunakan, perasaannya—dengan
segenap kepedulian untuk menyelamatkan gadis itu—sama sudah lama terlupakan dan
tidak berguna, tidak lebih baik dari sebuah pajangan trofi di dalam lemari
pintu kaca. Karena Ji Ah hanya tahu hanya Jungkook yang selalu ada untuk
membantunya bangkit lagi.
Jungkook menghela napas berat sekali lagi,
kembali memperhatikan curah hujan yang masih jatuh deras di luar kafe.
Setelah kenal Kim Taehyung, Nam Ji Ah memberinya
banyak sekali hujan deras dan angin dingin. Bahkan ketika matahari sedang
bersinar terik membakar kulitnya, Jungkook masih merasa ada kabut gelap yang
mengelilinginya kemanapun dia pergi.
Drrrrt… Drrrrrt…
Kali ini, ponsel Jungkook bergetar oleh sebuah
panggilan masuk.
Nam
Ji Ah.
Mungkin, tidak apa-apa kalau memiliki sebuah
perubahan besar.
Tidak apa-apa, kalau dia punya sedikit kegelapan
untuk hidupnya.
Dia juga butuh untuk belajar tersenyum saat hujan
menjebaknya seperti sekarang, bukan?
Jungkook memutuskan untuk meneguk habis kopi
dingin milik kakaknya—dia bisa memesan satu lagi yang baru saat mau pulang
nanti, sebelum menggeser ikon tombol merah pada layar dengan penuh kemantapan.
Dia tidak akan pernah datang.
.
.
.
.
The
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar